Sabtu, 2 Agustus 2014

Tiada lagi "siesta" bagi orang Spanyol

Selasa, 17 Juli 2012 20:26 WIB | 4.975 Views
Tiada lagi
Ratusan ribu pendukung Tim Nasional Spanyol menyambut juara Piala Eropa 2012, di Madrid, awal bulan ini. Keberhasilan tim sepakbola itu menduduki tahta tertinggi di persepakbolaan Eropa setelah Piala Dunia pada 2010 menjadi sedikit pelipur lara dari kemerosotan habis-habisan perekonomian negara kerajaan anggota Unni Eropa itu. (REUTERS/Javier Barbancho)
Madrid (ANTARA News) - Spanyol, negeri matador, punya "budaya" unik di antara penduduknya; yaitu siesta alias tidur siang. Jika siang menjelang, aktivitas seperti terhenti karena banyak sekali warganya yang beristirahat sejenak berupa tidur siang.

Itu cerita dulu saat ekonomi negara pemenang Piala Eropa 2012 dan Piala Dunia 2010 masih lumayan bagus. Kini tidak ada lagi siesta karena pengangguran dan pajak yang meningkat serta pengetatan anggaran belanja keluarga di seluruh Spanyol tampaknya akan mengakhiri semua "kemewahan" itu.

Waktu istirahat dua-sampai-tiga jam saat tengah hari, dengan tradisi tidur siang selama saat paling panas, dulu menjadi cara universal para pekerja Spanyol untuk menaklukkan udara panas siang hari.

Banyak orang Spanyol masih mulai bekerja sekitar pukul 09.00 dan baru meninggalkan tempat kerja mereka setelah pukul 20.00 waktu setempat. Sebagian untuk memungkinkan mereka memiliki waktu makan siang yang panjang. 

Sementara itu restoran siap melayani mereka dengan menu tiga tahap menu harga pas mulai pukul 14.00 sampai pukul 17.00 waktu setempat.

Namun restoran dipaksa memikirkan kembali harga dan format mereka, sebab para pekerja memilih roti isi, atau membawa makan siang dari rumah.

"Orang menabung sedikit setiap bulan dan itu benar-benar bagus buat anggaran keluarga, sebab sekarang negeri tersebut berada dalam krisis," kata Margarita Pallas, sebagaimana dikutip Reuters, Selasa siang. Ia bekerja di satu toko kecil di Calle Mallorca, Barcelona.

Siesta, tidur sebentar pada siang hari untuk mengatasi sengatan udara panas, praktis telah sirna. Tapi banyak pekerja kantor masih meluangkan waktu untuk makan besar bersama dalam kelompok dan menganggap kudapan saat makan siang kurang sehat dan anti-sosial.

Satu menu khusus dengan harga 12,24 dolar AS di ibu kota Spanyol meliputi dua jenis makanan utama, bir dan satu gelas atau satu teko anggur, makanan pencuci mulut dan kopi --nilai bagus dibandingkan dengan makan siang di banyak ibu kota lain Eropa.

Namun restoran mempertahankan pelanggan mereka di negara tempat satu dari empat tenaga kerja menganggur.

Mereka yang bekerja dipaksa mengetatkan ikat pinggang agar anggota keluarga mereka bisa pergi kerja, menghadapi kenaikan pajak dan ketidak-pastian ekonomi yang terus menggelayut.

"Krisis telah menerjang warga dengan sangat keras sehingga rakyat tak miliki pilihan apa pun selain mengatasi rasa malu untuk membawa makanan ke tempat kerja. Dan saat orang telah kehilangan rasa malu, keadaan itu memudahkan bagi orang lain," kata Rogelio Barahona, seorang kepala juru masak dan pemilik restoran Urkiola Mendi, di Madrid.

"Saya membayar pajak, pemasok saya, sewa dan untuk membayar staf saya belum menerima gaji selama satu tahun terakhir," kata Barahona.

(C003)

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga