Jumat, 19 Desember 2014

Oscar Pistorius "mengubah" apa itu manusia

| 4.488 Views
id oscar pistorius, lari 400 meter, cacat, afrika selatan, olimpiade 2012 london
Oscar Pistorius
Oscar Pistorius (paling kiri) (Reuters)
Jakarta (ANTARA News) - Pencapaian pelari Afrika Selatan Oscar Pistorius pada Olimpiade 2012 di London tampaknya mengubah cara pandang manusia terhadap apa yang disebut 'cacat' dan ketidakmampuan, demikian Anders Sandberg, peneliti Future of Humanity Institute, Universitas Oxford, seperti dikutip New Scientist.

Ajang Olimpiade sepatutnya adalah perhelatan religius seperti pada olimpiade tahun ini di mana banyak orang mendewakan kedamaian, kehebatan, dan masa depan.

Orang-orang juga akan melihat pendewaan untuk para atlet yang dianggap setengah dewa. Para atlet dianggap merepresentasikan kemanusiaan yang sedang berusaha untuk melebihi kemampuan manusia biasa.

Para filsuf bahkan mendefinisikan Olimpiade dengan lebih menjemukan. Sebuah definisi umum yang diungkapkan Bernard Suits dari Universitas Waterloo, Ontario menyatakan "bertanding adalah percobaan sukarela untuk mengatasi rintangan". Padahal, rintangan (peraturan pertandingan) memang diperlukan untuk membuat pertandingan lebih menarik.

Kemudian muncul pelari bernama lengkap Oscar Leonard Carl Pistorius.  Ia lahir tanpa tulang betis, dan kakinya (di bawah lutut) diamputasi.

Meskipun memiliki cacat lahiriah, Pistorius memiliki keunggulan di dunia olahraga. Ia memulai karier olahraganya dari rugbi lalu beralih ke lari 400 meter.

Sekarang, Pistorius datang dengan kaki palsunya yang berbentuk pisau dan terbuat dari bahan serat karbon. Ia lolos penyisihan dan berhak memperkuat kontingen Afrika Selatan pada Olimpiade dan Paralimpiade 2012.

Namun perjalanan Pistorius menuju Olimpiade dan Paralimpiade, tak mulus.

Pada 2007, Federasi Asosiasi Atletik Internasional (IAAF) memperkenalkan larangan pertandingan baru yang berbunyi "semua alat teknis yang menggunakan roda, atau elemen apapun yang mampu memberikan atlet keuntungan dari atlet lainnya, tidak dapat digunakan."

Berdasarkan penelitian Universitas Olahraga Cologne, Jerman, IAAF kemudian memutuskan Pistorius dilarang bertanding.

Pistorius tak tinggal diam. Ia mengajukan banding, lengkap derngan bukti-bukti imliah dan hukum. Posturius pun menang, namun tetap tak lolos masuk kontingen Afrika Selatan untuk Olimpiade 2008 di Beijing.

Perdebatan di antara para ahli biomekanik mengenai apakah Pistorius memiliki kelebihan atau justru kerugian, pun muncul. Pistorius ternyata tidak mampu memenangi Olimpiade.

Perlombaan itu sesungguhnya lebih dari sekadar kompetisi. Satu hal yang erat hubungannya dengan pertandingan adalah kesukuan yang membantu kita mengidentifikasikan atlet karena mereka pasti mewakili negara atau grup tertentu.

Hadirnya identifikasi ini memberi kita rasa senang dan terwakili atau bahkan merasa ikut bertanding.

Ini tidak hanya mencocokkan dengan apa yang seharusnya manusia lakukan dan manusia lebih baik melakukan bidang apa, namun juga penegasan bahwa manusia mampu melakukan sesuatu yang hampir mustahil.

Jika para atlet mampu, maka kita juga mampu. Ketidakpastian juga kunci. Pistorius juga tidak mampu, maka ia tidak punya kesempatan, namun ia berhasil membuktikan, tidak hanya mampu tetapi juga menjamin dirinya bisa menang.

Apa yang dilakukan Pistorius bisa jadi mengubah sudut pandang kita mengenai apa yang disebut 'cacat' ketidakmampuan, dan manusia biasa.

Beberapa tahun lalu, Nike mengontrak Pistorius untuk tampil dalam iklan mereka, namun orang-orang pemasaran bersikap pragmatis.

Mereka masih bergelut dengan wacana bahwa manusia cenderung diam ketika melihat ada orang lain tampil sangat berbeda, namun akan berkomentar jika mereka pikir sudah cukup banyak orang yang merespons positif.

Fakta bahwa Nike menampilkan Pistorius tengah berlari menggunakan kaki palsunya menunjukkan Nike cukup yakin penonton akan terkesan, bahwa manusia bisa melebihi kemampuannya. Dan Pistorius tidak sendirian, semua atlet Paralimpiade demikian.

Beberapa orang akan khawatir kehadiran Pistorius bakal membawa dampak negatif, namun jika orang-orang di luar dunia olahraga mulai memodifikasi tubuh mereka, akan sulit bagi dunia olahraga untuk mempertahankan sudut pandangnya yang kolot.

Dan hingga kini, secara memuaskan, ada beberapa pertanda para atlet olimpiade dan paralimpiade akan dilihat sebagai manusia setengah dewa, karena orang-orang sadar bahwa mereka tidak hanya mampu mengatasi rintangan dalam pertandingan (peraturan) tetapi juga rintangan yang berasal dari tubuh mereka sendiri.

(feb)

Penerjemah: Febriany Dian Aritya Putri

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga