Kamis, 28 Agustus 2014

Harapan itu ada pada Indonesia mengajar

Rabu, 2 Mei 2012 00:16 WIB | 15.435 Views
Kabar-kabar buruk tentang negeri ini, seperti korupsi, kecurangan ujian nasional, peredaran narkoba dan lainnya, seringkali membawa kita pada sikap pesimis. Bisakah negeri yang sakit parah di semua persendiannya ini disembuhkan?

Sejatinya, tidak semua sendi dari negeri ini sakit. Ibarat tubuh, negeri ini juga memiliki banyak persediaan sistem imun yang dapat menyembuhkan sendiri penyakit-penyakit akut di atas.

Harapan itu tentu bertumpu pada masih adanya orang-orang yang mampu menjaga diri dari sikap mementingkan diri sendiri dan rakus. Salah satu harapan itu ada pada program Indonesia Mengajar yang digagas oleh Dr Anis Basweadan yang juga Rektor Universitas Paramadina.

Program yang menjauhkan pelakunya dari hingar bingar uang dan jabatan itu mengajak profesional muda yang sudah memiliki gaji besar untuk mengabdi. Mereka, anak-anak pintar di negeri ini telah memunculkan asa kuat bahwa negeri ini masih bisa menjadi baik.

Kisah-kisah sarjana pilihan lulusan perguruan tinggi terkemuka itu dibukukan dalam "Indonesia Mengajar: Kisah Para Pengajar Muda di Pelosok Negeri" yang diterbitkan oleh penerbit Bentang. Isi buku ini, cukup menarik disajikan saat peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei ini.

Cerita-cerita mengharukan tersaji dari pengalaman para guru muda itu. Guru-guru brilian itu banyak menemukan mutiara, yakni anak-anak cerdas yang "tersimpan" di pelosok-pelosok negeri. Mutiara-mutiara itu tidak pernah tersentuh dan boleh jadi akan hilang kalau tidak terasah.

Simaklah cerita Nesia Anindita, pengajar muda di Bengkalis. Sarjana lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB ini berkisah tentang muridnya Eko Pramono yang temperamental alias ringan tangan terhadap teman-temannya.

Preman cilik, begitu ia berpikir tentang si Eko, sangat tidak suka pelajaran bahasa Inggris. Eko tidak pernah mendengarkan penjelasan guru tentang pelajaran itu dan tidak mau mengerjakan tugas-tugas.

Tapi untuk pelajaran matematika, si Eko jagonya. "Eko mengangkat tangan paling tinggi setiap pertanyaan terlontar dari mulut saya," cerita Nesia.

Jika pelajaran matematika, Eko menjadi anak manis yang jiwa temperamentalnya hilang, meskipun saat itu diejek oleh teman-temannya. Ia tidak pedulikan ejekan itu karena asyik mengerjakan soal-soal matematika.

Rahmat Dandu Andika, pengajar muda di Halmahera Selatan, juga menemukan bocah ajaib, Upi (7), anak kelas 2 SD. Diceritakan, Upi dalam hitungan detik bisa menjawab soal-soal matematika yang diberikan oleh guru lulusan teknik lingkungan dari ITB ini.

Setelah bakatnya diketahui, Upi tak pernah lagi bermanja-manja pada Rahmat dengan meminta berpura-pura diobati lukanya. "Sekarang setiap bertemu saya, ia selalu bilang kasih kita kurang-kurang, tambah-tambah dulu Pa Guruu," kata Rahmat.

Upi rupanya kurang kasih saya orang sekitarnya. Selalu berusaha manja saat bertemu Rahmat.

Terhadap anak muridnya, Rahmat menulis, "Ayo, Upi belajar yang rajin. Kalau Kurdi bilang dia mau jadi dokter, kamu juga bisa bilang mau jadi apa saja yang kamu mau di dunia ini".

Kisah haru tergambar dari perjumpaan guru Erwin Puspaningtyas Irjayanti yang bertugas di Majene, Sulawesi Selatan, dengan muridnya Rizki Ramlan.

Erwin, sarjana teknologi hasil hutan dari IPB dan pernah bekerja di Bank Mandiri ini melukiskan Rizki sebagai anak yang tak tersentuh. Sehabis mengajar anak-anak SD Tamaluppu, Erwin selalu berusaha untuk mendekati Rizki, namun gagal. Rizki selalu berlari setiap "pengintaiannya" diketahui ibu guru.

Hingga suatu ketika Erwin harus menginap di rumah orang di dekat rumah Rizki (9). Malam itu, seusai shalat isya`, Rizki melempar kertas yang sudah diremas ke arah Erwin. Setelah enam kertas remasan itu terlempar, Rizki berlari menjauh.

"Saya membawa kertas-kertas itu. Isinya membuat saya mematung. Coretan soal-soal matematika yang tiga pekan ini kuajarkan pada anak-anak Tamaluppu kelas 4 dan kelas 6," kata Erwin.

Di kertas lain Erwin menemukan coretan soal matematika yang dibuat sendiri oleh Rizki yang 80 persennya jawabannya benar. Padahal semua soal yang ditulis Rizki itu adalah materi kelas 4 dan 6, sementara ia baru kelas 3. Namun sudah tiga bulan Rizki tidak masuk kelas.

"Aku tertegun. Dalam nyala obor, aku menulis di sesobek kertas. Pintar sekali kamu. Sekolah dimana? Kuremas kertas itu, lalu keluar rumah, mencari sosoknya di kegelapan. Aku menemukannya ia sedang mengintaiku dari bawah tangga," cerita Erwin.

Tak berselang lama, surat itu berbalas. Rizki membalas dengan jawaban, "Tidak sekolah. Tidak ada yang diajarnya. Tidak ada gurunya".

Malam itu, Erwin tertidur tanpa sempat menutup jendela. Ketika pagi ia keluar rumah, si mungil Rizki ditemukan terlelap meringkuk di atas bangku bambu. Tangannya menggenggam kertas dan pulpen. Rupanya ia tertidur ketika semalam menanti surat balasan dari bu guru.

Setelah itu, Erwin baru tahu bahwa Rizki sebetulnya sangat ingin sekolah. "Yakkuq meloq massikola," kata Rizki sambil melingkarkan tangannya yang masih menggengam parang di pinggang Erwin. Kalimat itu adalah bahasa setempat yang artinya, "Saya mau sekolah".

Rizki kini telah bersekolah dan menjadi murid Erwin. Komunikasi lewat lempar surat rupanya terus berlangsung. Kali ini Rizki menulis, "Kapan Tamaluppu akan mengalami musim salju seperti di Amerika?" He hee...

Lain lagi dengan Firman Budi Kurniawan, guru di Majene, yang terpaksa menyerah pada kepercayaan masyarakat soal ketidakcocokan nama anak yang sering sakit-sakitan.

Sarjana teknik geofisika lulusan ITB ini tak hanya dianggap pandai ilmu pengetahuan oleh masyarakat di tempatnya mengajar. Melainkan juga dianggap bisa memberi peruntungan dan penyembuhan lewat pemberian nama anak.

Suatu hari ia mampir ke rumah tetangganya yang baru melahirkan. Tak dinyana Firman ditodong untuk memberikan nama. "Kasih nama buat anak ini Pak. Supaya pintar kayak Bapak," kata ibu dari si bayi.

Ia menganggap lucu saja atas permintaan itu. Seminggu kemudian Firman mendapat undangan akikah untuk si bayi. Betapa terkejut dan paniknya Firman karena permintaan nama anak sepekan yang lalu itu sangat serius.

Karena panik, ia meminta waktu masuk ke kamar. Sejumlah pilihan muncul, seperti Annisa Solehah, Kamelia, Maemunah. Bahkan, Juminten juga terlintas di pikirannya.

Sampai akhirnya muncul bunyi tok, tok, tok pada pintu. "Pak Firman, acaranya hampir dimulai," teriak seseorang di luar.

Pada detik-detik terakhir, jatuhlah pilihan pada Putri Salsabila. Malam itu Firman juga didaulat menggunting rambut si bayi bernama "sebening mata air di surga" itu.

Rupanya nama Putri Salsabila bukan akhir dari "profesi" baru Firman. Setelah itu banyak pemintaan mengalir untuk memberi nama. Bahkan ada seorang ibu meminta Firman mengubah nama anaknya, Mizwar, yang sering sakit.

Karena si ibu sangat rewel dengan sejumlah pilihan nama, maka dipilihlah nama Adi Perdana yang tak lain adalah guru Indonesia Mengajar juga, temannya Firman.

"Saat itulah kutetapkan, mulai saat ini jika seseorang meminta saya unuk memberi nama anaknya, akan kuberikan nama semua teman-temanku. Jadi jika mereka suatu saat datang ke dusun ini, saat itulah mereka akan menyadari bahwa Dusun Beroangin dipenuhi dengan nama-nama mereka," kata Firman.

Begitulah. Membaca Indonesia Mengajar, membawa kita pada suasana dan keyakinan bahwa kesembuhan masih ada pada Indonesia ini. (ANT)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga