Sabtu, 1 November 2014

Andy Murray, dari tragedi ke tangisan

| 6.931 Views
id roger federer, juara wimbledon, rekor roger federer, grand slam, andy murray
Andy Murray, dari tragedi ke tangisan
Petenis Inggris Andy Murray. (REUTERS/Neil Tingle)
Itulah mungkin alasan mengapa saya tak ingin melihat lagi ke belakang"
London (ANTARA NewsAFP) - Umur si muka pucat Andy Murray saat itu 18 tahun manakala memulai debut Wimbledon-nya pada 2005.

Kala itu dia mencapai babak tiga di mana dia memberi kejutan pada petenis Argentina David Nalbandian sang runner up 2002, setelah unggul pada dua set pertama, sebelum kemudian berbalik kalah lima set.

Namun pertanyaan pertama yang diajukan kepadanya pada jumpa pers setelah dia kalah dari Roger Federer semalam, jauh dari arena Wimbledon yang baru saja gagal dimenanginya itu.

Sang penanya ingin mengetahui kenangan masa sekolah Murray di kota Dunblane, Skotlandia, pada 1996 saat seorang pria bersenjata bernama Thomas Hamilton membunuhi 16 murid dan seeorang guru di sekolahnya itu.

Umur Murray saat itu baru delapan tahun, sementara abangnya, Jamie, yang juga petenis profesional, berumur 10 tahun.

Dia lolos dari tragedi itu setelah bersembunyi di bawah meja kepala sekolah.

"Beberapa saudara dari kawan-kawanku terbunuh. Saya hanya bisa mengenang sebagian dari kenangan di hari itu, seperti suasana dalam kelas musik," tulis Murray dalam otobiografinya, Hitting Back.

"Yang aneh adalah kami mengenal Hamilton. Dia sebelumnya ada dalam mobil ibuku. Sungguh aneh mengingat ada pembunuh dalam mobil Anda, duduk berdampingan dengan ibu Anda.

"Itulah mungkin alasan mengapa saya tak ingin melihat lagi ke belakang.  Sangat tak nyaman mengingat ada seseorang yang kita kenal dari Boys Club.

"Kami biasanya pergi bersama ke klub itu dan bermain. Ketika tahu ternyata dia pembunuh adalah hal yang tak bisa diterima akal saya."

Dengan trauma semasa kecil seperti itu, adalah tak mengejutkan jika Murray yang kini berusia 25 tahun dan baru saja gagal menjadi pria Inggris pertama yang memenangi Wimbledon sejak 1936, menjadi orang yang sulit dibaca kepribadiannya.

Boleh-boleh saja memiliki 20 juta poundsterling hasil dari karir tenisnya, tapi Murray pelit senyuman. Ironisnya sahabat-sahabatnya mengenal dia sebagai si tukang bercanda.

Kadang-kadang ucapannya menjadi bumerang yang hanya membuat orang marah.

Menjelang Piala Dunia 2006, dia ditanyai siapa yang dijagoinya, dan dia menjawab, "Tak ada, kecuali Inggris".

Dan marahlah orang Skotlandia. Dia dituduh tidak patriotis dan tidak sportif.

Setelah mengalahkan Jo-Wilfried Tsonga di semifinal Wimbledon untuk menjadi pria Inggris pertama yang mencapai final turnamen ini sejak Bunny Austin pada 1938 ada wartawan yang mengajukan pertanyaan nyeleneh.

Penanya: "Saya baru menerima telepon dari Bunny Austin bahwa dia lega karena tahun depan tak akan ada lagi yang mau ngomong dengannya. Menurut Anda apakah Fred Perry bisa ngomong lagi tahun depan? Pada Minggu malam ini, menurut Anda apakah Fred Perry akan memberkati kemenangan Anda?"
Murray: "Dia kan sudah mati. Saya nggak tahu."

Penanya: "Dari atas sana dia akan memberkati Anda."
Murray: "Uhm, yah, bisa saja, saya harap demikian."

Namun pada akhir kekalahannya Minggu malam tadi, hati Murray luluh ketika dia jatuh dalam tangisan setelah kalah dari Roger Federer.

Ibundanya Judy dan pacarnya Kim Sears juga menangis saat si muka dingin Andy meninggalkan Centre Court dengan menyandang predikat pahlawan, walah dia kalah. (*)

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga