Jumat, 22 Agustus 2014

ADB-Indonesia setujui kemitraan 2,5 miliar dolar

Senin, 18 Juni 2012 18:26 WIB | 2.270 Views
Jakarta (ANTARA News) - Bank Pembangunan Asia dan Indonesia menyetujui strategi kemitraan senilai 2,5 miliar dolar AS untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan meningkatkan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.

Dalam rilis yang diterima di Jakarta, Senin, ADB menyebutkan, pinjaman ini sesuai dengan komitmen pemerintah untuk melaksanakan pembangunan yang "pro-growth", "pro-job", "pro- poor" dan "pro-environment".

Menurut Wakil Presiden ADB untuk wilayah Asia Timur, Asia Tenggara dan Pasifik Stephen P. Groff, strategi kemitraan yang baru ini lebih menekankan pada pembenahan untuk proyek investasi dan pertumbuhan yang ramah lingkungan.

Strategi ini juga fokus pada bantuan berupa pinjaman maupun non pinjaman di enam sektor yakni energi, transportasi, pengelolaan lingkungan, keuangan, air bersih dan layanan perkotaan lainnya, serta pendidikan.

"Selama lebih dari empat puluh tahun ADB telah menjadi mitra Indonesia dalam melaksanakan pembangunan dan mengurangi kemiskinan. Meskipun Indonesia telah mencatat kemajuan yang mengesankan, masih banyak tantangan pembangunan yang harus dihadapi," katanya.

Strategi kemitraan ADB di Indonesia untuk 2012-2014 disusun berdasarkan konsultasi dengan pemerintah, lembaga-lembaga pendanaan pembangunan yang lain, masyarakat sipil dan sektor swasta.

Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, ADB akan membantu investasi terkait bidang infrastruktur untuk meningkatkan konektivitas dengan pasar dan memperbaiki akses terhadap layanan yang penting seperti energi, air bersih dan sanitasi.

ADB juga bertujuan untuk meningkatkan akses terhadap layanan keuangan dan memperkuat pendidikan kejuruan. Sedangkan di bidang lingkungan, ADB akan membantu investasi untuk meningkatkan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.

Hal tersebut dilakukan dengan memperbaiki pengelolaan daerah aliran sungai dan sumber daya air serta mendorong penggunaan sumber daya kehutanan.

Saat ini sebagai negara berpendapatan menengah, prioritas pembangunan dan kebutuhan Indonesia akan pendanaan melalui pinjaman mengalami perubahan.

Oleh karena itu, ADB harus luwes dan responsif terhadap perubahan kebutuhan akan pinjaman dan konsultasi pembangunan, diantaranya dengan menekankan pada solusi berbasis pengetahuan dan pertukaran praktik-praktik baik di tingkat regional maupun global dalam bidang pembangunan.

"ADB berharap bisa menanggapi agenda pembangunan Indonesia secara inovatif serta melakukan investasi untuk menciptakan pertumbuhan yang inklusif dan ramah lingkungan yang akan membantu memperbaiki kehidupan seluruh rakyat Indonesia," kata Direktur Jenderal ADB untuk wilayah Asia Tenggara, Kunio Senga. (S034/N002)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga