Sabtu, 1 November 2014

PT Antam khawatirkan dampak krisis eropa

| 4.079 Views
id pt antam, aneka tambang, antam, krisis eropa, krisis global
Kondisi ekonomi global yang lesu baik di Eropa, Amerika Serikat dan bahkan mulai merambah China membuat harga nikel sekarang sangat rendah sehingga dapat berpengaruh pada kinerja perusahaan,"
Jakarta (ANTARA News) - PT Aneka Tambang (Persero) Tbk mengkhawatirkan krisis ekonomi Eropa yang berkepanjangan bisa mempengaruhi kinerja perusahaan pada tahun ini karena harga komoditas tambang terutama nikel akan terus merosot.

"Kondisi ekonomi global yang lesu baik di Eropa, Amerika Serikat dan bahkan mulai merambah China membuat harga nikel sekarang sangat rendah sehingga dapat berpengaruh pada kinerja perusahaan," kata Dirut Aneka Tambang (Antam) Alwinsyah Lubis kepada pers di Jakarta, Selasa malam.

Meski terjadi penurunan harga nikel menurut dia, kinerja Antam masih terbantu oleh permintaan ekspor feronikel dan bijih nikel yang masih stabil. "Tentunya kami bersyukur demand feronikel belum ikut turun pada semester pertama tahun ini," katanya.

Begitu pula realisasi produksi feronikel per akhir Juni 2012 sudah mencapai 51 persen dari target 18 ribu ton tahun ini. Walaupun sejumlah perbaikan sempat dilakukan di pabrik feronikel Antam di Pomalaa, Sulawesi Tenggara.

Untuk produksi emas Antam pada semester pertama 2012 sebesar 1.261 kilogram atau lebih tinggi dua persen dibanding periode yang sama 2011.

Ia berharap harga nikel yang kini anjlok hingga 7 dolar per pound atau sekitar 14.500 dolar AS per ton, bisa naik menjadi 9 dolar AS per pound atau 20 ribu dolar per ton pada semester II-2012.

Di sisi lain tonase produksi dan penjualan pada semester kedua diharapkan tidak berubah mengingat permintaan pasar juga tetap, ujarnya.

Saat ini penjualan Antam ke Eropa komposisinya sebesar 25 persen dari total penjualan sedangkan untuk Korea Selatan mencapai 15 persen. Kemudian Jepang, China dan Singapura masing-masing sekitar 10 persen. Penjualan domestik sendiri mencapai 30 persen.

Menurut Alwinsyah, agar penurunan harga nikel tidak menggerus pendapatan perusahaan pihaknya melakukan sejumlah langkah antisipasi. Antara lain dengan menggenjot produksi bijih nikel dari 8 juta ton menjadi 9 juta ton tahun ini. "Peningkatan ini bisa sebagai kompensasi dari penurunan harga nikel," jelasnya.

Langkah efisiensi juga dilakukan Antam dari kegiatan operasional yang tidak terkait dengan produksi dimana hingga Juni 2012 bisa menghemat biaya Rp28 miliar.

Sementara proyek-proyek pengembangan tetap berjalan sesuai target. Terutama untuk proyek Chemical Grade Alumina (CGA) Tayan, pembangunan pabrik feronikel di Halmahera Timur serta proyek Modernisasi dan Optimasi Pabrik Feronikel di Pomalaa, yang juga mencakup pembangunan PLTU Pomalaa (MOP-PP).

Pengembangan proyek CGA Tayan, konstruksinya saat ini sudah 75 persen. Sementara untuk konstruksi proyek Feronikel Halmahera Timur telah mencapai 25 persen dan proyek MOP-PP telah mencapai 50 persen per akhir Juni 2012.

Berbagai proyek tersebut sekaligus untuk mengantisipasi jika Antam tidak bisa lagi mengekspor bijih nikel (ore) sesuai kebijakan pemerintah soal hilirisasi produk tambang mulai tahun 2014, kata Alwinsyah.
(ANT)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga