Sabtu, 30 Agustus 2014

Banten gandeng negara ASEAN tingkatkan mutu pendidikan

Rabu, 4 April 2012 15:17 WIB | 1.343 Views
Banten gandeng negara ASEAN tingkatkan mutu pendidikan
Wakil Gubernur Banten Rano Karno (FOTO ANTARA)
Serang (ANTARA News) - Pemerintah Provinsi Banten terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan dan kualitas sumber daya manusia di wilayahnya melalui kerja sama dengan negara-negara anggota ASEAN, seperti Kamboja dan Malaysia.

Demikian disampaikan Wakil Gubernur Banten, Rano Karno, di Banten, Selasa.

"Kita menjajaki kerja sama dengan berbagai negara anggota ASEAN, mudah-mudahan dengan cara ini pendidikan Banten bisa lebih maju dan kualitasnya meningkat," kata Rano Karno lagi.

Pada Selasa (27/3), tim dari sejumlah perguruan tinggi di Kamboja datang ke Banten dan menandatangani nota kesepahaman dengan perguruan tinggi di Banten, disaksikan Wakil Gubernur Rano Karno.

Ia menjelaskan tahun ini Banten akan melakukan pertukaran mahasiswa dengan Kamboja, sebagai awal dan penjajakan kerja sama di bidang pendidikan.

"Tahun ini Banten akan kirim sekitar 100 mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Banten, untuk belajar di Kamboja, sebagai bagian dari kerja sama tersebut," katanya.

Pertukaran mahasiswa dari Banten tersebut tidak hanya dengan Kamboja, tetapi juga dengan sejumlah negara lainnya di Asean yang difasilitasi oleh tim kerja sama pendidikan negara-negara ASEAN (Seamolec).

Rano Karno mengatakan selain dengan Kamboja, Banten juga rencananya akan mengirimkan sejumlah mahasiswanya ke negara Asean lainnya dalam rangka kerja sama pendidikan tersebut.

"Tentunya ini baru tahap awal saja dengan mengirimkan sekitar 100 mahasiswa. Ke depannya kita juga akan kerja sama dengan negara Asean lainnya," kata Rano.

Selain dari Kamboja, tawaran kerja sama bidang pendidikan juga datang dari Malaysia. Negara tersebut siap bekerja sama untuk jenjang sekolah menengah atas (SMA) dan perguruan tinggi.

Penawaran kerja sama pendidikan antara Malaysia dengan Provinsi Banten tersebut disampaikan Penasehat Pendidikan Kedubes Malaysia di Indonesia Puan Yahurin Muhamad Yasin.

Yahurin bersama tim dari Universitas Putra Malaysia, berkunjung ke Provinsi Banten pada Senin (2/4), dan membicarakan kemungkinan kerja sama pendidikan dengan provinsi ini.

Rombongan dari Kedubes Malaysia dan Universitas Putra Malaysia diterima Staf Ahli Gubernur Banten Bidang SDM Hari Parwanto dan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten Hudaya Latuconsina.

Dalam pertemuan tersebut, tim dari Malaysia menawarkan para pelajar di Banten yang memiliki prestasi dan berminat untuk melanjutkan pendidikan di sejumlah Perguruan Tinggi di Malaysia.

"Harapan kami, Banten juga bisa melakukan kerja sama pendidikan dengan Malaysia seperti provinsi lainnya di Indonesia yakni Kalimantan Timur, Jambi dan juga Aceh," kata Yahurin.

Ia mengatakan para pelajar Indonesia bisa menuntut berbagai keahlian sesuai dengan kemampuan yang dimiliki dan diminati, seperti Informasi Teknologi, Ekonomi dan keahlian lainnya.

Pihak Malaysia bersedia membantu untuk biaya hidup `living cost` para pelajar Banten di Malaysia, sedangkan untuk biaya pendidikan atau perkuliahan ditanggung sendiri.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten Hudaya mengatakan, Pemprov Banten menyambut baik tawaran kerja sama pendidikan tersebut.

"Kami menyambut baik tawaran itu, namun kami akan laporkan dulu kepada Gubernur untuk menindaklanjutinya," kata Hudaya.

Pada kunjungan tersebut, rombongan dari Malaysia tersebut menyempatkan diri mengunjungi sejumlah sekolah, di antaranya Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Kota Serang dan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Kota Serang.


Kerjasama Antaryayasan

Kerja sama dengan luar negara, tidak hanya dilakukan oleh pemerintah Provinsi Banten dengan pemerintah negara anggota ASEAN, tapi juga antaryayasan.

Sebelumnya, pada Selasa (6/3) Perguruan Mathla`ul Anwar Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, menjalin kerja sama dengan Perguruan Al-Irsyad Singapura, di bawah naungan Yayasan Temasek Singapura .

Ketua Perguruan Mathlaul Anwar (MA) Pusat Jihadudin mengatakan, kerja sama MA dan Singapura tersebut bertujuan untuk peningkatan kualitas pendidikan berbasis internasional dengan mendirikan `Global School` di Kecamatan Menes Pandeglang.

"Kerja sama yang dibangun dalam peningkatan kualitas pendidikan ini, lebih kepada manajemen sekolah dan peningkatan SDM pengajarnya," kata Jihadudin.

Bentuk kerja sama peningkatan pendidikan tersebut akan dimulai dengan peletakan batu pertama pembangunan "Global School" di Kecamatan Menes Pandeglang.

Sekolah yang akan dibangun di atas lahan 7.500 meter persegi tersebut, tahap pertama untuk penyelenggaraan jenjang pendidikan madrasah ibtidaiyah (MI) dan madrasah tsanawiyah (MTs). Selanjutnya secara bertahap akan dilanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.

"Pendidikannya lebih difokuskan pada pengembangan sains, matematika dengan standar olimpiade Internasional dan bahasa Inggris standar `Cambridge`," kata Jihadudin.

Principle Consultan Madrasah Al-Irsyad Singapura Damanhuri Abas mengatakan, kerjasama yang dibangun antara MA dan Al-Irsyad Singapura tersebut diharapkan bisa meningkatkan kualitas manajemen pendidikan serta SDM tenaga pendidiknya.

"Kami nanti memberikan pendidikan dan pelatihan bagi tenaga pengajar Indonesia ke Singapura. Begitu juga dari aspek manajemen operasional sekolah," katanya.

Yayasan Temasek Singapura memberikan bantuan dana hibah untuk lembaga pendidikan di Indonesia sebesar Rp68 miliar, termasuk pendanaan Mathla`ul Anwar "Global School" di Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang.

"Kami komitmen memberikan dana hibah itu untuk pembinaan 15 program di seluruh Indonesia," kata Pimpinan Temasek Foundation Singapore Benedict Cheong.

Ia mengatakan Mathla`ul Anwar (MA) Global School yang dibangun tahun 2012 di Kecamatan Menes merupakan sekolah berwawasan internasional, dan sebagian biaya di tanggung Temasek Foundatioan, yang merupakan lembaga "philantropic non profit" yang berpusat di Singapura peduli pendidikan dan kesehatan.

Menurut dia, pendanaan MA `Global School` meliputi kegiatan pelatihan di luar negeri, monitoring dan asistensi program selama lima tahun.

Model MA `Global School` yang akan didirikan berciri antara lain kurikulum sesuai standar ujian nasional plus, penguasaan bahasa Inggris, pendidikan sains berstandar oliampiade internasional.

Selain itu, juga berbasis ICT (information and communication technology) dan "sister school" dengan Madrasah Al Irsyad Singapura, akhlak karimah dan bahasa pengantar Indonesia-Inggris.

"Kami optimistis MA Global School bisa menguasai ilmu terknologi dengan wawasan internasional," katanya.

(Z003)

Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga