Sabtu, 23 Agustus 2014

Harga minyak turun tertekan kekhawatiran atas Spanyol

Selasa, 19 Juni 2012 04:07 WIB | 2.578 Views
New York (ANTARA News) - Harga minyak turun pada Senin (Selasa pagi WIB), tertekan ketidakpastian atas masa depan Eropa setelah Yunani susah payah melewati pemilu yang bisa mempertahankannya di zona euro, tetapi biaya pinjaman Spanyol melambung ke rekor tertinggi.

Kontrak utama New York, minyak mentah light sweet untuk pengiriman Juli, berakhir di 83,27 dolar AS per barel, turun 76 sen dari tingkat penutupan Jumat.

Di perdagangan London, minyak mentah Brent North Sea untuk penyerahan Agustus jatuh 1,56 dolar AS menjadi menetap di 96,05 dolar AS per barel.

Andy Lipow dari Lipow Oil Associates mengatakan, pasar merasa lega bahwa pemilu Yunani pada Minggu telah menghasilkan potensi negara itu untuk tetap berada di blok tunggal mata uang, tetapi perhatian cepat berpaling ke meningkatnya masalah Spanyol.

Pada Senin, biaya pinjaman Spanyol, atau imbal hasil, pada setiap obligasi 10 tahun negara itu melampaui 7,0 persen, tingkat tertinggi sejak kelahiran euro pada 1999.

Pedagang minyak mengkhawatirkan bahwa Spanyol bisa menjadi negara zona euro berikutnya yang memerlukan dana talangan (bailout) internasional, setelah Yunani, Irlandia dan Portugal.

"Pasar sekarang ingin melihat apa yang negara-negara Eropa akan lakukan untuk mengatasi seluruh situasi di zona euro," kata Lipow.

Analis Commerzbank Eugen Weinberg mengatakan bahwa Eropa "krisis utang negara akan terus mengkhawatirkan pasar untuk waktu yang lama, yang dapat mencegah setiap peningkatan signifikan dalam harga komoditas."

Pedagang minyak juga fokus pada pertemuan dua hari yang dimulai Senin di Moskow antara kekuatan dunia dan Iran atas program nuklirnya diperdebatkan.

Pembicaraan antara apa yang disebut kelompok P5+1 dan Iran gagal pada Senin untuk melangkah lebih dekat dengan terobosan dalam kebuntuan atas program nuklir Iran.

"Ekspektasi yang tidak terlalu tinggi untuk terobosan pada pertemuan ini, dan hasil negatif kemungkinan akan menyuntikkan kembali beberapa premi risiko geopolitik ke pasar minyak," kata Addison Armstrong di Tradition Energy kepada AFP.

(A026)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga