Senin, 22 Desember 2014

Embargo Uni Eropa ganggu ekspor minyak Iran

| 5.516 Views
id ekspor minyak iran, program nuklir iran, embargo minyak uni eropa, sanksi-sanksi amerika serikat
Diantara pengurangan ekspor, diskon, pembayaran dalam mata uang lokal, dan kesulitan merepatriasi uang tunai, sanksi-sanksi itu mulai membuat Iran membayar mahal."
Tehran (ANTARA News) - Embargo Uni Eropa terhadap minyak mentah Iran yang diperkirakan akan berlaku sepenuhnya Minggu, menyusul sanksi-sanksi AS lebih jauh, sudah sangat dirasakan di sektor perminyakan Republik Islam.

Meski ada sangkalan resmi, ekspor minyak Iran anjlok sekitar 40 persen selama enam bulan silam, menjadi 1,5 juta barel per hari, menurut Badan Energi Internasional (IEA).

Fasilitan penyimpanan dan tanker-tanker sandar hampir tidak dapat menampung setelah Iran mencoba untuk menghindari pengurangan  produksi ladang-ladang minyaknya, kata para pakar asing di Tehran.

IEA mengatakan 42 juta barel minyak disimpan di pangkalan tanki.

Badan tersebut menambahkan dalam Laporan Pasar Minyak 13 Juni, bahwa ekspor minyak Iran bisa jatuh lebih dalam pada paruh kedua tahun ini. Badan itu mewanti-wanti datanya bersifat pendahuluan, dan tertentang akibat keharusan "rutin" untuk mematikan alat pelacak di tanker-tanker minyak Iran.

Iran menentang data tersebut dan menegaskan pihaknya mengekspor 2,1 hingga 2,2 juta barel per hari.

Menteri Perminyakan Iran Rostam Qasemi seperti dikutip kantor berita IRNA mengatakan pada 15 Juni: "Ekspor minyak terus berlangsung seperti sedia kala. Sanksi minyak terhadap Iran tidak mempunyai dampak negatif."

Uni Eropa, yang hingga tahun lalu mengimpor sekitar 600.000 barel per hari, atau 20 persen ekspor Iran, mengumumkan pada 23 Januari pihaknya akan secara bertahap memberlakukan embargonya yang berlaku sepenuhnya pada 1 Juli.

Pada Senin, UE menyebutkan "sebuah tinjauan ulang perihal langkah-langkah" mengkonfirmasikan embargo akan diberlakukan mulai Minggu.

Kebanyakan anggota UE sudah melakukan pengurangan, dimana Spanyol dan Yunani menghentikan impor pada April.

Italia, pengimpor minyak mentah Iran terbesar Eropa (180.000 barel per hari), tercecer namun diperkirakan akan mengikuti dalam bulan-bulan ini, segera sesudah Iran mengirimkan minyak untuk perusahaan Italia ENI sebagai pembayaran kembali utang ratusan juta euro.

Perusahaan minyak Eropa seperti Shell dan Total telah menghentikan kontrak mereka.

Embargo UE, diberlakukan untuk menekan Iran agar mengurungkan program nuklir kontroversialnya, dibarengi dengan sanksi AS terhadap sektor keuangan Iran.

Pada Kamis, langkah-langkah AS tersebut akan mengeras ketika perusahaan-perusahaan asing yang menjalin bisnis dengan sektor perminyakan Iran diancam penalti AS jika negara mereka tidak diberi pengecualian berdasarkan penghentian impor minyak Iran.

Turki, tetangga Iran di utara dan pelanggan minyak terbesar kelimanya, telah membuat kilang tunggalnya, Trupas, sepakat untuk memangkas pembelian minyak mentah Iran dengan 20 persen dan sebaliknya mencari sumber ke Libya.

Afrika Selatan, pelanggan penting lainnya, juga telah beralih ke pemasok lain.

Di Asia, yang menyerap 70 persen ekspor minyak Iran, situasinya campuran.

India, pelanggan nomor dua Iran, telah mengumumkan pengurangan 11 persen impor minyak Iran tahun ini, dan Korea Selatan, pelanggan terbesar ketiga, telah memangkas 40 persen impornya dari Iran.

Jepang, pelanggan terbesar keempat, memangkas 65 persen impor minyak Iran pada April sementara menambah pengapalan dari Arab Saudi.

Namun China -- pembeli terbanyak minyak mentah Iran -- dilaporkan baru-baru ini telah mengembalikan impornya ke tingkat sebelumnya 400.000 barel per hari sesudah anjlok awal tahun ini disebabkan perselisihan dengan Iran menyangkut harga dan pembayaran.

Beijing bersiteguh menolak menyerah pada tekanan AS.


Masalah Pembayaran dan Harga

Bahkan ketika Iran masih menjual barang hitamnya, membawa pulang petrodolar yang dihasilkan -- dan jumlahnya hingga 100 miliar dolar pada 2011 -- semakin bermasalah karena cengkeraman keuangan AS.

Tehran kini menerima pembayaran dalam mata uang negara lain, atau membarterkan minyaknya dengan makanan dan barang.

Dan untuk memastikan ekspor minyak ke sejumlah tujuan, Iran menawarkan diskon hingga 20 dolar per barel ke negara-negara seperti Pakistan, kata eksekutif minyak Eropa.

Negara itu bahkan menggunakan armada tankernya untuk mengirimkan minyak mentah, guna mengatasi masalah asuransi kargo akibat ancaman embargo UE, menurut para pakar perminyakan internasional.

Pukulan lain terhadap pendapatan ekspor minyak vital Iran muncul dari harga minyak sendiri.

Sesudah meroket sampai puncaknya pada Maret, harga minyak anjlok hingga 90 dolar per barel untuk patokan minyak mentah Brent. Para analis yakin harga dapat jatuh lebih jauh tahun ini ketika krisis utang Eropa menggembosi perekonomian global.

Hal itu jauh dari prediksi Iran bahwa dunia tidak akan bisa menahan pengurangan ekspor minyak Iran, dan bahwa harga minyak akan melonjak hingga 150 dolar per barel.

"Iran berharap kenaikan harga akan mengompensasi ekspor yang dikuranginya, namun kenaikan produksi di lain negara, terutama Arab Saudi, telah menyebabkan pengurangan bertahap embargo tidak mendestabilkan pasar," kata seorang pakar Eropa di Tehran.

"Diantara pengurangan ekspor, diskon, pembayaran dalam mata uang lokal, dan kesulitan merepatriasi uang tunai, sanksi-sanksi itu mulai membuat Iran membayar mahal," katanya. (K004)

Penerjemah: B Kunto Wibisono

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga