Selasa, 2 September 2014

Ruwatan rambut gimbal dijadikan ajang promosi wisata

Rabu, 20 Juni 2012 18:33 WIB | 6.070 Views
Ruwatan rambut gimbal dijadikan ajang promosi wisata
Ritual pemotongan rambut gimbal oleh pemangku adat di komplek candi Arjuna dataran tinggi Dieng Desa Dieng Kulon, Batur, Banjarnegara, Jateng.(ANTARA/Anis Efizudin)
Banjarnegara (ANTARA News) - Dataran tinggi Dieng, yang termasuk dalam wilayah kabupaten Banjarnegara, Wonosobo, dan Batang, tak hanya dikenal indah dengan pemandangan pegunungan serta kawah-kawah dan danau vulkanik.

Masyarakat yang tinggal di dataran dengan ketinggian sekitar 2.000 meter di atas pemukaan laut yang ada di wilayah provinsi Jawa Tengah itu juga punya adat dan budaya yang unik, salah satunya ruwatan untuk anak-anak yang secara alami berambut gimbal.

Menurut pemangku adat masyarakat Dieng, Mbah Naryono (62), anak-anak berambut gimbal atau gembel itu adalah anak bajang titipan Ratu Kidul, sebutan untuk Ratu Laut Selatan.

"Anak berambut gembel laki-laki merupakan titisan Eyang Agung Kala Dete, sedangkan yang perempuan titisan Nini Ronce Kala Prenye. Mereka adalah titipan anak bajang dari Ratu Samudera Kidul," katanya.

Ia menuturkan, biasanya sebelum rambut gimbalnya muncul anak yang bersangkutan biasanya sakit-sakitan. "Tapi setelah gimbalnya tumbuh semua, anak-anak itu tidak lagi sakit-sakitan," katanya.

Menurut dia, rambut gimbal pada sebagian anak di dataran tinggi Dieng tak bisa sembarangan dipotong. Pemotongan rambut gimbal harus dilakukan melalui upacara ruwatan dan permohonan kepada Tuhan agar sang anak diberi keselamatan dan kesehatan.

"Rambut gimbal itu tidak bisa dipotong sembarangan, harus melalui ruwatan. Kalau dipotong tanpa ruwatan, rambut gimbalnya bakal muncul lagi," katanya.

Upacara ruwatan untuk pemotongan rambut gimbal, lanjut dia, juga harus dilakukan atas keinginan si anak dan orang tua wajib memenuhi permintaan anak berambut gimbal.


Persyaratan

Menurut Ketua Kelompok Sadar Wisata Dieng Pandawa, Alif Faozi, anak-anak berambut gimbal biasanya mengajukan persyaratan kalau rambut gimbalnya akan dipotong.

Persyaratan yang diajukan, menurut dia, berbeda-beda tergantung keinginan "indang" atau makhluk gaib yang mendampingi anak berambut gimbal tersebut.

"Persyaratan yang mereka ajukan di antaranya, penyembelihan kambing gendot dan ada juga anak berambut gimbal yang meminta anting-anting atau giwang emas," katanya.

Namun ada juga anak berambut gimbal yang permintaan cukup berat bagi orang tua mereka.

Alif mencontohkan, seorang anak berambut gimbal dari Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Muhammad Alfarizi Masaid (10) yang memiliki rambut gimbal paling sempurna karena berupa gimbal pari--kecil seperti padi-- .

Rizi--panggilan akrab Muhammad Alfarizi Masaid--, yang menurut Alif disebut "raja gimbal", sampai sekarang belum bersedia mengikuti ruwatan karena persyaratannya belum terpenuhi.

"Rizi minta jika diruwat harus ada pergelaran Reog Ponorogo dan Barongsai. Orang tuanya belum mampu memenuhinya karena biayanya sangat mahal sehingga Rizi belum diruwat," katanya.


Massal

Pemerintah setempat memberikan perhatian khusus pada acara ruwatan untuk anak-anak berambut gimbal di Dieng, yang disebut "negeri para dewa" karena secara etimologi namanya berasal dari kata-kata dalam bahasa Kawi yang artinya tempat para dewa.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjarnegara bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dieng Pandawa akan mendukung kegiatan ruwatan bagi anak-anak berambut gimbal dengan menyelenggarakan upacara ruwatan massal.

Upacara ruwatan massal akan dikemas dalam sebuah festival budaya, "Dieng Culture Festival (DCF) III" tanggal 30 Juni hingga 1 Juli mendatang, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjarnegara, Suyatno

Prosesi ruwatan rambut gimbal akan dilaksanakan pada 1 Juli 2012 di pelataran Candi Arjuna, dan diawali dengan kirab anak berambut gimbal dari halaman rumah Mbah Naryono.

Selain bisa membantu keluarga anak-anak berambut gimbal, festival kebudayaan itu diharapkan bisa menjadi sarana promosi potensi wisata Banjarnegara, khususnya dataran tinggi Dieng.

Rencana ruwatan massal anak berambut gimbal dalam rangkaian kegiatan DCF III itu juga sudah mulai menarik perhatian wisatawan.

Menurut staf Unit Pelaksana Teknis Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Dieng, Alif Rahman, seluruh kamar hotel maupun penginapan di sekitar dataran tinggi Dieng sudah dipesan oleh wisatawan.

Kendati demikian, kata dia, wisatawan yang hendak menyaksikan festival budaya Dieng bisa mengajukan izin untuk mendirikan tenda di kawasan perkemahan yang ada di sekitar Museum Kailasa Dieng.

(KR-SMT)





Editor: Maryati

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga