Bamako (ANTARA News) - Kelompok garis keras yang menguasai Mali utara mengatakan, Kamis, mereka memotong tangan seorang pencuri sesuai dengan hukum Islam yang mereka berlakukan di wilayah itu.

"Ya, saya mengkonfirmasi peristiwa itu. Kami menerapkan sharia di Ansongo kemarin (Rabu), tangan seorang pencuri dipotong. Sharia mengharuskannya," kata Mohamed Ould Abdine, seorang pemimpin Gerakan Keesaan dan Jihad di Afrika Barat (MUJAO), kepada AFP.

Seorang pejabat pemerintah di kota itu menyatakan menyaksikan pemotongan tangan pencuri itu. Ansongo terletak di sebelah selatan Gao, salah satu ibu kota di kawasan gurun luas tersebut.

"Saya berada di Gao sekarang, namun kemarin saya di Ansongo," kata pejabat itu, dengan menambahkan bahwa pria yang dipotong tangannya itu mencuri sebuah sepeda-motor.

Menurutnya, puluhan orang juga menyaksikan hukuman di depan umum itu.

Minggu, puluhan pemrotes mendatangi sebuah lapangan utama di Gao untuk mencegah pemotongan tangan seorang pencuri oleh kelompok garis keras. Namun, Andine mengatakan, hukuman itu akan tetap dilaksanakan dan hanya ditunda karena "intervensi sejumlah orang penting, bukan penduduk".

Pada 29 Juli, kelompok garis keras yang menguasai Aguelhok, sebuah kota di Mali utara, merajam pasangan tanpa nikah hingga tewas di depan sekitar 200 orang.

Pasangan tersebut memiliki dua anak, yang kecil masih berusia enam bulan, dan mereka tinggal di kawasan semak-belukar, kata beberapa pejabat, dengan menambahkan bahwa mereka dibawa ke kota oleh muslim garis keras yang merajam mereka hingga tewas.

Kota kecil di daerah Kidal dekat perbatasan Aljazair itu merupakan salah satu pertama yang direbut separatis Tuareg pada 24 Januari. Namun, pemberontakan suku Tuareg itu kemudian dibajak oleh kelompok garis keras yang kini menguasai wilayah utara.

Sekitar 82 warga sipil dieksekusi tanpa pengadilan, kata Prancis sebelumnya tahun ini, dengan menuduh pemberontak yang menggunakan taktik bergaya Al Qaida sebagai pelakunya.

Kelompok garis keras, yang kata para ahli bertindak di bawah payung Al Qaida di Maghribi Islam (AQIM), kini menguasai kawasan Mali utara, yang luasnya lebih besar daripada Prancis.

Aguelhok dikuasai oleh sekutu AQIM, Ansar Dine.

Kelompok garis keras itu juga memberlakukan hukum Islam yang ketat di Timbuktu.

Pada 16 Juli, seorang pria Timbuktu yang dituduh menenggak minuman keras dicambuk 40 kali oleh anggota-anggota kelompok garis keras yang menguasai kota itu.

Militan garis keras Ansar Dine (Pembela Iman) merupakan salah satu dari sejumlah kelompok terkait Al Qaida yang mengusai Mali utara di tengah kekosongan kekuasaan akibat kudeta militer pada 22 Maret di wilayah selatan.

Kelompok-kelompok itu memberlakukan sharia di wilayah mereka dan berniat memperluas penerapan hukum Islam itu di kawasan lain Mali.

Seorang pria dan seorang wanita yang dituduh memiliki anak di luar nikah dihukum cambuk 100 kali masing-masing di Timbuktu pada 20 Juni, dan Ansar Dine menghancurkan semua bar di kota tersebut.

Kelompok itu juga menghancurkan makam-makam kuno Sufi di Timbuktu, yang diklasifikasi UNESCO sebagai lokasi warisan dunia.

Mereka menganggap tempat-tempat keramat tersebut sebagai musyrik dan menghancurkan tujuh makam dalam waktu dua hari saja.

Mali pada 1 Juli mendesak PBB mengambil tindakan setelah kelompok garis keras menghancurkan tempat-tempat keramat di Timbuktu yang didaftar badan dunia itu sebagai kota yang terancam punah.

Pemberontak suku pada pertengahan Januari meluncurkan lagi perang puluhan tahun bagi kemerdekaan Tuareg di wilayah utara yang mereka klaim sebagai negeri mereka, yang diperkuat oleh gerilyawan bersenjata berat yang baru kembali dari Libya.

Kudeta pasukan yang tidak puas pada Maret dimaksudkan untuk memberi militer lebih banyak wewenang guna menumpas pemberontakan di wilayah utara, namun hal itu malah menjadi bumerang dan pemberontak menguasai tiga kota utama di Mali utara dalam waktu tiga hari saja. (M014)