Rabu, 3 September 2014

"Blue economy" maksimalkan hasil, minimalisir cemaran

Selasa, 10 Juli 2012 09:08 WIB | 8.263 Views
Kepala Balitbang KKP Prof. Dr. Rizald M. Rompas (AntaraNews)
Jakarta (ANTARA News) - Konsep "blue economy" atau ekonomi biru yang digagas Pemerintah Republik Indonesia dalam Forum KTT Rio+20 di Brasil akhir Juni lalu adalah upaya untuk memanfatkan sumber daya alam (SDA) dengan pencapaian hasil yang maksimal dan cemaran yang sekecil mungkin.

"Konkritnya, 'blue economy' adalah pengelolaan kawasan ekonomi. Di mana sumber daya alam (SDA) dikelola dengan cara meminimalisir cemaran dan mempertinggi nilai kawasan tersebut," kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan Prof. Rizald M Rompas, di Jakarta, Selasa.

Sebagai negara kepulauan dengan laut yang demikian luas, kata Prof. Rompas, Indonesia menggagas "blue economy" yang berbasis kelautan dengan memanfaatkan modal sosial, keberlanjutan, dan terus membuka lapangan pekerjaan baru.

"Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) masih merundingkan lokasi kawasan percontohan 'blue economy' ini. Ada ide yang menunjuk Teluk Tomini, Wakatobi, Laut Banda...belum ada yang tetap," katanya menjelaskan.

Gagasan tentang ekonomi biru ini terinspirasi dari kondisi di China yang beberapa kabupaten/kotanya bergantung kepada hasil dari laut, dengan konsep meminimalisir cemaran dan memaksimalkan nilai tambah.

"Kita harus mengupayakan secara serius untuk mendaur ulang limbah, lalu pengalengan ikan, memanfaatkan limbah sebagai bahan pupuk, dan di sinilah peranan penelitian dan pengembangan. Kami harus meneliti segala aspek terkait upaya memaksimalkan hasil dan menekan pencemaran," ujar dia.

Kawasan Indonesia sekitar 70 persennya berupa perairan dan laut. Dengan belasan ribu pulau, Indonesia memiliki potensi yang sangat kuat untuk mengembangkan ekonomi berbasis kelautan.
(E012)

Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga