Sabtu, 30 Agustus 2014

PTDI percepat produksi pesawat N295

Sabtu, 23 Juni 2012 16:04 WIB | 7.866 Views
Jakarta (ANTARA News) - PT Dirgantara Indonesia (Persero) sudah mempercepat produksi pesawat transport militer menengah CN295 guna memenuhi kebutuhan TNI-AU mengganti Fokker-27.

"Kami ini sudah masuk gigi tiga untuk produksi N295 karena harus mengejar waktu penyelesaian sembilan pesawat sampai akhir 2014," kata Sonny Saleh Ibrahim, Asisten Dirut PTDI Bidang Sistem Manajemen Mutu Perusahaan merangkap Pembina Komunikasi Perusahaan, yang dihubungi dari Jakarta, Sabtu.

Sonny dimintai komentarnya sehubungan dengan pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Rio de Janeiro, Brazil, Jumat waktu setempat atau Sabtu WIB, setelah menyampaikan belasungkawa untuk korban gugur dalam jatuhnya pesawat Fokker F27 TNI AU di Jakarta, Kamis lalu.

Menanggapi pernyataan Presiden itu, Sonny mengatakan PTDI memang sebelumnya sudah mempercepat produksi N295 bahkan sudah 60 personel PTDI dikirimkan secara bertahap ke Airbus Military (dahulu Casa yang melebur ke Airbus Military) di Spanyol.

Langkah percepatan PTDI itu, menurut Sonny, tak hanya terkait pada kebutuhan di dalam negeri, yakni untuk operasional TNI-AU, namun juga sudah ada ikatan bisnis dengan Airbus Military untuk menjadikan PTDI sebagai pusat pengiriman (delivery center) pesawat-pesawat C295 di kawasan Asia-Pasifik.

Sonny menjelaskan, pesawat angkut sedang tersebut untuk penggunaan di Indonesia akan disebut N295 sebagaimana yang diucapkan Presiden di Brazil, namun untuk pemasaran Asia-Pasifik disebut CN295. Untuk penjualan di kawasan lain, tetap sebagai C295.

Berdasarkan kerjasama itu, PTDI mengerjakan komponen-komponen tertentu N295 yang selanjutnya diintegrasikan di pabrik Airbus Military. Setelah empat atau lima pesawat dikerjakan di Spanyol, selanjutnya keseluruhan produksi dilaksanakan di Bandung.

Sonny menambahkan untuk sembilan pesawat yang dibutuhkan TNI-AU, dalam tahun 2012 akan diselesaikan dua pesawat, yang keseluruhan pembuatannya memang masih di Spanyol. Namun target pengerjaan untuk sisa pesanan pertama itu di Bandung sudah akan tercapai pada tahun 2012.

Cocok untuk Indonesia
Sonny menjelaskan, tipe pesawat angkut sedang N295 sangat cocok untuk kondisi geografis Indonesia, khususnya dalam operasi-operasi penerjunan personil yang selama 35 tahun terakhir perannya dilakukan oleh Fokker F-27.

N295 berkapasitas angkut 45 personil, di atas CN235 yang untuk 35 personil, namun jauh di bawah pesawat transport berat C130 Hercules yang mampu membawa 90 personel. Pesawat ini multi fungsi, operasi militer, logistik, kemanusiaan, maupun evakuasi medis

Tingkat kecocokan dengan medan Indonesia itu karena penerjunan pasukan kerap harus dilakukan pada ketinggian rendah mengingat wilayahnya berpulau-pulau, atau wilayah-wilayah perkotaan padat penduduk. "Jika pakai transport berat, maka penerjunnya bisa tercerai berai," katanya.

Pengadaan sembilan N295 untuk TNI-AU ditandatangani Dirut PTDI dengan Kementerian Pertahanan disaksikan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono dan Dirut PTDI Budi Santoso saat Pameran Dirgantara Singapura awal tahun ini.

PTDI menandatangani pengadaan untuk Kementerian Pertahanan tersebut dengan Airbus Military sebagai produsen utama C295. Meski dibuat oleh Airbus Military, C295 merupakan turunan proyek bersama sebelumnya CN235, salah satu jenis pesawat transport terpopuler di dunia.

C295 yang terbang perdana pada 1998 ini pengembangan pesawat CN-235, dengan peningkatan muatan 50 persen dan mengalami peningkatan mesin, menggunakan PW127G baru. Pesawat ini ini butuh landasan sepanjang 670 meter untuk tinggal landas, dan 320 meter untuk mendarat ini.

Pesawat C-295 memiliki tiga varian, C-295M (versi transport militer, kapasitas angkut 48 personel pasukan payung/para, atau 27 tandu, atau tiga kendaraan ringan. Kedua, C-295MPA/Persuader (patroli maritim/anti-kapal selam), ketiga versi C-295 AEW&C (tipe peringatan dini/airborne early warning).

Awak dua orang, daya angkut 9.250 kg, berat lepas landas 23.200 kg, mesin 2  Pratt & Whitney Canada PW127G Hamilton Standard 586-F, masing-masing 1,972 kW. Kecepatan maksimum 576 km/jam (311 knots), kecepatan jelajah 480 km/jam (260 knots, 300 mph).
(E004)

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga