Sabtu, 20 Desember 2014

Somalia hadapi krisis pangan baru

| 6.079 Views
id somalia krisis pangan, konflik dan panen, gerilyawan al shabaab, gerilyawan al qaida
Somalia hadapi krisis pangan baru
Seorang pengungsi menggendong anaknya yang terkena malnutrisi di rumah sakit Banadir di Mogadishu, ibukota Somalia (REUTERS/Feisal Omar)
Kita membutuhkan perubahan langkah dalam pendekatan..."
Nairobi (ANTARA News) - Perpaduan mematikan dari konflik, curah hujan yang buruk dan panen yang diperkirakan terlambat berisiko membuat ratusan ribu orang Somalia terancam kelaparan lagi, kata Save the Children, Kamis.

Menurut badan kemanusiaan itu, banyak dari 1,4 juta orang Somalia yang mengungsi akibat konflik dan kekeringan akan menanggung akibat dari krisis baru itu karena mereka bergantung pada panen yang bagus untuk menjaga harga pangan tetap rendah, lapor Reuters.

"Krisis (tahun lalu) membuat sejumlah besar keluarga tidak mampu menangani dampak dari kekeringan selama satu tahun," kata Sonia Zambakides, direktur kemanusiaan Save the Children untuk Somalia.

Organisasi bantuan itu meminta pendanaan dan upaya baru oleh masyarakat internasional untuk menangani penyebab pokok dari krisis pangan yang terus berlangsung di Somalia.

"Kita membutuhkan perubahan langkah dalam pendekatan terhadap Somalia: beralih dari semata-semata menanggapi keadaan darurat kelaparan ke menangani permasalahan yang memperburuk keadaan itu," kata Zambakides.

Somalia tahun lalu dilanda kelaparan parah akibat kekeringan terburuk yang terjadi negara itu, dan PBB mengumumkan Mogadishu dan empat wilayah Somalia selatan sebagai zona kelaparan serta memperingatkan bahwa kelaparan bisa meluas ke seluruh penjuru negara itu.

Kondisi itu diperumit oleh bentrokan-bentrokan yang terus terjadi antara pasukan Somalia serta Uni Afrika sekutunya dan gerilyawan Al-Shabaab.

Bentrokan-bentrokan itu berlangsung ketika badan-badan bantuan internasional berusaha mencari cara untuk menyerahkan bantuan makanan kepada penduduk yang tinggal di kawasan yang dilanda kelaparan, khususnya daerah-daerah Somalia selatan yang dikuasai kelompok Al-Shabaab yang terkait dengan Al-Qaida.

Badan-badan bantuan menarik diri dari Somalia selatan pada awal 2010 setelah ancaman terhadap staf mereka dan aturan semakin keras yang diberlakukan terhadap aktivitas mereka oleh Al-Shabaab, yang dimasukkan ke dalam daftar kelompok teror oleh Washington.

Militan pada Juli 2011 mengatakan, kelompok bantuan asing bisa kembali lagi ke wilayah itu, namun seorang juru bicara Al-Shabaab mengatakan kemudian bahwa larangan operasi terhadap mereka masih tetap diberlakukan.

Al-Shabaab yang bersekutu dengan Al Qaida mengobarkan perang selama beberapa tahun terakhir ini dalam upaya menumbangkan pemerintah sementara Somalia dukungan PBB yang hanya menguasai sejumlah wilayah di Mogadishu.

Nama Al-Shabaab mencuat setelah serangan mematikan di Kampala pada Juli 2010.

Para pejabat AS mengatakan, kelompok Al-Shabaab bisa menimbulkan ancaman global yang lebih luas.

Al-Shabaab mengklaim bertanggung jawab atas serangan di Kampala, ibukota Uganda, pada 11 Juli yang menewaskan 79 orang.

Pemboman itu merupakan serangan terburuk di Afrika timur sejak pemboman 1998 terhadap kedutaan besar AS di Nairobi dan Dar es Salaam yang diklaim oleh Al-Qaida.

Washington menyebut Al-Shabaab sebagai sebuah organisasi teroris yang memiliki hubungan dekat dengan jaringan Al-Qaida pimpinan Osama bin Laden.

Milisi garis Al-Shabaab dan sekutunya berusaha menggulingkan pemerintah Presiden Sharif Ahmed ketika mereka meluncurkan ofensif mematikan pada Mei tahun lalu.

Mereka menghadapi perlawanan sengit dari kelompok milisi pro-pemerintah yang menentang pemberlakuan hukum Islam yang ketat di wilayah Somalia tengah dan selatan yang mereka kuasai.

Al-Shabaab dan kelompok gerilya garis keras lain ingin memberlakukan hukum sharia yang ketat di Somalia dan juga telah melakukan eksekusi-eksekusi, pelemparan batu dan amputasi di wilayah selatan dan tengah.

Somalia dilanda pergolakan kekuasaan dan anarkisme sejak panglima-panglima perang menggulingkan diktator militer Mohamed Siad Barre pada 1991. Selain perompakan, penculikan dan kekerasan mematikan juga melanda negara tersebut. (M014)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga