Rabu, 1 Oktober 2014

Hari-hari "hamil tua" di pabrik gula

Minggu, 6 Mei 2012 23:00 WIB | 11.006 Views
Hari-hari
Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan (FOTO ANTARA)
Jakarta (ANTARA News) - Hari-hari ini situasi pabrik gula kita seperti menghadapi istri yang lagi hamil tua. Musim giling sudah di depan mata. Pertaruhan sedang dibuat: apakah pabrik gula kita masih akan kembali melahirkan bayi yang cacat?

Tahun 2011 dari 52 pabrik gula milik BUMN tinggal 20 parik yang masih baik. Yang 32 dalam keadaan jelek dan jelek sekali. Ada pengamat yang bilang payahnya pabrik gula kita karena mesin-mesinnya yang sudah tua. Pengamat lain mengatakan kondisi payah itu karena manajemennya yang buruk. Ada juga yang bilang penyebabnya adalah tata tanam tebu yang kian sembarangan.

Juga karena harga gula kita yang terlalu murah sehingga petani tebu kurang terangsang untuk maju. Di masa lalu harga gula itu selalu tiga kali lipat lebih mahal dari harga beras. Sekarang harganya hampir sama: padahal menanam padi hanya perlu waktu tiga bulan, sedang menanam tebu memerlukan masa 16 bulan.

Banyak juga yang menyorot payahnya pabrik gula kita karena budaya korupsi yang sudah mengakar dan menggurita.

Yang manakah penyebab sesungguhnya? Dari acara "bahtsul masail" gula di Surabaya, tiga bulan lalu (dilanjutkan dengan pertemuan Banaran sebulan kemudian) diketahuilah bahwa penyebab yang benar adalah: "ya semua itu tadi dijadikan satu".

Karena itu, langkah perbaikannya tidak hanya menggunakan satu jurus. Untuk pabrik-pabrik yang tua telah dilakukan perbaikan dan perawatan yang lebih khusus dari biasanya. Jalur-jalur pipa yang ruwet yang membuat boros uap sudah dibetulkan. Ketel-ketelmyang tidak efisien diperbaiki. Mesin-mesin itu memang masih tetap tua, tapi mesin tua yang dirawat dan yang tidak dirawat tidak akan sama. Lihatlah "Widyawati! Atau Ayu Azhari!"

Di samping itu, penentuan dimulainya musim giling pun kini disepakati tanggalnya. Tidak lagi masing-masing pabrik gula "mencuri start". Di masa lalu pabrik gula berebut mulai giling lebih awal dengan maksud agar bisa menyedot tebu dari wilayah pabrik gula yang lain. Akibatnya ada pabrik gula yang tidak kebagian tebu.

Sedot-menyedot tebu inilah yang membuat lalu-lintas tebu kacau sekali. Tebu dari wilayah barat lari ke pabrik gula yang di timur. Tebu timur lari ke barat. Akibatnya, pabrik gula tidak perlu punya program membantu petani sekitarnya untuk menanam tebu yang lebih baik. Sedot saja tebu dari wilayah yang jauh.

Caranya: memberi subsidi biaya angkut jarak jauh. Korupsi pun terbuka. Tebu dari wilayah sekitar dibukukan dari jauh agar ada biaya subsidi angkut. Akhirnya bisnis angkutan tebu bisa lebih menarik dari bisnis tebu itu sendiri.

Memang ada juga tebu yang lari ke pabrik yang jauh dengan alasan yang rasional: pabrik yang jauh itu bisa memberikan hasil rendemen yang lebih tinggi. Ini bisa diterima akal. Namun harusnya hal itu menjadi bahan koreksi bagi pabrik yang tidak mampu menghasilkan rendemen yang tinggi.

Karena itu di samping menyepakati tanggal dimulainya giling, saya juga membuat keputusan yang lebih mendasar: berikan jaminan rendemen minimal. Masing-masing pabrik gula harus memberikan jaminan kepada petani tebu di sekitarnya: berapa rendemen terendah.

Dengan jaminan rendemen minimal itu tidak akan ada lagi petani yang merasa ditipu pabrik. Rendahnya rendemen yang diakibatkan ketidakefisienan sebuah pabrik gula tidak lagi dibebankan kepada petani tebu. Di mana dosa petani tebu kalau rendemen rendah itu akibat mesin ketel yang tidak efisien? Bukankah itu sepenuhnya dosa pabrik? Mengapa petani tebu harus ikut menanggung?

Kalau yang demikian tidak diatasi, manajemen pabrik akan terus saja sembrono. Tapi dengan diberlakukannya jaminan rendemen minimal, mau tidak mau manajemen pabrik gula akan lebih disiplin. Kalau tidak pabriknya akan rugi karena uangnya habis untuk membayar jaminan rendemen minimal.

Tentu jaminan rendemen minimal itu tidak boleh berdampak buruk. Misalnya membuat petani menanam tebu secara sembarangan. Toh sudah dijamin rendemennya tidak rendah. Memang hal itu mungkin saja terjadi. Tapi manajemen pabrik tidak akan bodoh. Pabrik akan lebih rajin melakukan tes.

Tebu yang akan ditebang akan dites dulu untuk melihat rendemennya. Kini sudah ada alat yang sederhana yang bisa dipakai pabrik untuk melihat rendemen tebu yang akan ditebang.

Rendemen memang persoalan sentral. Tebu yang ditanam tanpa mengikuti standar penanaman tebu yang baik tidak akan bisa menghasilkan gula dengan rendemen yang tinggi. Ini sesuai dengan prinsip bahwa gula itu bukan dibuat di pabrik gula, melainkan dibuat di ladang tebu.

Sebaliknya, jangan sampai terjadi, tebu yang baik tidak menghasilkan rendemen yang tinggi gara-gara pabriknya tidak efisien. Dengan kata lain sikap fair dari pabrik gula sangat diperlukan oleh petani tebu. Termasuk jangan sampai terjadi tebang pilih.

Jangan sampai manajemen pabrik sengaja memilih kebun-kebun milik kerabatnya untuk ditebang pada puncak pembentukan rendemen gula. Sedang milik petani yang tidak punya koneksi ditebang agak awal (saat kadar gula dalam tebu belum tinggi) atau ditebang agak akhir (ketika kadar gula dalam tebu mulai menurun).

Karena itu manajemen pabrik yang disiplin, teliti, fair, dan jujur menjadi andalan untuk memupuk kepercayaan petani tebu kepada pabrik gula. Para direksi PTPN yang membawahkan pabrik gula sudah melakukan pembenahan personalia di pabrik gula. Jajaran manajemen PG sekarang ini sudah siap menghadapi musim giling dengan sikap yang baru: berlaku fair kepada petani.

Yang tidak mengikuti kebijakan baru ini akan terkena sanksi.

Direksi PTPN kini sudah diberi keleluasaan untuk memilih personil yang terbaik untuk memimpin pabrik gula. Tidak lagi terbelenggu oleh aturan lama bahwa untuk memimpin pabrik gula harus sudah pernah menjabat jabatan-jabatan tertentu di berbagai bidang dan jenjang.

Akibat aturan itu seorang kepala pabrik biasanya sudah pada umur yang produktivitasnya menurun. Padahal pabrik gula perlu dipimpin oleh generasi yang lebih muda yang masih bisa tidak tidur dua hari dua malam.

Ternyata, setelah saya cek, peraturan tersebut hanyalah peraturan direksi. Karena itu saya minta peraturan tersebut diubah. Dengan demikian kini direksi bisa lebih banyak pilihan untuk mengangkat seorang kepala pabrik (disebut Adm). Tenaga-tenaga yang potensial di PTPN tidak lagi terlalu lama antre yang ketika antrean sudah dekat usianya sudah terlalu tua.

Keputusan mendasar lainnya adalah: pabrik gula harus memberikan dana talangan kepada petani tebu. Selama ini petani baru menerima uang hasil giling tebunya tiga minggu kemudian.

Padahal, petani-petani non tebu selalu bisa menerima uang begitu hasil panennya diserahkan ke pembeli. Akibatnya petani tebu selalu mencari uang ke pedagang gula dengan segala konsekwensinya.

Dengan keputusan-keputusan baru yang mendasar itu barangkali pabrik-pabrik gula memang akan lebih berat tahun ini, tapi akan berdampak baik tahun depan: petani memperbaiki kebunnya, mereka mulai percaya kembali kepada pabrik gula, dan manajemen pabrik gula kian profesional.

Tentu di musim giling yang segera tiba ini, kebijakan baru itu segera diuji di lapangan. Tapi saya percaya dengan tekad baru seluruh jajaran manajemen pabrik gula saat ini perbaikan yang mendasar itu akan berhasil.

Tahun depan kita kerja, kerja, kerja lebih keras lagi demi Indonesia.

(*Menteri Negara BUMN)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga