Minggu, 26 Oktober 2014

Penantian panjang kelahiran badak Sumatera "Andatu"

| 6.854 Views
id badak sumatera, pengembangbiakan badak, badak langka
Penantian panjang kelahiran badak Sumatera
Ratu (12) seekor induk badak Sumatera (dicerorhinus sumatrensis) menemani anaknya berjenis kelamin jantan yang baru berusia beberapa hari di penangkaran semi alami Suaka Rhino Sumatera, Taman Nasional Way Kambas, Lampung, Senin (25/6). Setelah penantian selama 124 tahun akhirnya Ratu badak Sumatera bercula dua, melahirkan seekor anak pada Sabtu (23/6) dini hari pukul 00.45 WIB, Peristiwa kelahiran badak dalam penangkaran tersebut merupakan yang pertama terjadi di Indonesia. (FOTO ANTARA/M Agung Rajasa)
Semoga segera terjadi konsolidasi semua pekerja dan pendukung konservasi badak Sumatera di penjuru dunia, dengan komitmen penuh untuk mencari jalan keluar yang terbaik bagi badak-badak Sumatera di penangkaran."
Bandarlampung (ANTARA News) - "Ratu", induk badak Sumatera bercula dua (Dicerorhinus sumatrensis) di Suaka Rhino Sumatera/Sumatera Rhino Sanctuary (SRS) Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur, Provinsi Lampung, telah melahirkan anak berkelamin jantan.

Kelahiran anak badak ini, Sabtu (23/6), pukul 00.45 WIB ini merupakan yang pertama sejak upaya konservasi pengembangbiakan (breeding conservation) di Asia 124 tahun silam, sehingga menjadi tonggak sejarah upaya pelestarian badak Sumatera, kata Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan, di Jakarta, Senin.

Populasi badak Sumatera yang ada di alam saat ini kian menurun, jumlahnya diperkirakan hanya tersisa sekitar 200 ekor, sedangkan yang ada di luar habitat alaminya (ex situ) hanya tersisa 10 ekor (empat di SRS Taman Nasional Way Kambas (TNWK), tiga di Sabah (Malaysia), dan tiga ekor di Amerika Serikat.

SRS TNWK berdiri sejak tahun 1998, merupakan tempat penangkaran badak Sumatera "semi in-situ", untuk upaya melindungi kelestarian populasi badak Sumatera di dunia yang tergolong dilindungi dalam kondisi sudah sangat langka dan terancam punah.

Terdapat empat ekor badak di penangkaran ini, satu ekor jantan yang didatangkan dari Cincinnati Zoo, Amerika Serikat (badak "Andalas") Februari 2007, dan tiga ekor badak betina (Bina, Ratu, dan Rosa).

International Rhino Foundation (IRF), yayasan internasional yang mensponsori penangkaran badak di TNWK Lampung itu, menyatakan bahwa kelahiran itu adalah salah satu kemajuan yang paling signifikan dari upaya konservasi badak Sumatera.

"Andalas", induk jantannya, dibawa ke SRS dari AS tahun 2007, dengan harapan bahwa suatu hari akan berkembang biak dengan satu atau lebih dari tiga badak betina di SRS.

Kehamilan Ratu adalah pencapaian penting dari upaya untuk melestarikan populasi badak Sumatera, dan merupakan upaya global, kata Dr Susie Ellis, Direktur Eksekutif IRF.

Dr Dedi Candra, Kepala Dokter di SRS, terus memantau kehamilan Ratu dengan menimbang beratnya setiap minggu dan melakukan uji ultrasonografi (USG) secara rutin, dengan menggunakan metode yang dikembangkan oleh Pusat Kebun Binatang Cincinnati untuk Konservasi dan Penelitian Margasatwa yang Terancam Punah.

Segera setelah kelahiran, Ellis akan mengambil sel plasenta yang mungkin digunakan untuk menghasilkan sel induk.

Sel induk memiliki potensi dapat digunakan untuk berbagai tujuan, mulai dari menyembuhkan penyakit hingga membantu reproduksi.

Sel fibroblas akan dikeluarkan dari plasenta dan kemudian dibekukan untuk kerja sel induk selanjutnya.

Fibroblas digunakan untuk menciptakan sel induk yang mudah diekstrak dan dikembangbiakan di laboratorium.

Sel ini akan tetap disimpan di Indonesia.

"Ini adalah cara lain, kelahiran dapat memberikan kontribusi untuk pengetahuan dan alat baru yang memiliki potensi penting dalam mempertahankan masa depan spesies penting yang terancam punah ini," ujar Ellis lagi.

Badak Sumatera terancam oleh kondisi terus hilang habitat hutan tropis dan tekanan perburuan dari para pemburu yang membunuh badak untuk cula mereka yang bernilai sangat tinggi.

Setiap kehamilan adalah langkah penting dalam menjaga kelangsungan hidup spesies tersebut yang mengalami risiko kepunahan pada akhir abad ini.

SRS dibuka pada tahun 1998 sebagai kemitraan dengan Yayasan Badak Indonesia (YABI) dan TNWK, Kementerian Kehutanan Indonesia.

Menhut Zulkifli Hasan yang juga putra Lampung itu, telah mengumumkan pula, nama badak Sumatera tersebut dalam konferensi pers di kantor Kementerian Kehutanan, dari semula alternatif nama sebanyak tiga pilihan untuk bayi badak itu.

Pilihan pertama adalah "Abadi", mengingat kelahiran badak Sumatera di tanah asalnya ini sudah dinantikan sejak lama.

Kedua adalah "Andatu", merupakan singkatan dari Andalas dan Ratu (induk anak badak ini), sekaligus bermakna anugerah dari Tuhan.

Ketiga adalah "Arjuna", berarti anak dari Andalas dan Ratu yang lahir di bulan Juni tahun 2012.

"Saya kira yang paling tepat adalah Andatu, buah kasih sayang dari Andalas dan Ratu, serta anugerah dari Tuhan yang Maha Kuasa. Jadi, itu yang saya pilih," kata Zulkifli Hasan lagi.

Kelahiran badak Sumatera ini menandai keberhasilan dalam konservasi badak dunia yang telah ratusan tahun ditunggu-tunggu hasilnya.

"Kelahiran badak ini menjadi tonggak keberhasilan pelestarian badak Sumatera, sekaligus membangun kepercayaan masyarakat terhadap upaya konservasi badak di tanah air kita," ujar Menhut lagi.

"Andatu" kini dalam kondisi sehat dan diharapkan bisa dilihat kalangan lebih luas sekitar dua minggu lagi, walaupun masih secara terbatas.

Menurut Menhut, keberhasilan kelahiran anak badak itu, sekaligus diharapkan akan meningkatkan kepercayaan masyarakat dan dunia internasional terhadap upaya pemerintah dalam melestarikan satwa langka dunia.

Anak badak tersebut hasil perkawinan dari badak jantan Andalas (11 tahun) yang lahir di Kebun Binatang Cincinnati, AS tahun 2001, dan badak betina Ratu (12 tahun) dari TNWK Lampung.

Sebelumnya, kata dia, induk badak itu telah mengandung dua kali dari hasil pasangan yang sama, tetapi semuanya mengalami keguguran.

Badak Andalas setelah didatangkan dari AS, sejak itu dipasangkan dengan Ratu.

Selama masa kehamilan (15-16 bulan) dan proses kelahiran, induk dan anak badak itu dirawat, diperiksa, dan dimonitor secara intensif oleh tim perawat (keeper) dan dokter hewan YABI dan Taman Safari Indonesia, serta dokter hewan dari IRF, Kebun Binatang Cincinnati AS, Tarongan WPZ Australia, dan White Oak Conservation Centre Amerika.

Seluruh proses kehamilan sampai kelahiran badak tersebut didokumentasikan untuk bahan evaluasi, kata Menhut pula.

Kehadiran pengunjung di lokasi sekitar SRS juga sangat dibatasi, agar tidak menimbulkan gangguan, khususnya menjelang kelahiran, kata dia lagi.

Saat ini, Indonesia memiliki dua jenis badak Asia dari lima jenis badak yang masih tersisa di dunia, yaitu badak Jawa bercula satu (Rhinoceros sundaicus) dengan populasi tersisa sekitar 50 ekor di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), dan 200 ekor badak Sumatera di TNWK, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), TN Gunung Leuser, dan beberapa kawasan hutan alam di Sumatera, dan Sabah, Malaysia.

Kedua satwa tersebut merupakan jenis badak yang paling langka dan terancam punah karena berkurang habitat maupun akibat perburuan liar.

International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) pada tahun 2006, memasukkan keduanya sebagai hewan dengan kategori status konservasi kritis (critically endangered).

"Keberadaan dua jenis satwa langka ini membawa konsekuensi dan tanggung jawab kita semua untuk pelestariannya," kata Zulkifli Hasan lagi.

Penyelamatan kedua jenis badak itu secara umum telah dirumuskan dalam Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) Nomor 43 Tahun 2007 tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Badak Periode 2007-2017.

Aturan itu telah diimplementasikan melalui berbagai kegiatan konservasi dari Ditjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Kemenhut dan mitra terkait, seperti YABI dan IRF.

SRS di TNWK merupakan kawasan untuk program konservasi pengembangbiakan seluas 100 hektare dan dikelilingi pagar listrik setinggi 1,5 meter, dilengkapi dengan prasarana yang memadai.

Program konservasi pengembangbiakan di TNWK Lampung itu dipastikan akan menjadi model dalam pelaksanaan rencana pembangunan Java Rhino Study Conservation Area (JRSA) bagi upaya pelestarian badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon, kata Menhut pula.


Apresiasi Perawat Badak

Drh Marcellus Adi CTR, selaku praktisi senior konservasi badak dan peneliti badak sejak tahun 1988 yang pernah bekerja di SRS TNWK sebagai Site Manager (2000-2008), menyampaikan ucapan selamat kepada pengelola SRS yang berhasil membuat badak Ratu mengalami kehaliman (bunting), dan akhirnya melahirkan bayi badak Sumatera pertama di Indonesia, "Andatu".

"Buat saya yang dulu pernah lama kerja di sana, terutama untuk para keeper atau perawat badak harus yang paling diapresiasi, mengingat mereka orang-orang setempat yang sederhana, namun sangat berdedikasi, semangat belajar dan berkembang tinggi, menunggui badaknya siang malam. Salut!," kata dia.

Dia mengaku pernah mengusulkan, agar badak Sumatera tidak selayaknya diteruskan dipelihara di kebun binatang, tapi selayaknya dilepas kembali atau dipelihara secara lebih alami, karena variasi spesies makanan banyak, kandang lebih luas, apalagi badak ini merupakan satwa `soliter` dan penjelajah serta butuh variasi ruang untuk beraktivitas, termasuk variasi jenis daun makanannya.

"Badak-badak itu menderita dan stres di lokasi yang kurang ruang jelajah atau space-nya, kurang variasi makanan, banyak pencemaran, dsb-nya," ujar dia lagi.

Tentu saja, kata Marcellus, menjadi saksi langsung dan sebagai pengelola SRS sejak badak-badak itu masuk lokasi SRS adalah pengalaman tak terlupakan.

Membuktikan sendiri, melihat betapa senang satwa itu diberikan kandang minimal lima hektar per ekor badak di hutan asli habitat badak Sumatera itu, jelas jauh berbeda dengan kondisi mereka ketika di kebun-kebun biantang dan taman safari, kata dia.

Berkaitan dengan penilaian bahwa kelahiran anak badak itu justru seperti ditutup-tutupi, Marcellus mengaku tidak tahu hal tersebut.

Menyusul kabar adanya kelahiran bayi badak itu, Sabtu (23/6) dinihari, sejumlah pihak yang dikonfirmasi ANTARA, Kendati membenarkan kabar tersebut namun masih enggan menjelaskannya.

Kepala Balai TNWK, Awen Supranata, setelah memberikan penjelasan atas kelahiran anak badak itu, kemudian menginformasikan bahwa penjelasan resmi tentang hal itu akan disampaikan langsung oleh Menteri Kehutanan di Jakarta, Senin (25/6).

Marcellus membandingkan kondisi itu dengan kedatangan badak Andalas, Februari 2007 dulu, dibawa dari kebun binatang di AS, segala hal sudah diantisipasi, termasuk setelah perjalanan panjang, di depan kandangnya akhirnya Andalas langsung bisa dilihat, diambil gambarnya oleh semua wartawan yang ikut konvoi dari Bandara Soekarno-Hatta ke TNWK di Lampung.

Menurut dia, mungkin saja sekarang kurang antisipatif menghadapi semua kejadian itu.

"Seharusnya bisalah terbuka, badak adalah domain publik, wajar semua orang ingin tahu. Tidak perlu dieksklusifkan. Badak Sumatera milik dunia, jadi milik semua penghuni bumi," kata Marcellus lagi.

Dia menyatakan, seharusnya bisa diatur, misalnya jauh-jauh hari media massa dan wartawan sudah didaftar dan siap diundang.

Lalu ketika hari H terjadi, beberapa jam sesudahnya semua bisa diundang ke lokasi walau belum bisa lihat badaknya tapi bisa datang ke SRS karena di sana ada ruang cukup.

"Wartawan `kan cepat. Dan bisa wawancara di sana sambil menyaksikan video kelahiran. Ratu dan anaknya jelas belum bisa dilihat langsung, tapi foto dan video bisa dibuat pengelola dan dibagikan. Seluruh dunia lihat dalam waktu tidak terlalu lama," ujar dia.

Marcellus mengatakan, di SRS TNWK itu tersedia jaringan internet dan penguat sinyal GSM, sehingga saat itu juga berita dan foto sudah dilihat dibaca, ditonton dan dilihat dunia menjadikan Way Kambas dan Indonesia terkenal di dunia.

"Kan sesuai dengan Tahun Badak International 2012," kata dia.

Namun, karena dinilai tidak diantisipasi sebelumnya, menurut Marcellus, terjadi seperti kemarin, wartawan Metro TV yang datang jauh-jauh ke lokasi, justru dilarang masuk gerbang TNWK.

Padahal menurut dia, hal itu tidak perlu terjadi.

Kendati begitu, menurut Marcellus yang pernah bergabung di Yayasan Badak Indonesia (YABI) hingga tahun 2009, bagaimana pun sekali lagi kita perlu memberi selamat kepada pengelola SRS terutama para perawat badak yang pasti telah menunggui siang malam, atas kelahiran bayi badak, anak Ratu yang fenomenal ini.

"Semoga segera terjadi konsolidasi semua pekerja dan pendukung konservasi badak Sumatera di penjuru dunia, dengan komitmen penuh untuk mencari jalan keluar yang terbaik bagi badak-badak Sumatera di penangkaran," ujar dia lagi.

Peneliti badak yang sejak tahun 2010 aktif di ALeRT (Aliansi Lestari Rimba Terpadu) kerja sama dengan PEH Balai TNWK Lampung itu berharap, semoga Ratu dan bayinya, Andatu, dan semua badak Sumatera di penangkaran tetap sehat, dan yang di alam lebih serius dilindungi dengan cara-cara yang benar.

"Andatu" menjadi simbol keberhasilan atau keberlanjutan konservasi badak Sumatera di dunia ini, semoga terus tumbuh sehat dan menjadi badak dewasa yang siap membuahi untuk membiakkan anak keturunannya lagi, sehingga tidak sampai terjadi kepunahan spesies badak langka ini. (B014/Z002)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga