Senin, 22 Desember 2014

Industri nasional harus dibenahi jelang "AEC" 2015 - (d)

| 2.003 Views
id industri indonesia, asean community economic, wakil sekum apindo, franky sibarani
Indonesia yang mewakili 50 persen pasar ASEAN akan menjadi sasaran empuk bagi produsen di ASEAN. Daya saing di bidang perbankan, infrastruktur, birokrasi, dan standar kompetensi merupakan persoalan-persoalan klasik yang harus dibenahi pemerintah,
Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah dinilai harus fokus pembenahan dan penciptaan daya saing industri nasional dalam rangka ASEAN Economic Community (AEC) 2015.

"Indonesia yang mewakili 50 persen pasar ASEAN akan menjadi sasaran empuk bagi produsen di ASEAN. Daya saing di bidang perbankan, infrastruktur, birokrasi, dan standar kompetensi merupakan persoalan-persoalan klasik yang harus dibenahi pemerintah," kata Wakil Sekretaris Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Franky Sibarani di Jakarta, Kamis.

Menurut Franky, industri nasional dinilai sudah siap menghadapi AEC 2015 yang tidak terbatas oleh tarif.

"Sektor otomotif, tekstil terutama garmen, perikanan, kayu, karet, elektronik, berbasis agro khususnya kelapa sawit, bahkan IT Indonesia bisa siap dan bersaing," katanya.

Yang rentan adalah sektor jasa pariwisata, kesehatan dan logistik. "Di sini pemerintah harus tegas soal standar kompetensi untuk tenaga profesionalnya," katanya.

Untuk sektor makanan dan minuman, menurut dia, Indonesia masih percaya diri karena menguasai pasar yang besar.

"Tapi tanpa peningkatan daya saing, bisa saja penetrasi pasar terancam oleh industri makanan dan minuman negara ASEAN lainnya. Saingan utama Indonesia adalah Thailand, Malaysia, dan Singapura," katanya.

Sedangkan Ketua Dewan Pembina Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Chris Kanter mengatakan, kesiapan sektor logistik nasional tergantung pada ketersediaan infrastruktur yang memenuhi sesuai kapasitas.

"Selama ini, daya muat jalur angkutan barang ke Tanjung Priok yang seharusnya bisa empat hingga lima kali sehari, hanya bisa satu kali. Hal tersebut membuat biaya logistik membengkak dan ini tentu akan menurunkan daya saing," katanya.
(KR-SSB/E008)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga