Jumat, 1 Agustus 2014

Kasus korupsi paling sering muncul di media

Rabu, 24 Oktober 2012 20:52 WIB | 6.266 Views
Kasus korupsi paling sering muncul di media
Angelina Sondakh, bekas Puteri Indonesia dan petinggi DPP Partai Demokrat ini sangat sering mengisi halaman-halaman dan waktu penyiaran media massa nasional. Dia menjadi tersangka korupsi yang melibatkan banyak elit politik dan petinggi negara ini. (ANTARA)
Jakarta (ANTARA News) - Kasus suap dan korupsi paling sering muncul di media massa nasional dibanding isu-isu lain dalam satu tahun terakhir, demikian hasil analisis isi media yang dipaparkan The Founding Fathers House (FFH) di Jakarta, Kamis.

"Tujuh dari 10 berita yang berfrekuensi tinggi adalah tentang kasus suap dan korupsi," kata Peneliti Utama FFH, Dian Permata.

Riset analisis isi media tersebut dilakukan 28 Oktober 2011 hingga 22 Oktober 2012 terhadap 28.971 berita yang ditayangkan di 12 media cetak, enam televisi, dan tujuh media online.

"Riset menggunakan metode pengambilan contoh secara tertentu, tempat riset terhadap berita tematik dan berdasarkan kategori politik, hukum, dan ekonomi," kata Permata.

Pemberitaan kasus Wisma Atlet merupakan berita yang paling sering dipublikasikan yakni 1.310 kali, disusul berita calon presiden 1089 kali, kasus suap pemilihan deputi gubernur senior Bank Indonesia, 1.067 kali, kasus korupsi pengadaan SIM Korlantas Polri 764 kali.

Berikutnya kasus suap proyek Hambalang 738 kali, kejatuhan pesawat Sukhoi Super Jet 100, 534 kali, kasus penggelapan pajak oleh Dhana Widyatmika, 503 kali, kasus Nazarudin, 455 kali, kenaikan harga BBM, 433 kali, dan kasus suap dana Percepatan Pembangunan Infrastruktur Daerah (PPID) 424 kali.

Menurut Permata, data tersebut menunjukkan bahwa kasus korupsi merupakan kasus yang paling disorot publik dan harus menjadi perhatian serius Presiden Susilo Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono.

"Keduanya harus cepat dan asli untuk menanggulangi berlarut-larutnya kasus suap dan korupsi yang masih lamban penanganannya," katanya.

Apabila penanganan tetap lamban, kata Dian, maka akan menimbulkan efek pengganda yang bisa membuat akhir pemerintahan SBY-Boediono tidak berlangsung mulus.

"Juga berdampak pada semakin terpuruknya citra Partai Demokrat," kata mantan wartawan itu.

(S024//E001)

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga