Selasa, 21 Oktober 2014

Perairan barat Flores yang "seksi"

| 5.373 Views
id kota labuan bajo, labuan bajo, pulau komodo, wisata komodo, wisata nusa tenggara timur, wisata flores, manggarai barat
Perairan barat Flores yang
Sejumlah ikan berenang di atas terumbu karang yang rusak di Pantai Merah, Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur. (ANTARA News/Imam Santoso)
....turis-turis dari berbagai negara sering berkunjung dan berenang di pantai ini,"

Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (ANTARA news) - Separuh langit di atas Pelabuhan Labuan Bajo masih pekat ketika rombongan pelancong  hendak menumpang dua kapal menuju Taman Nasional Komodo.

Lima menit berselang setelah pelancong terakhir menginjakkan kaki dari bibir dermaga ke anjungan, sang nahkoda segera menyalakan mesin pertanda kapal siap berangkat.

Kapal kayu cokelat berkapasitas 15 hingga 20 orang ini mulai menjauh dari tepi pusat Pemerintahan Kabupaten Manggarai Barat menuju Kawasan Taman Nasional Komodo.

Aroma segar udara laut diterpa angin musim timur melewati celah jendela dari buritan hingga haluan kapal. Angin timur kemudian berhempus membawa ombak ke pantai dan menyapa rerumputan savana di permukaan pulau.

Langit berhias bintang mulai memerah kekuning-kuningan sementara kapal melaju sekitar 15-20 knot membentuk riak permukaan laut.

Rombongan penumpang yang terdiri dari para pelancong Adira Finance dan jurnalis nasional sedang menyeduh kopi, teh, dan sarapan bekal dari Labuan Bajo tatkala mentari terbangun dari tidurnya dibalik bukit pulau Kukusan.

Wajah-wajah kepulauan lepas Pantai Warloka seolah tersenyum menyambut sinar kuning matahari yang jatuh di pasir pantai putih, rumput dan pohon hijau serta batuan metamorf cokelat muda.

Uniknya, sejauh mata memandangi tepian Kepulauan Taman Nasional Komodo, hampir tidak dijumpai pohon Kelapa layaknya vegetasi pantai. Pohon Lontar, Bidara, pohon Asem, dan Bakau menjadi ornamen pengganti mulai dari pantai hingga puncak bukit pulau-pulau.

Persis di utara Pulau Rinca, salah satu pulau besar di Taman Nasional Komodo, terdapat hutan bakau alami yang menjadi hunian kelelawar besar atau Kalong.

"Kalong-kalong itu terlihat sekitar pukul setengah enam sore dan empat pagi," kata pemandu wisata dari Himpunan Pramuwisata Indonesia, Gusty Radung.

Kapal mulai menurunkan kecepatan pada pukul tujuh kurang lima belas menit waktu setempat setelah menghabiskan sekitar dua jam dari Labuan Bajo.

Dermaga kayu Loh Buaya tampak sekitar satu kilometer dari perairan utara Pulau Rinca. Kapal dengan empat ruang kabin ini pun mulai merapat.

"Selamat datang di Pulau Rinca. Pulau seluas 19 ribu hektar ini merupakan salah satu pulau habitat Komodo," kata Gusty.

Kolam renang sedunia

Sekitar dua setengah jam menjelajah Pulau Rinca dan satu setengah jam menapaki Pulau Komodo, rombongan naik ke kapal untuk menikmati keindahan ekosistem karang di Pantai Merah (Pink Beach) Pulau Komodo.

"Pantai Merah disebut juga kolam renang sedunia karena turis-turis dari berbagai negara sering berkunjung dan berenang di pantai ini," kata Gusty.

Seperti namanya, pasir di Pantai Merah berwarna putih kemerah-merahan sehingga dari jauh tampak seperti warna merah muda (pink).

Pasir di Pantai Merah mengandung pecahan butiran-butiran karang merah (Tubipora musica) yang telah mati dan terhempas ombak.

Gusty mengatakan karang merah banyak terdapat di sepanjang Pantai Pulau Komodo, tapi yang paling terkenal dan disebut pink beach hanya lokasi yang terletak di selatan Tanjung Loh Liang.

Garis Pantai Merah hanya sekitar 200 meter dan hanya pantai ini yang termasuk dalam zona kawasan pemanfaatan wisata Balai Taman Nasional Komodo.

Ekosistem karang sepanjang 150 meter Pantai Merah siap menyegarkan mata para pengunjung yang bersedia selam permukaan (snorkeling).

Berbagai jenis ikan seperti ikan Giru (badut), Teri (Bilis), Kerapu, ikan Kalajengking, Lion fish, Angle fish, Platax, dan berbagai jenis ikan lainnya seakan melakukan atraksi di antara terumbu karang berkedalaman hingga lima meter.

Atraksi yang ditampilkan beraneka ikan hias itu tambah meriah saat bintang laut, timun laut, cumi-cumi, dan udang, turut tampil di 'panggung' terumbu karang.

Meski pemandangan di bawah permukaan air makin lengkap dengan rumput laut hijau, sebagian terumbu karang di Pantai Merah tampak patah dan rusak.

"Pada 1990-an banyak karang di sekitar Pulau Komodo yang diambil dengan sehingga terumbu karang tidak sebanyak dulu," kata Gusty.

Balai Taman Nasional Komodo pun menetapkan larangan membuang jangkar bagi kapal-kapal pariwisata yang hendak berlabuh dekat Pantai Merah.

Selain itu, terdapat pula papan pengumuman tentang ketentuan berenang di Pantai Merah. Aturan pada papan itu seperti persiapan peralatan, kewaspadaan cuaca dan gelombang laut, larangan membuah sampah di lokasi, dan mengambil terumbu karang atau fauna setempat.

Agaknya aturan itu tidak mempan bagi para pengunjung. Itu terbukti dari bekas kaleng minuman yang menyangkut di antara blok terumbu.

Pantai Merah hanyalah nol koma sekian dari ribuan kilometer garis pantai di Kabupaten Manggarai Barat yang menjadi magnet bagi para turis ataupun peneliti karena kemolekan flora dan fauna-nya di timur garis Wallace.

Kabupaten Manggarai Barat sendiri merupakan kabupaten dengan jumlah pulau terbanyak, lebih dari 40 pantai, dibanding 19 kabupaten lain di Nusa Tenggara Timur.

Menjelang sore, rombongan pelancong naik ke sekoci untuk kembali ke kapal yang berlabuh sekitar 500 meter dari bibir Pantai Merah.

Dan seperti kata Gusty, para penumpang kapal mendadak takjub manakala ribuan kalong pergi meninggalkan sarang mereka dari hutan bakau di depan Pulau Rinca pada senja.

Sembari menikmati teh panas di anjungan, rombongan beserta kru kapal kembali ke kota berpopulasi penduduk lebih dari 188 ribu jiwa di Kecamatan Komodo.

Sekilometer dari Pelabuhan Labuan Bajo, kerlip lampu kota pada malam berbintang seakan bertanya bagaimana perjalanan kami melintasi perairan Barat Pulau Flores.

(I026)

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga