Rabu, 20 Agustus 2014

Tradisi itu berakhir setelah 20 tahun

Jumat, 3 Agustus 2012 02:22 WIB | 9.193 Views
Tradisi itu berakhir setelah 20 tahun
Menpora Andi Malarangeng. (FOTO. ANTARA)
London (ANTARA News) - Pengembalian bola yang gagal dari Tontowi Ahmad pada semifinal ganda campuran bulu tangkis Olimpiade London seketika membuat kubu Indonesia muram.

Kekalahan ganda campuran juara All England, Tontowi Ahmad-Liliyana Natsir dari pasangan China Xu Chen-Ma Jin pada semifinal itu memupus harapan kontingen Indonesia untuk meraih medali emas dari bulu tangkis.

Pasalnya, mereka lah yang sejak awal diharapkan dapat melanjutkan tradisi medali emas Olimpiade karena dianggap paling berpeluang menyusul keberhasilan mereka menjadi juara All England pertama dalam sembilan tahun terakhir.

Bahkan ketika mereka bertanding di semifinal, Kamis, mereka lah satu-satunya wakil Indonesia yang tersisa setelah ganda putra Bona Septano-Mohammad Ahsan menjadi wakil terakhir yang tersingkir di perempat final.

Tekanan yang besar akibat beban berat untuk menjadi juara yang mereka pikul sendirian itu membuat mereka tidak tampil lepas.

"Mau nggak mau tetap kepikiran karena tinggal kami satu-satunya harapan (dari bulu tangkis)," kata Liliyana usai pertandingan.

Ketegangan juga tampak di wajah Tontowi Ahmad yang baru pertama kali berlaga di Olimpiade.

"Pada awal game ketiga, kelihatan sekali Tontowi tegang, dia tidak bisa melepaskan ketegangan," ujar pelatih ganda campuran Pelatnas Richard Mainaky.

Dan tontowi mengakui itu.

"Saya pribadi tegang, tekanan itu semakin besar, terlalu mikir menang kalah," kata Tontowi mengakui.

"Pada game ketiga, saya semakin tertekan, apalagi setelah tertinggal jauh, sulit ngejarnya," tambahnya.


Terpuruk

Kegagalan tim bulu tangkis mempertahankan tradisi medali emas Olimpiade yang terpelihara sejak 20 tahun lalu, ketika Susy Susanti dan Alan Budikusuma meraih emas pada Olimpiade Barcelona 1992, menunjukkan sudah semakin terpuruknya prestasi bulu tangkis Indonesia.

Apalagi pada Mei lalu, untuk pertama kalinya Indonesia tersisih di babak perempat final Piala Thomas.

Citra buruk semakin tak terelakkan ketika pasangan putri Merah Putih terlibat dalam kasus "tidak berusaha keras untuk menang" karena memilih lawan untuk pertandingan berikutnya, yang juga melibatkan pasangan Korea Selatan dan China.

Skandal "sengaja mengalah" yang sempat menghebohkan di Olimpiade London itu berakhir dengan dikeluarkannya keempat pasangan tersebut dari Olimpiade.

Bahkan pemain China Yu Yang, juara Olimpiade Beijing saat berpasangan dengan Du Jing, menyatakan berhenti dari bulu tangkis tidak lama setelah dicoret dari Olimpiade.

Sadar akan semakin terpuruknya prestasi bulu tangkis Indonesia membuat Menpora Andi Mallarangeng menyatakan sudah saatnya Indonesia tidak lagi menggantungkan diri pada bulu tangkis di Olimpiade.

"Kita tidak bisa hanya menggantungkan diri pada satu cabang karena terlalu berat bagi bulu tangkis," kata Menpora.

Dengan hanya mengandalkan bulu tangkis, prestasi Indonesia di ajang Olimpiade menjadi sangat tergantung pada naik turunnya prestasi bulu tangkis, kata Andi.

"Seharusnya paling tidak ada lima cabang yang menjadi andalan untuk meraih emas Olimpiade," demikian Menpora. (F005)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga