Bangkalan (ANTARA News) - Puluhan aktivis mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bangkalan, Madura, Jumat sore, berunjuk rasa di depan kantor rektorat menolak praktik komersialisasi pendidikan di kampus itu.

Aktivis mahasiswa perwakilan dari berbagai tingkatan ini datang ke depan kantor rektorat dengan membawa berbagai poster dan spanduk yang berisi kecaman atas kebijakan lembaga itu yang dinilai telah melakukan komersialisasi pendidikan.

Juru bicara mahasiswa Hannan dalam orasinya menyatakan, praktik komersialisasi pendidikan yang dilakukan pihak rektorat telah merugikan mahasiswa, bahkan akan banyak mahasiswa di kampusnya yang terancam putus kuliah.

"Jika hal ini dibiarkan, maka jangan harap generasi muda bangsa ini bisa mengenyam pendidikan dengan baik," kata Hanannan.

Karenanya ia mengecam berbagai bentuk komersialisasi pendidikan, termasuk yang terjadi di kampusnya sendiri.

Mahasiswa ini juga meminta agar pihak rektorat tidak menaikkan sumbangan ujian akhir sekolah (UAS).

Menurut Hannan, pihak rektorat menaikkan sumbangan UAS dari Rp20.000 menjadi Rp25.000 dengan alasan harga bahan bakar minyak (BBM) akan naik.

"Kalau BBM benar-benar naik, itu kan tidak ada masalah. Tapi kan BBM tidak naik, tapi sumbangan UAS ditetapkan naik," ucap Hannan.

Tidak hanya itu saja, puluhan aktivis mahasiswa ini juga menolak membayar sumbangan akses internet Wifi di kampusnya sebesar Rp10.000, serta meminta adanya transparansi keuangan BEM dan koperasi mahasiswa mulai tahun 2009 hingga 2012.

Aksi mahasiswa di kampus STKIP ini sempat diwarnai kericuhan, saat mahasiswa memaksa masuk halaman kampus dan dihalangi petugas keamanan.

Secara terpisah Ketua STKIP Bangkalan Moh Hafid membantah semua tudingan mahasiswa.

Hafid menyatakan, semua kebijakan yang telah ditetapkan pihak kampus, berdasarkan pertimbangan yang matang, serta musyawarah mufakat semua dosen dan pihak yayasan.

"Jadi kalau kami dikatakan melakukan komersialisasi, jelas tidak mungkin. Semua kebijakan yang kami ambil kan atas pertimbangan yang matang," kata Hafid menegaskan. (ZIZ/Y006)