Rabu, 27 Agustus 2014

LPMP prihatin masih banyak guru gagap teknologi

Rabu, 1 Agustus 2012 20:32 WIB | 3.871 Views
LPMP prihatin masih banyak guru gagap teknologi
Mendikbud Mohammad Nuh (tengah) melakukan inspeksi mendadak (sidak) pelaksanaan uji kompetensi guru di SMPN 19, Jakarta, Senin (30/7). Uji kompetensi itu untuk memetakan kompetensi dan sebagai dasar kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan para guru. (FOTO ANTARA/Reno Esnir)
Palangka Raya (ANTARA News) - Kalangan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Kalimantan Tengah menyatakan prihatin masih banyak guru yang gagap teknologi saat mengikuti uji kompetensi guru secara "online".

"Dari hasil ujian hari pertama banyak guru yang tidak bisa mengoperasionalkan fasilitas internet, terutama guru yang sudah lanjut usia," kata Kepala LPMP Kalteng Krisnayadi Toendan di Palangka Raya, Rabu.

Inilah yang harus disikapi oleh Dinas Pendidikan kabupaten/kota agar bisa memberikan pelatihan dengan memprogramkan kegiatan, sehingga ke depan tidak ada lagi guru yang tidak mengerti kemajuan teknologi moderen ini.

Dia menyatakan percuma dan tidak akan ada gunanya dibuat serta diprogramkan pelatihan kalau kemauan para guru untuk belajar dan memahami komputer sama sekali tidak ada, meski hampir semua sekolah di daerah itu telah memiliki komputer.

Menurutnya pelaksanaan UKG online itu tidak hanya dalam upaya mengukur kemampuan guru dalam bidang keilmuan, namun juga adalah untuk menguasai informasi teknologi (IT).

Seharusnya guru yang sudah memiliki sertifikasi dan menerima tunjangan profesi dapat memanfaatnya tunjangan yang ada untuk meningkatkan kemampuan baik kursus komputer, diklat maupun yang berguna meningkatkan kompetensi.

Akan tetapi justru sebaliknya, kebanyakan guru mempunyai pola pikir, tunjangan sertifikasi digunakan hanya untuk kebutuhan konsumtif.

Pada pelaksanaan UKG hari pertama terkendala selama satu jam karena harus menunggu server pusat terhubung ke lima titik sekolah penyelenggara, sehingga diambil kebijakan tidak mengganggu jadwal guru angkatan pertama, tidak lagi memakai patokan waktu selama 120 menit.

"Yang penting hak guru dengan waktu 120 menit terpenuhi, sehingga molor sampai malam hari, dan diperintahkan di seluruh kabupaten/kota agar menunggu,"tuturnya.

Sejak awal memang sudah disadarinya, kebanyakan guru yang belum menguasai komputer, dari pedoman yang ada 15 menit untuk latihan dan arahan, akan tetapi waktu yang diberikan tidak cukup, minimal 35 menit waktu yang dibutuhkan.

UKG online baru pertama kali ini diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bertujuan untuk melakukan pemetaan guna memberikan pembinaan kepada guru yang nantinya dinyatakan tidak lulus, bukan untuk menarik tunjangan sertifikasi.

(KR-TVA/S019)

Editor: Tasrief Tarmizi

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga