Rabu, 30 Juli 2014

Bumbu kari bisa kurangi risiko diabetes

Senin, 30 Juli 2012 15:01 WIB | 2.614 Views
Bumbu kari bisa kurangi risiko diabetes
Bahan aktif Kurkumin terkandung dalam kunyit yang biasa digunakan untuk membuat bumbu kari. (www.fotopedia.com)
Jakarta (ANTARA News) - Senyawa yang terkandung dalam bumbu kari bisa membantu mencegah diabetes pada orang yang berisiko tinggi terserang penyakit itu, demikian hasil studi peneliti Thailand yang dipublikasikan di jurnal Diabetes Care.

Menurut peneliti, konsumsi kurkumin--senyawa aktif dalam kunyit, yang merupakan salah satu bumbu kari-- setiap hari selama sembilan bulan mungkin dapat mencegah kasus diabetes baru pada prediabetes atau orang-orang dengan kadar gula darah tinggi yang berisiko terserang diabetes tipe 2.

Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kurkumin mampu melawan peradangan dan apa yang disebut kerusakan oksidatif pada sel-sel tubuh, dua proses yang disinyalir memicu sejumlah penyakit termasuk diabetes tipe 2.

"Karena keunggulan dan keamanannya, kami berpendapat ekstrak kurkumin mungkin dapat digunakan untuk terapi bagi orang-orang yang berisiko tinggi terkena diabetes," kata Ketua Tim Peneliti, Somlak Chuengsamarn dari Srinakharinwirot University di Nakomnayok, Thailand.

Menurut hasil studi yang dikutip Reuters, penelitian itu melibatkan 240 orang prediabetes dewasa Thailand yang secara acak diminta untuk mengonsumsi kapsul kurkumin atau sebuah plasebo.

Orang yang memilih kurkumin diberi enam kapsul suplemen setiap sehari, tiap kapsul mengandung 250 miligram kurkuminoid.

Setelah sembilan bulan, 19 dari 116 pasien yang mengonsumsi plasebo terkena diabetes tipe 2 sedang 119 pasien yang mengonsumsi kurkumin tidak ada yang kena penyakit itu.

Menurut peneliti, konsumsi kurkumin tampaknya meningkatkan fungsi sel-sel beta yakni sel-sel di pankreas yang melepaskan hormon pengatur gula darah, insulin.

Mereka berspekulasi bahwa efek anti-radang kurkumin membantu melindungi beta-sel dari kerusakan.

Juru Bicara Academy of Nutrition and Dietetics, Constance Brown-Riggs, mengatakan hasil studi itu tampak menjanjikan. "Tapi masih ada banyak pertanyaan yang butuh jawaban," kata pendidik diabetes bersertifikat itu.

Percobaan hanya dilakukan sembilan bulan, dan sudah diketahui sejak lama, bahwa perubahan gaya hidup, termasuk mengurangi kalori dan olahraga, dapat mencegah atau menunda diabetes tipe 2 pada orang prediabetes.

"Jika saya mengatakan kepada pasien tentang ini, saya akan berkata tetap konsentrasi pada pola makan dan gaya hidup sehat," katanya seperti dikutip Reuters.

(nta)




Editor: Maryati

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga