Jakarta (ANTARA News) - Tren pengembang khususnya di Jakarta pada saat ini beralih ke pembangunan gedung untuk sektor perkantoran karena kini banyak permintaan untuk gedung perkantoran tetapi masih belum ditunjang dengan pasokan yang memadai.

"Pada awal tahun 2000-an sampai 2008, para pengembang lebih banyak membuat residenstial atau ritel. Pada saat ini, mereka sudah semakin banyak untuk membangun sektor perkantoran," kata Kepala Riset Jones Lang LaSalle Indonesia (konsultan properti internasional), Anton Sitorus, di Jakarta, Rabu.

Anton memaparkan, permintaan terhadap permintaan sektor perkantoran di daerah bisnis sentral (CBD) semakin meningkat yang ditunjukkan dengan tingkat hunian pada gedung perkantoran Grade A sebanyak 98,1 persen, Grade B sebesar 86,3 persen, dan Grade C sebesar 82,4 persen.

Ia juga menuturkan, jumlah pasokan perkantoran di CBD saat ini 4,33 juta meter persegi dengan pasokan hingga tahun 2014 bertambah sebanyak 617 ribu meter persegi.

"Dalam satu tahun diperkirakan penyerapan baru 400 ribu meter persegi, sehingga sampai 2014 pasar untuk perkantoran masih sangat ketat," katanya.

Gedung perkantoran yang baru selesai dibangun pada semester II tahun 2012 adalah AXA Tower Kuningan City, Office 8 Senopati, dan Parc 18 Tower C.

Sementara untuk gedung perkantoran di luar kawasan CBD, gedung perkantoran yang baru selesai pada semester II 2012 dibangun adalah Wisma Pondok Indah Tower 3 dan Sovereign Plaza.

Untuk di luar kawasan CBD Jakarta, suplai daerah perkantoran saat ini adalah sebesar 1,65 juta meter persegi, dengan tingkat rata-rata hunian 84,7 persen dan perkiraan pasokan hingga 2014 bertambah 384 ribu meter persegi.

Anton memaparkan, tingkat penyerapan daerah perkantoran paling besar berada di Jakarta Selatan dengan pertumbuhan biaya sewa yang meningkat sekitar 5 persen pada kuartal II 2012 dibanding triwulan sebelumnya.

"Di sektor perkantoran itu pertumbuhannya masih sangat tinggi," katanya. (M040/B012)