Kamis, 31 Juli 2014

HUT ke-99 House of Sampoerna pamerkan bioskop kuno

Selasa, 7 Agustus 2012 21:33 WIB | 5.090 Views
HUT ke-99 House of Sampoerna pamerkan bioskop kuno
Seorang pengunjung mengamati seni lukis karya seniman Belanda, John van der Sterren, di galeri seni House of Sampoerna, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (9/3). Kini House of Sampoerna menggelar pameran "bioskop kuna" Sampoerna yang sangat top pada dasawarsa '30-an hingga '60-an. (FOTO ANTARA/M Risyal Hidayat)
Surabaya (ANTARA News) - House of Sampoerna (HoS) memperingati hari jadi ke-99 perusahaan induknya, Sampoerna, dengan memamerkan gedung bioskop yang pernah ada di museum gedung itu, di Surabaya. HoS juga telah berdiri sejak sembilan tahun lalu.

"Dulu, gedung yang kini dijadikan museum HoS itu memang gedung bioskop, karena itu kami kembalikan fungsinya dan kami akan memutar dua film tahun '50-an di gedung itu," kata manajer HoS, Ina Silas, di Surabaya, Selasa.

Ia menjelaskan, HUT ke-99 Sampoerna tepat pada 27 Agustus 2012 itu akan diperingati perajaan (perayaan dalam ejaan lama bahasa Indonesia) keunggulan-keunggulan HoS yang meliputi museum, shop, galeri seni, dan cafe, pada Agustus hingga Desember.

Perajaan museum akan mengubah gedung museum menjadi gedung Sampoerna Theater seperti saat dibeli pendiri Sampoerna, Liem Seeng Tee, pada 1932, dan dijadikan gedung theater atau pertunjukan pada 1933. 

"Perjalanan kilas balik gedung itu dipamerkan sejak 9 Agustus hingga 9 September," katanya.

Bahkan, gedung yang bermotto "Theater Luas Hawa Tjukup" dengan kapasitas 1.000 penonton itu akan memutar kembali dua film, yakni Son of Ali Baba pada 11 Agustus 2012 dan Niagara pada 8 September 2012. Film Niagara yang diproduksi pada 1952 itu dibintangi Marilyn Monroe.

"Sampoerna Theatre, gedung bioskop terbesar pada 1930-1960 itu pernah dikunjungi komedian Charlie Chaplin pada 1935," kata Silas. 

Saat itu, Chaplin datang ke Surabaya dan mengunjungi Hotel Modjopahit dan Sampoerna Theatre. "Sayang sekali, kami tidak memiliki dokumentasinya, tapi ada cerita dari saksi mata pada saat itu," katanya.

Di gedung theeater itu juga akan ditampilkan piringan hitam dari pertunjukan atau theater yang pernah main di gedung itu, di antaranya Roro Mendoet I, Lelutjon, ketoprak Darmo Tjarito, Pandji Soemirang, Lenggang Djakarta, dan sebagainya.

Untuk perajaan di galeri seni, pihaknya memamerkan 99 foto hasil bidikan anggota Sampoerna Photograpic Club (SPC) yang terdiri dari ratusan pencinta fotografi dan tersebar pada pabrik-pabrik Sampoerna se-Indonesia. Pameran foto dilaksanakan pada 5 Agustus hingga 9 September.

"Lain halnya dengan perajaan di shop yang akan menampilkan benda-benda cenderamata Sampoerna yang mengandung filosofi Tiga Tangan dari pendiri Sampoerna yakni produsen, distributor, dan konsumen. Logo dan filosofi yang dipamerkan pada Agustus-Desember itu ada dalam bentuk kaos, cangkir, dan sebagainya," katanya.

Untuk perajaan di cafe akan menampilkan tradisi dan warisan kuliner di masa lalu yang mencerminkan perpaduan Tionghoa, Arab, dan Jawa di kawasan Surabaya Utara.

"Karena itu, kuliner yang ditampilkan pada Agustus-Desember dan sebagian sudah langka antara lain nasi goreng kambing, steak lidah, garang asem ayam, osik iga bakar, teh herbal, kopi rempah, kunyit asem seger," katanya. 

(E011/I007)

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga