Senin, 28 Juli 2014

Pengembangan pariwisata perbatasan di Belu perlu Rp50 miliar

Jumat, 29 Juni 2012 06:52 WIB | 3.618 Views
Kupang (ANTARA News) - Bupati Belu Nusa Tenggara Timur Joakim Lopez, mengatakan pengembangan kawasan pariwisata untuk pengembangan dan percepatan ekonomi masyarakat di wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste membutuhkan anggaran Rp50 miliar.

"Dana sebesar itu tidak bisa diambil dari PAD dan APBD II Kabupaten Belu, tetapi perlu sharing dana dengan Pemerintah Provinsi (APBD I) dan Pusat (APBN), bahkan dari bantuan luar negeri," katanya di Atambua, Kamis.

Ia mengatakan hal tersebut terkait pengelolaan potensi di daerah perbatasan untuk pengembangan dan percepatan pembangunan dan ekonomi masyarakat.

Selain itu, untuk mengurangi angka kemiskinan dan membuka lapangan kerja baru bagi warga perbatasan, sehingga target percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025, bisa tercapai.

Menko Perekonomian Hatta Rajasa sebelumnya mengatakan pemerintah Timor Leste juga menawarkan kerjasama pengembangan kawasan perbatasan untuk pembangunan infrastruktur, energi, minyak dan gas, transportasi laut dan darat, pertanian dan perikanan.

"Pemerintah Timor Leste mengusulkan dibentuknya `Development of Regional Integrated Economic Approach` di daerah perbatasan antara Timor Leste dan provinsi Nusa Tenggara Timur," ujarnya ketika menjelaskan pokok pembicaraan kunjungan kerja Menteri Ekonomi dan Pembangunan Timor Leste di Jakarta.

Menurut Bupati Lopez, khusus untuk pembangunan pariwisata, pada 2011, pemerintah daerah Belu telah menyelesaikan studi "master plan" potensi-potensi wisata alam dan budaya di kawasan perbatasan.

Ia menyebut ada sejumlah titik obyek wisata di perbatasan yang jika dipoles dan tata dengan baik akan menarik wisatawan baik nusantara maupun asing terutama dari negara Timor Leste.

Obyek-obyek wisata yang dimaksud antara lain Kolam Susu, Pantai Motadikin, Teluk Gurita, Pantai Aufuik, Dermaga Atapupu, Pantai Sukaerlaran, Pantai Pasir Putih, Pantai Motaain (Perbatasan Timor Leste), Air Terjun Lesutil, Air Terjun Mauhalek, Panorama Gunung Lakaan.

"Belu merupakan daerah kabupaten yang memiliki daerah pesisir pantai yang indah dan objek wisata yang menarik, namun lokasinya relatif jauh," katanya..

Untuk ke Belu (dari Jakarta) harus mengambil jalur penerbangan menuju Kupang, ibukota provinsi NTT. Dari Kupang, dapat dilanjutkan melalui darat menggunakan mobil sewa dengan ongkos sewa lebih kurang Rp700 ribu.

"Kalau ingin lebih ekonomis dapat menggunakan kendaraan travel berupa minibus. Kendaraan ini mampu nengangkut 14-16 orang yang berangkat dari terminal antarkota Kupang dengan tarif Rp75 ribu per orang pada pukul 14.00 dan 19.00 WITA setiap hari. Dari Kupang ke Atambua ditempuh selama 6-7 jam," katanya.

Alternatif lain untuk sampai di Atambua (Belu) anda dapat memilih jalur udara melalui Bandara Eltari Kupang menggunakan pesawat berpenumpang 16 orang dengan tarif Rp150 ribuan per orang dengan waktu perjalanan lebih kurang 45 menit.

Jalur ini hanya tersedia dua kali seminggu yaitu hari Rabu dan Minggu dengan waktu keberangkatan menyesuaikan kondisi.

Sepanjang perjalanan baik melalui darat maupun udara kita tetap akan disuguhi pemandangan alam yang berbeda dengan daerah lain di Indonesia.
(ANT-084)

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga