Jumat, 19 Desember 2014

Reklamasi tambang perlu mengalami penyempurnaan

| 7.723 Views
id reklamasi tambang, perbaikan produktivitas, kawasan terdegradasi, pengembangan budidaya
 Reklamasi tambang perlu mengalami penyempurnaan
Ilustrasi - Reklamasi tambang. (istimewa)
Tanpa penanganan yang baik, maka biaya (reklamasi) yang harus dikeluarkan oleh negara untuk mengembalikan fungsi ekologi, sosial dan ekonomi lahan bekas tambang dapat melebihi keuntungan yang diperoleh dari penjualan bahan galiannya.
Bogor (ANTARA News) - Dosen Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Dr Irdika Mansur, M.For.Sc mengatakan kegiatan reklamasi tambang perlu penyempurnaan, karena apabila tidak ditangani baik dapat mengeluarkan biaya lebih besar dibandingkan keuntungan penjualan bahan galiannya.

"Tanpa penanganan yang baik, maka biaya (reklamasi) yang harus dikeluarkan oleh negara untuk mengembalikan fungsi ekologi, sosial dan ekonomi lahan bekas tambang dapat melebihi keuntungan yang diperoleh dari penjualan bahan galiannya," katanya melalui Kantor Humas IPB di Bogor, Rabu.

Ia menjelaskan, pada saat seminar nasional dan pelatihan bertema "Problematika dan Model Reklamasi Tambang Berbasis Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan" di Kampus IPB Dramaga Bogor belum lama ini, dirinya menyampaikan bahwa kegiatan reklamasi lahan bekas tambang di Indonesia terus mengalami penyempurnaan.

Penyempurnaan itu, kata dia, mulai dari reklamasi yang minimum sekedar hijau, menuju hijau, termasuk perlunya memperhatikan kearifan lokal, keanekaragaman, dan produktif.

Menurut dia, dengan teknologi yang tersedia saat ini, reklamasi lahan bekas tambang telah mengarah ke perbaikan produktivitas hutan-hutan yang terdegradasi.

Selain itu, kata dia, juga dikembangkan untuk usaha-usaha budi daya lainya, seperti perikanan, peternakan, dan pertanian.

Ia mengatakan, beberapa contoh lahan bekas tambang yang telah berhasil dikelola untuk pertanian, di antaranya budi daya karet oleh PT Firman Ketaun dan PT Karya Utama Tambang Jaya, kelapa sawit oleh PT Adaro Indonesia, kakao dan buah-buahan oleh PT Berau Coal, dan sebagainya.

(ANT)

Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca