Sabtu, 26 Juli 2014

YDJA adakan pemutaran film jelang Sumpah Pemuda

Selasa, 23 Oktober 2012 18:43 WIB | 2.258 Views
Jakarta (ANTARA News) - Yayasan Denny JA bekerjasama kelompok kerja masyarakat sipil (civil society) menyelenggarakan  diskusi dan pemutaran sejumlah film, antara lain Film "Minah Tetap Dipancung" dan diskusi tentang "Buruh Migran dan Diskriminasi Perempuan Indonesia" di Jakarta, Selasa.

Direktur YDJA Novriantoni Kahar dalam keterangan pers mengatakan, pemutaran film bertajuk "Pekan Indonesia Tanpa Diskriminasi" diadakan mulai 21--24 Oktober 2012 dengan diisi diskusi dan pemuran lima film karya Hanung Bramantyo yang diambil dari Puisi Esai Denny JA. Kegiatan tersebut dimaksudkan menyambut Hari Sumpah Pemuda, ke-84, tanggal 28 Oktober 2012.

Acara hari ketiga pekan Indonesia diisi dengan pemutaran film tentang buruh migran dan diskusi yang menampilkan pembicara yakni Staf Khusus Menakertrans, Dita Indah Sari dan pengurus Migrant Care yaitu Wahyu Susilo dan Nur Harsono.

Novri mengatakan, problem buruh migran masih menjadi salah satu persoalan kronis di Indonesia. "Para pahlawan devisa ini tak hanya kurang dibela oleh negara, bahkan dianggap sebagai komoditas yang dapat dieksploitasi untuk kepentingan materi," katanya.

Akibat kurang memanusiakan mereka, katanya, maka berbagai bentuk diskriminasi eksploitasi dan pengabaian sering mereka alami, baik sejak dalam negeri maupun setelah berada di luar negeri.

Novri menjelaskan, film "Minah" diangkat dari buku puisi esai Denny JA berjudul "Atas Nama Cinta" yang memotret berbagai bentuk diskriminasi yang masih menjadi persoalan Indonesia dalam bentuk puisi esai. Film yang berdurasi 45 menit itu disutradarai salah seorang sutradara terkenal Indonesia, yaitu Hanung Bramantyo.

"Minah hanyalah salah satu potret dari kisah kelam tentang tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri, masih banyak Minah-Minah lainnya yang mungkin menghadapi berbagai persoalan diskriminasi dan eksploitasi serupa," katanya.

Novri menyatakan, ilustrasi film dan diskusi itu diharapkan dapat mengetuk kesadaran semua pihak tentang pentingnya spirit anti-diskriminasi dan mendesaknya etos pembelaan terhadap warga negara Indonesia (WNI) di mana pun mereka berada.

"Semangat Sumpah Pemuda Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa ditambah dengan spirit Indonesia tanpa diskriminasi, jika mewujud di negeri ini, tak ayal lagi akan menggenapi rasa cinta tanah air seluruh rakyat Indonesia. Itulah menjadi harapan dan impian bersama," katanya.(*)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga