Jayapura (ANTARA News) - Putri pahlawan nasional Frans Kaisiepo, Suzanah Kaisiepo (63) berharap sikap dan jiwa kepahlawanan ayahnya bisa diteladani oleh para generasi muda Papua dalam mengisi pembangunan saat ini.

"Saya berharap para generasi muda Papua bisa mengikuti jejak ayah saya, Frans Kaisiepo, yakni dengan cara sekolah yang tinggi dan bangun Papua," kata Suzanah di Jayapura, Papua, Kamis.

Menurut dia, jejak ayahnya yang bisa menjadi gubernur dan pejuang pada masanya bisa dilakukan oleh anak-anak Papua masa kini dengan cara menjadi guru, dosen, PNS atau pun pekerjaan mulia lainnya.

"Perjuangan dulu semasa ayah saya berbeda dengan saat ini. Anak-anak muda Papua seharusnya bisa melihat lebih jauh ke depan, bagiamana mengisi kemerdekaan ini dengan pembangunan," katanya.

Ia juga berharap pemerintah pusat dan setempat bisa lebih proaktif dalam memberikan wawasan kebangsaan terkait pejuang-pejuang asli Papua yang turut aktif mengusir kaum penjajah di Papua dulu. "Tentunya pemerintah juga harus menulis, mencetak dan memperbanyak buku-buku pejuang kemerdekaan asal Papua," katanya.

Karena, menurut dia, perjalanan sejarah pejuang-pejuang Papua pada zaman penjajahan akhir-akhir ini sudah mulai tergerus dengan waktu dan bahkan cenderung terlupakan dengan kemajuan teknologi. "Kalau tidak diperhatikan secepatnya oleh pemerintah maka tokoh-tokoh pejuang Papua akan dilupakan," katanya.

Sementara itu secara terpisah, pelaku sejarah Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) tahun 1969, Ramses Ohee menilai pembangunan yang ada di Provinsi Papua belum maksimal karena tidak ada komitmen yang kuat dari pemangku kepentingan di wilayah itu.

"Pembangunan di Papua belum maksimal karena pemerintah setempat tidak cakap, kurang peduli dan aktif dalam membangun terutama menghargai jasa dan keteladanan para pejuang," katanya.

Menurut Ketua Umum Barisan Merah Putih itu, seharusnya pemerintah setempat memberikan apresiasi yang lebih kepada para pejuang kemerdekaan asli Papua yang secara langsung bisa menggerakkan dan menumbuhkembangkan rasa nasionalisme untuk membangun Papua ke arah yang lebih baik.

"Nah dengan memberikan perhatian lebih kepada jasa-jasa pejuang asli Papua, perhatikan anak-anaknya, buat patung pahlawan di tempat publik dan cerita perjuangannya. Saya kira dengan begitu generasi muda yang ada saat ini bisa terpacu untuk membangun dengan adanya semangat juang para pahlawan," katanya.

"Saya nilai-nilai kepahlawanan di Papua agak menurun, mungkin kurang publikasi dari pemerintah lewat buku bacaan di lingkup pelajar dan mahasiswa," tambah anak dari Poreua Modouw pelaku sejarah Sumpah Pemuda 1928 itu.
(KR-ARG/S023)