Labuhan Batu, Sumut (ANTARA News) - Bupati Labuhan Batu, Sumatera Utara Tigor Panusunan Siregar mengaku prihatin mencermati perkembangan harga tandan buah segar kelapa sawit yang cenderung anjlok di daerah itu.

"Banyak petani (kelapa sawit) yang mengeluh, karena pendapatan mereka sangat bekurang dalam dua bulan terakhir," katanya di Rantau Prapat, Selasa.

Disebutkannya, harga tandan buah segar (TBS) sawit di tingkat pedagang pengumpul di Labuhan Batu saat ini hanya berada di kisaran Rp800 per kilogram (Kg).

Padahal, menurut dia, pada dua bulan sebelumnya harga TBS sawit di tingkat petani masih mampu bertahan rata-rata Rp1.700 per Kg.

Selain harga sawit anjlok, lanjutnya, petani di Labuhan Batu masih harus menghadapi besarnya biaya produksi dan pemeliharaan tanaman di tengah kondisi cuaca ekstrim.

Diakuinya Pemerintah kabupaten (Pemkab) Labuhan Batu belum memiliki solusi tepat untuk menekan risiko rugi yang sedang dihadapi petani kelapa sawit di daerah itu.

Bantuan yang baru bisa diberikan Pemkab setempat bagi petani sawit masih sebatas meningkatkan kualitas sarana jalan raya dari sentra produksi ke wilayah perkotaan.

"Untuk saat ini, kami hanya bisa memperkecil biaya produksi dengan memperbaiki infrastruktur jalan di daerah-daerah terisolir agar petani lebih mudah mengangkut hasil panennya," ucap Tigor.

Ia menambahkan, kinerja pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Labuhan Batu selama ini dari sub sektor perkebunan masih tergolong minim.

Sementara Pemkab Labuhan Batu setiap tahun harus mengalokasikan sejumlah dana untuk memperbaiki badan jalan yang rusak akibat sering dilalui truk pengangkut minyak sawit.

Sebagian besar produk minyak sawit dari Labuhan Batu dikirim ke Pelabuhan Belawan Medan untuk selanjutnya diekspor ke sejumlah negara.

Banyak kalangan menilai bahwa harga sawit anjlok berkaitan erat dengan kebijakan pemerintah memberlakukan pajak ekspor (PE) atau bea keluar minyak sawit mentah atau crude palm oil/CPO hingga sebesar 22,5 persen sejak sekitar dua bulan lalu.

"Kenaikan pajak ekspor bertujuan untuk meningkatkan devisa negara, tetapi hendaknya sebagian devisa tersebut dialokasikan petani sawit, misalnya dalam bentuk bantuan peremajaan," paparnya.

(ANT-197/R014)