Kairo (ANTARA News) - Kementerian Luar Negeri Mesir, Sabtu, mengutuk serangan terhadap suku kecil muslim di Myanmar. Mesir mengatakan utusannya di negara itu melihat kerusakan luas akibat bentrok aliran tersebut.

Pernyataan kementerian itu dikeluarkan sehari setelah pengunjukrasa di Kairo membakar bendera Myanmar.

Juru bicara kementerian itu, Amr Rushdi, mengutuk aksi kekerasan terhadap warga Muslim di Myanmar.

Utusan Mesir di Myanmar menyaksikan satu kerusakan luas yang menimpa masing-masing masyarakat itu.

Rushdi mengatakan ia memahami betapa marah rakyat Mesir atas serangan-serangan terhadap warga Myanmar itu

Ratusan pria Rohingya dan anak laki-laki ditahan dan tetap berada dalam tahanan di daerah barat negara yang dulu bernama Burma itu, katanya dalam satu laporan pekan ini.

Pemerintah Myanmar memperkirakan 800.000 warga Rohingya tinggal di negara itu sebagai warga asing, sementara banyak warga menganggap mereka sebagai imigran ilegal dari Bangladesh dan meganggap mereka musuh.

Presiden Thein Sein Juli mengemukakan kepada PBB bahwa kamp-kamp pengungsi atau deportasi adalah "solusi" bagi Rohingya.

(H-RN/B002)