Jakarta (ANTARA News) - Kepala Badan Pusat Statistik DKI Jakarta Nyoto Widodo mengungkapkan bahwa data kemiskinan versinya berbeda dengan yang dimiliki Pemprov DKI Jakarta.

"Kami meggunakan 2100 kalori sebagai angka kemiskinan, berbeda dengan pemprov yang menggunakan KHL," kata Nyoto setelah mengadakan pertemuan dengan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di Jakarta, Kamis.

Dengan menggunakan data berdasar kalori, BPS mencatat ada sekitar 362 ribu penduduk miskin di Ibu Kota. Sementara itu jika menggunakan KHL, Nyoto memprediksikan jumlah penduduk miskin akan lebih banyak lagi.

Biarpun berbeda pandangan, Nyoto mengaku tidak mempermasalahkan hal tersebut. Baik data BPS ataupun data Pemprov DKI keduanya sama-sama benar.

BPS juga tidak akan mengubah data angka kemiskinan yang telah dirilis tersebut. Nyoto mengklaim angka itu sudah sesuai dengan standar internasional yang dianjurkan PBB.

"Kita tidak akan rubah, kedua data tersebut kan bisa saling memperkaya (melengkapi)," ungkap Nyoto.

Saat ini, angka Kriteria Hidup Layak (KHL) DKI Jakarta sebesar Rp1.978.789. Jumlah tersebut lebih tinggi Rp577.689 jika dibandingkan dengan tahun lalu.

(lod)