Kamis, 18 Desember 2014

Kejaksaan telusuri keterlibatan GM Angkasa Pura

| 4.283 Views
id korupsi bandara, bandara sultan hasanuddin, korupsi bandara makassar, angkasa pura 1
...dan menelusuri siapa saja pejabat tinggi yang terlibat
Makassar (ANTARA News) - Penyidik Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan masih menelusuri keterlibatan General Manajer PT Angkasa Pura I Makassar, Rahman Syarie, dalam proyek pemeliharaan taman dalam dan luar Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar.

"Tersangka dalam kasus ini kan sudah ada, tetapi penyidik masih harus mengembangkan kasus ini lagi dan menelusuri siapa saja pejabat tinggi yang terlibat," ujar Kepala Seksi Penerangan dan Hukum Kejati Sulselbar Nur Alim Rachim di Makassar, Jumat.

Dalam kasus dugaan perkara korupsi yang merugikan negara sebesar Rp1,5 miliar lebih itu telah menetapkan dua orang tersangka yakni mantan Asisten Manager Tekhnik Landasan dan Lingkungan Marselinus Mana dan mantan Asisten Manager Ruang Bandara Suparmin.

Keduanya ditetapkan menjadi tersangka setelah penyidik menemukan adanya fakta-fakta dimana keduanya menjadi penanggungjawab dalam proyek pemeliharaan taman dalam dan luar Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar dengan total anggaran sebesar Rp3 miliar.

Selain mendalami keterlibatan pihak lain, penyidik juga masih menunggu hasil perhitungan audit nilai kerugian negara pada proyek perawatan kawasan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin yang dilakukan oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Sulsel.

Berdasarkan ekspose bersama antara kejaksaan dan BPKP, disimpulkan bahwa BPKP menyepakati telah terjadi tindak korupsi pada dua jenis pengerjaan proyek perawatan kawasan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin yang dikelola PT Angkasa Pura I.

Bahkan untuk melakukan audit kerugian negara, BPKP telah menurunkan dua tim sekaligus. Dua tim yang dibentuk itu masing-masing memeriksa proyek pengerjaan taman dan satu tim untuk memeriksa proyek di dalam bandara.

Sebelumnya, Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Sulselbar Chaerul Amir menyebutkan, pada perhitungan tim ahli dari Dinas PU yang diminta untuk melakukan pemeriksaan hasil pengerjaan, ditemukan adanya kekurangan volume pengerjaan proyek.

Kondisi itu menurut Chaerul berpotensi untuk menimbulkan adanya kerugian negara yang ditaksir mencapai miliaran rupiah.

"Dari hasil penelisikan tim di lapangan memang ada pekerjaan yang tidak sesuai dengan kontrak pekerjaan," katanya.

Selain menetapkan dua pegawai Angkasa Pura sebagai oknum yang paling bertanggungjawab secara pidana. Penyidik juga telah menetapkan dua orang pihak rekanan atau pelaksana proyek sebagai tersangka.

Masing-masing berinisial H dan HR. Keduanya merupakan Direktur pada salah satu perusahaan yang ditunjuk sebagai kontraktor.

"Dengan penetapan keduanya, jadi sudah ada empat orang tersangka. Baik dari rekanan maupun pengawas proyek, hal ini berdasarkan hasil penyidikan tim penyidik," tegasnya.

Diungkapkannya, pemeriksaan tim pengawas itu karena adanya temuan dari tim penyidik terkait ditemukannya penyimpangan dalam proses pembayaran yang tidak sesuai dengan volume pekerjaan pada proyek pemeliharaan Bandara Sultan Hasanuddin.

Dari keterangan tim pengawas, tenaga kerja yang berjumlah 220 orang tersebut masuk dalam pengawasan langsung tim pengawas.

Ia mengatakan, proyek dugaan kasus korupsi pemeliharaan taman Bandara Internasional Sultan Hasanuddin itu ditaksir telah merugikan negara karena proyek itu dianggarkan dengan nilai Rp3 miliar.

Namun mengenai hasil pastinya, pihaknya juga akan mencocokkan dengan audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Sulsel.

Ia menyatakan pekerjaan yang dilakukan oleh salah satu pengelola bandara yang menjadi kontraktor itu dinyatakan telah rampung 100 persen sedangkan hasil temuan di lapangan jika proyek itu baru selesai sekitar 60 persen.

Diketahui pemeliharaan pekerjaan di luar gedung bandara baru milik masyarakat Sulsel ini dimulai sejak 2005 sampai sekarang.

Selain proyek pemeliharaan gedung yang diusut, kejaksaan juga tengah menelusuri serta memonitoring dugaan penyelewengan dana pengadaan dan perawatan Air Traffic Control (ATC) yang disinyalir ikut menimbulkan kerugian miliaran dari total anggaran Rp24 miliar 2005-2011.

(KR-MH/E001)

Editor: Suryanto

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga