Songket batu bara diminati di Malaysia
Sabtu, 4 Februari 2012 13:16 WIB | 2634 Views
Sejumlah perajin mengerjakan tenunan kain songket khas Batubara dengan menggunakan alat tradisional di desa Kampung Panjang Kec Talawi Kab Batubara, Sumut, Kamis (26/1). Menurut perajin, kain tenun songket daerah Batubara yang dijual Rp 500 ribu - Rp 6 juta per lembar tersebut (tergantung kain dan motif), telah diekspor hingga ke luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan berbagai negara lainnya di Asia Tenggara. (FOTO ANTARA/Septianda Perdana)
Kalau yang menengah ke bawah itu, kainnya biasa, tetapi benangnya terbuat dari benang perak dan emas. Jadi wajar saja harganya relatif tinggi. Ini juga karena harga benang untuk songket itu sekarang cukup mahal.
Berita Terkait
Batu Bara, Sumut (ANTARA News) - Tenunan tradisional songket asal Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, tidak hanya dikenal di Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan dan Makassar, tetapi juga sangat diminati di Malaysia.
Nur Azizah (45) pengrajin songket asal Desa Padang Genting, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sabtu, menyebutkan tenunan songket daerah ini memiliki desain yang cukup menarik, sehingga banyak kosumen yang memesannya.
Menurut dia, tertariknya konsumen dengan industri kerajinan Songket Batu Bara, karena desain atau motif tenunan asal daerah tersebut memiliki nilai seni budaya yang cukup tinggi.
Oleh karena itu, jelasnya, banyak dari negara tetangga seperti Malaysia membeli songket tersebut, ketika mereka berkunjung atau liburan ke Kota Medan.
"Songket Batu Bara itu juga memiliki berbagai jenis warna seperti merah jambu, hijau laut, kuning, merah hati, krem, merah muda dan kombinasi warna menarik lainnya," katanya.
Ketika ditanya berapa harga kain songket itu, Nurhalizah mengatakan, bervariasi dari mulai terendah Rp500.000, Rp1 juta, Rp2 juta dan bahkan ada yang mencapai Rp5 juta.
Harga tenunan Songket yang mencapai Rp5 juta itu, tentunya bahan kainnya bukan jenis yanga biasa, tetapi yang terbuat dari Sutera.
"Kalau yang menengah ke bawah itu, kainnya biasa, tetapi benangnya terbuat dari benang perak dan emas. Jadi wajar saja harganya relatif tinggi. Ini juga karena harga benang untuk songket itu sekarang cukup mahal," kata Azizah.
Selanjutnya ia menjelaskan, proses pembuatan kain songket ini, masih menggunakan alat tenun terbuat dari kayu dan tradisional, namun memiliki kualitas bagus.
Alat pembuat songket itu, yakni alat tenun bukan mesin (ATBM) yang masih banyak terdapat di Kabupaten Batu Bara itu.
ATBM tersebut saat ini tergolong sangat langka yang digunakan pengrajin songket dari daerah tersebut.
"Alat tenun ini masih tetap digunakan pengrajin Songket Batu Bara, tetapi tidak kalah dengan songket yang dihasilkan dengan menggunakan mesin yang serba canggih saat ini," kata Azizah.
Hasil pemekaran
Kabupaten Batu Bara merupakan hasil dari pemekaran dari Kabupaten Asahan.
Kabupaten Batu Bara terdiri atas tujuh kecamatan, 98 desa, dan tujuh kelurahan dengan luas cakupan wilayah 92.220 hektare.
Kabupaten Batu Bara sekitar lebih kurang 139 km arah tenggara Kota Medan, memiliki potensi kekayaan alam yang luar biasa.Potensi yang dimiliki antara lain potensi bidang perkebunan,pertanian, perikanan dan kelautan, peternakan, dan potensi pariwisatanya.
Bahkan, Batu Bara telah lama dikenal dunia internasional sebagai pengespor aluminium hasil olahan PT Inalum.
Nama Batu Bara sendiri berasal dari sebuah batu di pedalaman yang konon pada malam hari mengeluarkan cahaya merah berapi.
Editor: Ella Syafputri
COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com