Ritual pemotongan rambut gimbal oleh pemangku adat di komplek candi Arjuna dataran tinggi Dieng Desa Dieng Kulon, Batur, Banjarnegara, Jateng.(ANTARA/Anis Efizudin)
Berita Terkait
Banjarnegara (ANTARA News) - Dataran tinggi Dieng, yang termasuk dalam wilayah kabupaten Banjarnegara, Wonosobo, dan Batang, tak hanya dikenal indah dengan pemandangan pegunungan serta kawah-kawah dan danau vulkanik.
Masyarakat yang tinggal di dataran dengan ketinggian sekitar 2.000 meter di atas pemukaan laut yang ada di wilayah provinsi Jawa Tengah itu juga punya adat dan budaya yang unik, salah satunya ruwatan untuk anak-anak yang secara alami berambut gimbal.
Menurut pemangku adat masyarakat Dieng, Mbah Naryono (62), anak-anak berambut gimbal atau gembel itu adalah anak bajang titipan Ratu Kidul, sebutan untuk Ratu Laut Selatan.
"Anak berambut gembel laki-laki merupakan titisan
Eyang Agung Kala Dete, sedangkan yang perempuan titisan Nini Ronce Kala
Prenye. Mereka adalah titipan anak bajang dari Ratu Samudera Kidul,"
katanya.
Ia menuturkan, biasanya sebelum rambut gimbalnya muncul anak yang bersangkutan biasanya sakit-sakitan. "Tapi setelah gimbalnya tumbuh semua, anak-anak itu tidak lagi sakit-sakitan," katanya.
Menurut dia, rambut gimbal pada sebagian anak di dataran tinggi Dieng tak bisa sembarangan dipotong. Pemotongan rambut gimbal harus dilakukan melalui upacara ruwatan dan permohonan kepada Tuhan agar sang anak diberi keselamatan dan kesehatan.
"Rambut gimbal itu tidak bisa dipotong sembarangan, harus melalui
ruwatan. Kalau dipotong tanpa ruwatan, rambut gimbalnya bakal muncul
lagi," katanya.
Upacara ruwatan untuk pemotongan rambut gimbal, lanjut dia, juga harus dilakukan atas keinginan si anak dan orang tua wajib memenuhi permintaan anak berambut gimbal.
Persyaratan
Menurut Ketua Kelompok Sadar Wisata Dieng Pandawa, Alif Faozi,
anak-anak berambut gimbal biasanya mengajukan
persyaratan kalau rambut gimbalnya akan dipotong.
Persyaratan yang diajukan, menurut dia, berbeda-beda tergantung
keinginan "indang" atau makhluk gaib yang mendampingi anak berambut
gimbal tersebut.
"Persyaratan yang mereka ajukan di antaranya, penyembelihan kambing gendot dan ada juga anak berambut gimbal yang meminta anting-anting
atau giwang emas," katanya.
Namun ada juga anak berambut gimbal yang permintaan cukup berat bagi orang tua mereka.
Alif mencontohkan, seorang anak berambut gimbal dari
Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Muhammad Alfarizi Masaid (10)
yang memiliki rambut gimbal paling sempurna karena berupa gimbal pari--kecil seperti padi-- .
Rizi--panggilan akrab Muhammad Alfarizi Masaid--, yang menurut Alif disebut
"raja gimbal", sampai sekarang belum bersedia
mengikuti ruwatan karena persyaratannya belum terpenuhi.
"Rizi minta jika diruwat harus ada pergelaran Reog Ponorogo dan
Barongsai. Orang tuanya belum mampu memenuhinya karena biayanya sangat
mahal sehingga Rizi belum diruwat," katanya.
Massal
Pemerintah setempat memberikan perhatian khusus pada acara ruwatan
untuk anak-anak berambut gimbal di Dieng, yang disebut "negeri para
dewa"
karena secara etimologi namanya berasal dari kata-kata dalam bahasa
Kawi yang artinya tempat para dewa.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjarnegara bersama Kelompok Sadar
Wisata (Pokdarwis) Dieng Pandawa akan mendukung kegiatan
ruwatan bagi anak-anak berambut gimbal dengan menyelenggarakan upacara ruwatan massal.
Upacara
ruwatan massal akan dikemas dalam sebuah festival budaya, "Dieng Culture Festival (DCF) III" tanggal
30 Juni hingga 1
Juli mendatang, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjarnegara, Suyatno
Prosesi ruwatan rambut gimbal akan
dilaksanakan pada 1 Juli 2012 di pelataran Candi Arjuna, dan diawali
dengan kirab anak berambut gimbal dari halaman rumah Mbah Naryono.
Selain bisa membantu keluarga anak-anak berambut gimbal, festival
kebudayaan itu diharapkan bisa menjadi sarana promosi potensi wisata
Banjarnegara, khususnya dataran tinggi Dieng.
Rencana ruwatan massal anak berambut gimbal dalam rangkaian
kegiatan DCF III itu juga sudah mulai menarik perhatian wisatawan.
Menurut staf Unit Pelaksana Teknis Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Dieng, Alif Rahman, seluruh kamar hotel maupun penginapan di sekitar dataran tinggi Dieng
sudah dipesan oleh wisatawan.
Kendati demikian, kata
dia, wisatawan yang hendak menyaksikan festival budaya Dieng bisa mengajukan izin untuk mendirikan tenda di kawasan perkemahan yang
ada di sekitar Museum Kailasa Dieng.
(KR-SMT)
Editor: Maryati
COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com