Jumat, 19 Desember 2014

Indonesia harus cepat tangani pencemaran minyak Montara

| 3.670 Views
id pencemaran minyak, minyak blok montara, minyak montara, minyak mentah, pencemaran minyak mentah, minyak australia, masyarakat ntt
Indonesia harus cepat tangani pencemaran minyak Montara
Cemaran minyak Blok Montara dilihat dari udara. Wilayah yang tercemar dari tumpahan 5.000 barel minyak mentah perhari sejak 21 Agustus 2009 di blok minyak itu hampir semuanya masuk ke perairan Provinsi NTT di Laut Timor wilayah kedaulatan Indonesia. (istimewa)
... Masyarakat korban di NTT harus dilibatkan agar gugatan ini lebih kuat dan bermakna...
Jakarta (ANTARA News) - Kebocoran minyak Blok Montara di perairan Australia Utara pada 21 Agustus 2009 telah merugikan secara luar biasa masyarakat dan kehidupan biota maritim Indonesia di Laut Timor. Namun penyelesaian secara hukum dan lingkungan belum cepat dilakukan Indonesia.

Blok Montara diekploitasi perusahaan minyak nasional Thailand, PTT Exploitation and Prooduction, dengan kolaborasi teknologi pembangunan "dinding" lubang bor untuk menanggulangi bencana dari Halliburton, Amerika Serikat. 

Meledak pada 21 Agustus 2009 yang berlangsung hingga 75 hari kemudian, diperkirakan 5.000 barel minyak mentah terpompa keluar mencemari perairan Laut Timor.

Area yang tercemar hingga ratusan kilometer persegi, yang semula dinyatakan Australia tidak sampai masuk perairan kedaulatan Indonesia. 

Sejak itulah hasil tangkapan laut nelayan serta aktivitas ekonomi masyarakat pesisir Provinsi NTT merosot tajam, hingga tinggal delapan persen dari hasil normal sebelum pencemaran terjadi.

Dalam diskusi tentang pencemaran minyak Blok Montara, digagas Yayasan Peduli Timor Barat, di Gedung Pers Jakarta, Rabu petang, hadir sejumlah ahli di bidang masing-masing. Mereka adalah ahli kelautan dan pencemaran laut sekaligus anggota Komisi Kepresidenan untuk Pencemaran Minyak pemerintahan Barack Obama, Dr Robert B Spies.

Juga Direktur Eksekutif Pusat Studi Energi dan anggota Dewan Energi Nasional, Mukhtasor PhD, dan penasehat hukum masyarakat Timor Barat di Australia, Greg Phelps. Ferdi Tanoni sebagai penggagas yayasan itu dan menginisiasi penyelesaian kasus Blok Montara ini juga hadir.

Temuan dari studi Mukhtasor memakai teknologi identifikasi kandungan kimia aromatik pada 2010, menyatakan sampel cemaran minyak dari perairan Laut Timor di wilayah Indonesia 95 persen identik dengan jejak berasal dari sumur minyak Blok Montara itu. 

"Artinya, minyak itu sudah masuk ke wilayah  kita," katanya.

Hal cukup krusial dan mendesak untuk dilakukan Indonesia jika bertekad menuntut ganti rugi kepada perusahaan minyak internasional itu adalah sesegera mungkin mendata dan memasukkan pengaduannya kepada Komisi Penyelesaian Bersama. 

Komisi ini dibentuk Australia dan pernah berkomunikasi dengan Jakarta; namun respons Jakarta tidak cukup memadai.

Isu ini tenggelam dan seolah terlupakan, diganti dengan berbagai isu lain yang dianggap lebih penting. 

Phelps menyarankan, "Masyarakat korban di NTT harus dilibatkan agar gugatan ini lebih kuat dan bermakna. Australia telah memberi waktu dan mengumumkan kepada siapa saja yang merasa menjadi korban cemaran minyak ini untuk memasukkan pengaduan saat itu. Jangan sampai kadaluwarsa." (*)

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga