Jambi (ANTARA News) - Pejabat Pemerintahan Desa Senamat Ulu Kabupaten Bungo mengungkapkan saat ini keberadaan satwa langka khas Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) seperti kambing hutan, rusa dan kijang tidak dapat ditemui lagi.

"Kini sudah tidak ada lagi kita bisa menemukan keberadaan kelompok kambing hutan dan kijang di bentang hutan lindung Bukit Panjang Rantau Bayur (Bujang Raba) di Senamat Ulu tersebut, kini sudah habis dikonversi hingga lebih 30 hektar," kata Rio atau Kades Senamat Ulu, Jefri SPd I di Jambi, Rabu.

Padahal, kata Jefri, hutan lindung Bujang Raba adalah hutan berstatus hutan konservasi sebagai penyangga TNKS.

"Dulu ada banyak satwa langka yang sampai bermain masuk ke kampung kita seperti kijang, rusa, beruang bahkan kambing hutan, datang bahkan berbaur dan bermain dengan ternak warga, kini semua hewan itu sudah tidak pernah lagi terlihat semenjak 2009 lalu Bujang Raba di tebang perusahaan Malaka Agro Perkasa (MAP) dan dua perusahaan grupnya," ujar Jefri.

Sebagai hutan lindung penyangga TNKS satwa-satwa TNKS memang memiliki teritorial sampai ke Desa Senamat Ulu dan 7 desa di sekitarnya, termasuk merupakan teritorial bagi satwa Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumtrea).

Karena terdesak, maka satwa herbivora termasuk kambing hutan lari masuk ke dalam hutan TNKS, sementara predator dan karnivora seperti harimau tidak bisa kembali masuk ke dalam hutan TNKS tersebut karena di dalam telah ada harimau lain.

"Harimau yang memiliki wilayah jelajah sampai 20 kilometer itu terdesak menghadapi dilema yang sulit, jika memilih masuk ke hutan TNKS maka mereka berisiko harus bertarung mati-matian dengan harimau lain yang lebih dulu berada di tempat itu," kata Jefri.

Sementara, tambah dia, jika mereka bertahan atau keluar dari kawasan yang dikonversi maka mereka akan terjebak masuk ke dalam kebun-kebun karet dan sawit milik warga yang berisiko terjadinya konflik dengan manusia.

(ANT-144)