Kamis, 23 Oktober 2014

BI: nilai tukar rupiah akan lebih stabil

| 3.871 Views
id rupiah, nilai tukar rupiah, bank indonesia,
BI: nilai tukar rupiah akan lebih stabil
Mata Uang Rupiah. (FOTO.ANTARA News/ ferly)
Kuartal IV defisit transaksi berjalan diperkirakan membaik menjadi 2,2 persen PDB
Bandung (ANTARA News) - Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, nilai tukar rupiah ke depan akan lebih stabil dan memasuki tingkat keseimbangan yang baru sesuai perkembangan fundamental perekonomian nasional.

"Ke depan depresiasi rupiah semakin kecil dan akan lebih stabil mengingat defisit transaksi berjalan yang terus membaik," kata Perry di Bandung, Sabtu.

Menurut Perry, pelemahan nilai tukar rupiah beberapa waktu belakangan sudah sesuai dengan kondisi perekonomian Indonesia yang pertumbuhannya agak melemah disertai dengan tingginya defisit transaksi berjalan yang sampai semester I 2012 mencapai 3,1 persen dari PDB.

Namun, Perry memperkirakan defisit transaksi berjalan akan terus membaik seperti yang terjadi pada kwartal III 2012 yang mengecil menjadi 2,4 persen dari PDB.

"Kuartal IV defisit transaksi berjalan diperkirakan membaik menjadi 2,2 persen PDB," katanya.

Dijelaskannya, selama triwulan III-2012, tekanan depresiasi Rupiah merupakan cerminan dari besarnya defisit transaksi berjalan, sehingga dengan depresiasi Rupiah secara terukur, impor dapat dikendalikan sementara ekspor sedikit banyak bisa terbantu.

"Perkembangan Rupiah dewasa ini telah mencerminkan keseimbangan di dalam perekonomian seiring dengan neraca pembayaran yang kembali mencatat surplus pada triwulan III-2012," katanya.

Dijelaskan Perry, penentuan nilai tukar fundamental bukanlah hal yang mudah, karena tidak ada satu metode ataupun model penentuan yang sangat akurat, sehingga yang lebih penting adalah menjaga agar pergerakan Rupiah itu tetap konsisten dengan prakiraan makroekonomi ke depan, khususnya inflasi dan pertumbuhan ekonomi, serta seberapa jauh mampu mendukung keseimbangan pada neraca pembayaran.

Dikatakannya, dalam implementasinya, upaya stabilisasi Rupiah tetap memperhatikan dinamika yang terjadi di pasar sehingga BI senantiasa memantau perkembangan pasokan dan permintaan valas di pasar.

"Sejauh mungkin, perkembangan Rupiah sesuai mekanisme pasar dengan mengacu pada arah pergerakan nilai tukar yang dinilai optimal bagi perkembangan makroekonomi tersebut. BI juga melakukan intervensi di pasar valas untuk menjaga agar fluktuasi Rupiah tetap stabil dan tidak bergejolak." katanya.

Intervensi di pasar valas, lanjutnya juga didukung dengan langkah BI untuk melakukan pembelian SBN di pasar sekunder yang bertujuan untuk mendukung stabilisasi Rupiah.

Pendalaman pasar valas juga terus ditingkatkan, seperti menerbitkan term-deposit valas, dan merelaksasi ketentuan terkait tenor forward dengan non residen dari yang sebelumnya minimum 3 bulan menjadi minimum 1 minggu.

"Ini dimaksudkan agar investor dapat melakukan hedging atas investasinya di Indonesia. BI juga akan menempuh langkah kebijakan lanjutan terkait dengan DHE, termasuk pengembangan bisnis trustee di perbankan," kata Perry.

Selain itu, kebijakan nilai tukar perlu didukung kebijakan lain agar mampu menjaga keseimbangan eksternal dari stabilitas makroekonomi Indonesia antara lain kebijakan pengelolaan pertumbuhan kredit di sektor tertentu yang dinilai berlebihan, yaitu kartu kredit, otomotif, dan properti.

"Kebijakan nilai tukar rupiah ini bagian dari bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang dianggap berhasil membawa stabilitas perekonomian ekonomi Indonesia sampai saat ini," katanya.

Pada Oktober Rupiah secara point-to-point melemah sebesar 0,36 persen (mtm) ke level Rp9.605 per dolar AS atau secara rata-rata melemah 0,41 persen (mtm) menjadi Rp9.593 per dolar AS.

(D012) 

Editor: Fitri Supratiwi

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Terpopuler
Baca Juga