Jumat, 31 Oktober 2014

Menyelami keindahan Raja Ampat

| 7.895 Views
id raja ampat, pemandangan bawah laut, Adira Beauty X-Pedition-Jelajah Nusantara
Menyelami keindahan Raja Ampat
Pemandangan bawah laut di perairan Pulau Mansuar, Raja Ampat, Papua Barat. (Istimewa/Faces of Indonesia)
Sekali diving, menikmati pemandangan bawah laut, anda bisa bertambah umur satu jam...
Jakarta (ANTARA News) - "Sekali diving, menikmati pemandangan bawah laut, anda bisa bertambah umur satu jam," kata pemandu selam Waiwo Dive Resort, Raja Ampat, Berto Rahawarin, memberitahu para calon penyelam yang berkunjung pada pertengahan Juli.

Konon, Berto mengatakan, keindahan alam bawah laut mampu membuat para penyelam melupakan segala permasalahan mereka di kota asal, membuat segala penat hilang, sehingga mampu menambah harapan hidup satu jam tiap kali menyelam.

Pernyataan Berto tersebut memang tak didukung hasil penelitian ilmiah. Tapi, menurut Berto, para penyelam yang dia pandu seringkali tidak merasa cukup dengan sekali menyelam dan sebisa mungkin mengulangi penyelaman mereka di lautan Raja Ampat yang kaya dengan ikan dan karang.

Meski nama Raja Ampat sebagai tempat menyelam dan snorkeling baru muncul dalam beberapa tahun terakhir namun kepopuleran kepulauan di kawasan lepas pantai Sorong, Papua Barat, itu dengan cepat mendunia karena keindahan alam bawah lautnya.

Sejak tahun 2003, wilayah kabupaten yang terdiri atas 610 pulau-pulau kecil itu mengalami pemekaran dan pemerintah daerah setempat, yang melihat animo besar para wisatawan untuk melakukan penyelaman, merintis upaya untuk menjadikan wilayah itu geopark.

Saat ini, untuk biaya perawatan terumbu karang, pemerintah Kabupaten Raja Ampat mengenakan biaya konservasi sebesar Rp500 ribu bagi setiap wisatawan asing dan Rp250 ribu bagi wisatawan nusantara.

Kepala Bidang Promosi Pariwisata Dinas Pariwisata Kabupaten Raja Ampat Klasina Rumbekwan mengatakan pemungutan biaya konservasi merupakan bagian dari upaya untuk melestarikan kekayaan alam Raja Ampat yang memang belum banyak dijamah penduduk sekitar.

"Pemberlakuan biaya masuk kawasan ini juga agar kita tahu berapa kunjungan wisatawan ke Raja Ampat. Ini ditetapkan lewat Pergub," ujar Klasina.

Menurut dia, sebagian dana dari pemungutan biaya konservasi masuk ke kas daerah dan sisanya dikelola oleh tim dan dibagi untuk pembiayaan konservasi alam sebesar 40 persen, pembiayaan program bagi masyarakat 40 persen dan untuk mengelola pusat informasi sebesar 20 persen.

Pengenaan biaya masuk itu, lanjut dia, juga dilakukan untuk menyaring wisatawan yang berkunjung, untuk mencegah kunjungan terlalu banyak wisatawan yang dikhawatirkan dapat menyebabkan kerusakan alam, terutama terumbu karang yang ada di sekitar pulau-pulau itu.

"Disini memang mahal. Kita mau eksklusif, nggak mau masal," katanya.

Kenyataannya, pengenaan biaya konservasi yang dianggap mahal tidak banyak menahan aliran kunjungan wisatawan ke wilayah Raja Ampat.

Tahun 2011, tercatat ada lebih dari 6.000 wisatawan yang berkunjung, hanya sekitar 1.000 orang atau 16 persen yang berasal dari tanah air, sisanya adalah wisatawan mancanegara.

Mayoritas wisatawan berkunjung ke Raja Ampat untuk melakukan penyelaman atau snorkeling.

Namun banyak juga yang hanya datang untuk menikmati pemandangan alam pantai berpasir putih yang melandai panjang dengan perairan jernih yang dihuni banyak ikan, atau sekedar trekking ke atas bukit untuk melihat pemandangan pulau-pulau kecil di wilayah perairan berwarna biru dan hijau.


Musim Penyelaman

Menurut Berto, bulan yang cocok untuk melakukan penyelaman adalah mulai bulan Oktober hingga April karena saat itu ikan banyak berkumpul dan ada yang singgah dalam migrasi antar samudera mereka seperti lumba-lumba.

"Di bulan Oktober juga ada festival Raja Ampat sehingga banyak turis yang datang pada bulan itu, tapi untuk diving masih bisa sampai bulan April," ujarnya.

Tarif untuk melakukan penyelaman dan penyewaan peralatan beragam di setiap hotel atau resort bervariasi. Sebagai gambaran di Waiwo Dive Resort biaya sewanya Rp550 ribu bagi wisatawan mancanegara dan Rp450 ribu bagi wisatawan dalam negeri.

Para penyelam biasanya akan dibawa ke lokasi-lokasi penyelaman yang biasanya tidak jauh dari hotel atau resort, hanya sekitar setengah jam perjalanan kapal, bahkan ada juga lokasi penyelaman yang berada persis di depan hotel seperti di Waiwo.

Beberapa spot penyelaman lain di Raja Ampat adalah Sonek Monde, kepulauan Pianemo, Manta Point di Arborek, Pulau Kelelawar atau di Kuburan Reef yang berlokasi di sekitar Pulau Mansuar.

Berto biasanya membawa penyelam pemula ke lokasi berkedalaman 5-10 meter dan penyelam mahir atau yang sudah memiliki lisensi selam ke lokasi berkedalaman 50 meter.

Pada kedalaman lima meter, para penyelam akan dimanjakan oleh pemandangan terumbu karang dan ikan-ikan permukaan yang tidak terlalu besar dan di kedalaman 8 meter ada penyu-penyu yang berenang bebas.

Di Kuburan Reef, hewan laut yang menunggu untuk menyapa para penyelam adalah penyu besar dan Wabegong atau hiu khas Papua.

Anggota tim Adira Beauty X-Pedition-Jelajah Nusantara, Tri Dofa Setiawan Manurung (30) yang pada etape terakhir ekspedisi mengunjungi Raja Ampat mengakui Raja Ampat istimewa dibandingkan dengan daerah lain di nusantara.

"Di sini airnya jernih sehingga pemandangan di bawah lautnya juga lebih bagus," ujar Tri Dofa yang memiliki julukan Dori sang Penjelajah.

Dibandingkan dengan jelajah nusantara yang dilakukan sebelumnya, Dori mengatakan Raja Ampat juga relatif memiliki cuaca yang cukup bersahabat dan udara yang lebih bersih sehingga menambah sensasi liburan yang dicari para wisatawan.

(A043)

Editor: Maryati

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga