Jakarta (ANTARA News) - Mazmur berlari kencang, kaki kecilnya yang telanjang menghantam kerasnya tanah. Tubuhnya yang berbalut seragam sekolah usang, menerjang dinginnya udara, melintasi alam Papua.

Dia pun tiba di tempat tujuannya, sebuah bangunan kayu sederhana, yang dicat putih. Letaknya di antara perbukitan Tiom, Lanny Jaya, Papua. Mazmur memasuki bangunan itu.

Puluhan anak-anak sekolah dasar duduk manis dan tenang di dalam bangunan itu, sambil menatap Mazmur yang memasuki bangunan sambil terengah-engah. Raut wajah anak-anak itu tampak penuh harap.

"Teman-teman ... Guru pengganti, belum juga datang," ujar Mazmur kepada puluhan anak itu.

Suasana hening, tampak raut wajah-wajah kecewa karena enam bulan sudah tidak ada guru yang datang untuk mengajar mereka. Lalu Mazmur kembali berkata, "yasudah lah, kita belajar menyanyi saja.." ujarnya.

Kalimat yang sama terlontar dari bibir Mazmur setiap satu minggu sekali, usai menunggu pesawat perintis di sebuah lapangan berumput yang menjadi landasan pesawat.

Dia selalu berharap, bahwa guru akan segera datang untuk mengajar.

Setiap kali pula Mazmur kembali ke kelas dengan kabar yang sama, hening mewarnai ruangan kelas itu. Namun itu tak bertahan lama, karena para murid itu lalu tertawa bersama dan mulai menyanyi dengan ceria.

"Terpujilah wahai engkau, Ibu Bapak guru.. Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku.."

Gambaran miris itulah yang membuka film berjudul 'Di Timur Matahari'. Sebuah film keluarga, produksi Alenia Pictures yang juga merupakan karya sineas Ari Sihasale dengan produser eksekutif sang istri, Nia Sihasale Zulkarnaen.

Alenia Pictures kembali mengangkat film tentang anak-anak dan keluarga. Kali ini tentang perdamaian dan pendidikan, dengan latar belakang Tiom, kabupaten Lanny Jaya, Papua.

Ikatan batin antara Ari dengan Papua inilah yang tampaknya mendorong pria ini untuk kembali membuat film dengan latar belakang budaya serta segala problematika di tanah Papua.

"Saya lahir di Papua, dan melihat realita yang kini terjadi di Papua, saya pun terdorong untuk mengajak masyarakat agar mengenal Papua lebih dekat melalui film ini," ujar Ari pada saat jumpa pers mengenai 'Di Timur Matahari', di Jakarta beberapa waktu lalu.

Anak-anak yang identik dengan kepolosan, keluguan dan keceriaan berhasil direpresentasikan melalui lima karakter anak Papua. Lima sekawan itu adalah Mazmur, Thomas, Suryani, Agnes, dan Yoakim.

Mereka anak-anak yang haus akan pendidikan dan berusaha untuk menggapai cita-cita, namun harus terbentur dalam kondisi dan situasi yang sangat sulit. Keadaan pula yang memaksa mereka untuk menerima kenyataan bahwa sang guru tak kunjung datang.

"Kalian dua hari lalu libur, kemarin libur, sekarang libur, kapan sekolahnya," tanya seorang pekerja tambang bernama Jolex.

"Guru sedang cuti Oom Jolex, katanya cuti selama enam bulan," ujar Mazmur lugu.

Keadaan yang serba terbatas dan kekurangan lantas tidak membuat mereka murung. Keceriaan selalu tergambar dalam keseharian mereka. Film ini juga membuktikan bahwa belajar tidak selalu harus di dalam kelas, dan siapa pun bisa menjadi guru bagi anak-anak ini.

Karena guru yang tidak kunjung datang itulah, lima sekawan ini mencari dan mendapatkan pelajaran dari alam sekitar, serta dari orang-orang yang mampu memberikan mereka banyak pengetahuan. Melalui pendeta Samuel, ibu dokter Fatima, Mikael, bahkan para pekerja tambang seperti Ucok dan Jolex.

Film keluarga ini memang dapat ditonton oleh segala umur dan usia, namun sebaiknya anak-anak tetap didampingi oleh orang tua saat menonton film ini. Sebagai pendamping menonton, orang tua diharapkan juga mampu memberikan penjelasan yang sederhana namun bijak kepada para penonton muda.

Ada beberapa adegan yang menampilkan ketegangan yang mungkin kurang dimengerti oleh anak-anak.

Perang suku, pembakaran Honai, permasalahan adat yang keras sehingga sulit untuk dikompromi, menjadi warna yang kontras bila dibandingkan dengan keceriaan anak-anak yang tergambar pada awal film.

Sulitnya menembus adat istiadat Papua mampu melahirkan perang antar suku, bahkan perseteruan di antara kakak beradik Mikael dan Alex. Alex yang ingin membalas dendam atas kematian Blasius, yang dibunuh oleh penduduk dari suku lain.

"Mikael, ini bukan masalah dendam, tapi ini masalah adat yang sudah ribuan tahun sebelum kamu ada! Gigi ganti gigi, pipi ganti pipi," ujar Alex kepada kakaknya itu saat mereka berdiskusi usai memakamkan Blasius.

Tangis, haru biru, dan ketegangan memang mewarnai beberapa adegan dalam film ini. Namun perasaan itu akan segera teralihkan dengan pemandangan Tiom yang memang mampu memanjakan mata penonton.

Hal inilah yang mungkin ditangkap oleh Ari, untuk menetralisir kegelisahan dan ketakutan yang terjadi saat menonton film berdurasi 110 menit ini.

Perbukitan di Tiom, hamparan padang rumput yang luas, tampak selaras dengan sungai di pinggir hutan. Gambaran yang mungkin Anda sangka hanya ada dalam lukisan, namun ternyata nyata ada di Indonesia.

Mungkin lebih tepat dikatakan bukan hanya sekedar menetralisir kegelisahan dan ketakutan, namun tampaknya Ari juga pintar karena mampu mengambil kesempatan ini sebagai promosi keindahan pemandangan Papua. Cara yang patut dipuji untuk menarik wisatawan.

"Dalam film ini saya ingin masyarakat lebih mengenal Papua, dan apa yang saya suguhkan adalah realita yang sebenarnya," ujar Ari.

Bukan film anak-anak bila tidak mengusung anak-anak sebagai pemeran utama dalam film ini. Lewat film ini, Ari berhasil menghentakkan perasaan penonton melalui keluguan dan kepolosan lima karakter anak Papua.

Dengan santai dan ringan, Ari mampu memberi pesan bahwa anak-anak hanyalah korban dari peperangan. (M048)