Jakarta (ANTARA News) - Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada, Tony Prasetiantono, menilai, harga komoditas minyak dunia saat ini sedang mencari titik keseimbangan baru dalam situasi perekonomian yang masih bergejolak.

"Harga minyak dunia sekarang sedang mencari ekuilibrium baru, tapi nanti setelah itu tentunya harga yang tepat akan muncul, sehingga perlambatan perdagangan komoditas global akan kembali mereda," katanya di Jakarta, Rabu.

Ia menduga, nantinya harga minyak akan mengerucut ke kisaran 90 sampai 100 dolar AS per barel tahun ini.

"Nantinya harga komoditas subtitusi lain akan mengikuti," ujarnya lagi.

Ditambahkannya, apabila harga minyak dunia stabil, defisit neraca perdagangan Indonesia semakin berkurang dan mencapai keseimbangan pada semester II/2012.

Bank Indonesia (BI) mencatat, Neraca Pembayaran Indonesia diprakirakan mengalami tekanan pada triwulan II-2012 dan cenderung membaik pada paruh kedua 2012.

Defisit transaksi berjalan di triwulan II-2012 diperkirakan lebih besar dibandingkan defisit di triwulan sebelumnya.

Ini terjadi akibat kinerja ekspor yang menurun, sejalan dengan perlambatan ekonomi dunia di tengah masih tingginya impor untuk mendukung kegiatan ekonomi domestik.

"Kalau itu terjadi, defisit neraca perdagangan akan semakin turun. April kan sekitar 600 juta dolar AS, setelah itu defisitnya 480 juta dolar AS, nanti menurun lagi. Setelah pertengahan tahun saya kira ekspor dan impornya akan impas," paparnya.

Dikatakannya lagi, neraca perdagangan Indonesia tercatat defisit untuk kedua kalinya pada Mei 2012. Yakni dengan nilai defisit perdagangan mencapai 485,9 juta dolar AS.

Meski demikian, secara total Januari-Mei 2012, menurutnya, neraca perdagangan Indonesia masih tercatat surplus 1,52 miliar dolar AS.

Ia menjelaskan, kondisi perekonomian seperti ini akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Diproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I/2012 hanya akan mencapai angkar 6,2 persen.

"Pertumbuhan akan sedikit turun, jadi semester I/2012 ini diproyeksikan sekitar 6,2 persen, proyeksi pertumbuhan sebesar 6,2 persen tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah adanya harga minyak dunia yang cenderung turun belakangan ini sehingga harga ekspor Indonesia juga turun," ujar Tony Prasetiantono. (ANT135/M036)