Minggu, 21 September 2014

Iran tuan rumahi perundingan Suriah

Kamis, 9 Agustus 2012 21:56 WIB | 3.313 Views
Iran tuan rumahi perundingan Suriah
Ilustrasi (ANTARA News/Lukisatrio)
Tehran (ANTARA News) - Iran pada Kamis menjadi tuan rumah pertemuan 29 negara membahas Suriah dengan tujuan menghentikan pertumpahan darah di sana dan meningkatkan peran Teheran sebagai pialang perdamaian bagi sekutu Arab-nya itu.

Menteri Luar Negeri Ali Akbar Salehi membuka pertemuan itu dengan minta "rembuk bangsa antara lawan, yang memiliki dukungan rakyat, dan pemerintah Suriah untuk membangun ketenangan dan keamanan", kata televisi negara.

Ia menambahkan bahwa Iran siap menjadi tuan rumah pembicaraan tersebut.

Salehi menyatakan Iran menentang campur tangan asing dan tentara dalam menyelesaikan kemelut Suriah dan mendukung upaya Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon.

Ia menyatakan Iran mengirim bantuan kemanusiaan ke Suriah untuk menebus hukuman antarbangsa terhadap Damaskus, yang dikatakannya tidak untuk kepentingan rakyat Suriah, tapi menambah penderitaan mereka.

Yang dikecualikan dari pertemuan Teheran itu adalah Barat dan negara teluk Arab, yang Iran tuduh memberikan dukungan ketentaraan bagi pemberontakan berdarah hampir 17 bulan itu untuk menggulingkan Presiden Suriah Bashar Assad.

Media pemerintah menyatakan menteri luar negeri Irak, Pakistan dan Zimbabwe hadir.

Diplomat tingkat rendah, sebagian besar duta besar, mewakili negara lain.

Salehi mencatat negara itu adalah Afghanistan, Aljazair, Armenia, Benin, Belarusia, China, Kuba, Ekuador, Georgia, India, Indonesia, Yordania, Kazakstan, Kirgizstan, Maladewa, Mauritania, Nikaragua, Oman, Rusia, Srilanka, Sudan, Tajikistan, Tunisia, Turkmenistan dan Venezuela.

Wakil dari Perserikatan Bangsa-Bangsa juga hadir.

Kuwait dan Libanon sebelum pertemuan itu menyatakan tidak akan mengirim wakil.

Iran berusaha memberlakukan gencatan senjata di Suriah dan memulai rembuk bangsa antara lawan dengan pemerintah Suriah.

Tapi, Teheran pada saat sama berjanji tetap mendukung Assad, yang pasukannya memerangi pemberontak dalam perang itu, yang menewaskan lebih dari 21.000 jiwa, kata pegiat.

Pembantu penting pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, Saeed Jalili, bertemu Assad di Damaskus pada Selasa untuk menyatakan Teheran tidak akan mengizinkan ikatan antara negaranya dengan pemerintah Assad putus.

Belum ada berita dari lawan dan pemberontak Suriah tentang pandangan mereka terhadap pertemuan Teheran itu.

Penyelenggaraan tergesa-gesa Iran atas pertemuan itu diduga upaya mengisi kekosongan diplomasi akibat undur diri Kofi Annan sebagai duta perdamaian PBB-Liga Arab bagi kemelut Suriah pada 2 Agustus.

Mantan kepala PBB putus asa itu menyatakan "saling menyalahkan terus-menerus" di Dewan Keamanan PBB merusak tugasnya.

Ia juga mengatakan yakin Assad akan pergi "cepat atau lambat".

Iran, yang menyalahkan kepergian Annan pada dukungan Amerika Serikat kepada pemberontak Suriah, menyatakan mencoba menghidupkan kembali bagian dari enam pasal rencana perdamaian Annan.

Kedudukan Teheran terkait erat dengan sikap Moskow, yang bersama Cina menutup tiga upaya Dewan Keamanan menghukum pemerintah Assad.

Rusia dan Iran percaya bahwa kecaman Barat atas tindakan keras Assad adalah peran pemberontak Suriah dalam kemelut itu.

Iran juga mendukung penggambaran Suriah bahwa pemberontak didukung "teroris" luar negeri dipersenjatai saingan Sunni-nya, Arab Saudi, Qatar, dan Turki, demikian AFP.

(B002/M016)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga