Kamis, 18 Desember 2014

Keindahan dan pengorbanan dalam "The Flowers of War"

| 8.445 Views
id the flowers war, film zhang yimou, christian bale, film baru zhang yimou
Keindahan dan pengorbanan dalam
Film "The Flowers of War" diputar di China sejak 16 Desember 2011 dan di Indonesia mulai 27 Juni 2012 (www.imdb.com)
Pesan utama dari cerita ini adalah bagaimana semangat kemanusiaan ditampilkan pada masa perang.
Jakarta (ANTARA News) - Ahli strategi militer China, Sun Tzu, dalam bukunya The Art of War mengatakan bahwa hanya orang yang benar-benar memahami dampak buruk suatu perang yang juga tahu keuntungan perang tersebut.

Namun bagi pihak yang tidak terlibat langsung seperti perempuan dan anak-anak, perang akhirnya hanya membawa kedukaan karena harus kehilangan tempat tinggal, kesempatan bermain dan bersekolah, orang-orang terkasih dan bahkan diri mereka sendiri.

Film "The Flowers of War" karya sutradara Zhang Yimou, yang sebelumnya membuat "Hero" dan "House of Flying Daggers", menceritakan sebagian duka perang itu.

Dalam film berdurasi 146 menit itu, Zhang Yimou bertutur tentang kesusahan dan pengorbanan perempuan dan anak-anak di Kota Nanjing yang pada 1937 menjadi medan perang utama antara tentara China dan Jepang.

"Cinta dan pengorbanan adalah hal yang benar-benar abadi, tidak peduli perang atau bencana atau apa pun yang terjadi. Tapi pesan utama dari cerita ini adalah bagaimana semangat kemanusiaan ditampilkan pada masa perang," kata sutradara dan produser film kelahiran tahun 1951 itu.

Film yang menghabiskan dana hingga 94 juta dolar AS tersebut merupakan adaptasi dari novel "13 Flowers of Nanjing" karya Geling Yan.

Sang penulis novel mendapat inspirasi cerita dari kejadian nyata mengenai beberapa perempuan penghibur di Nanjing, yang bersedia menggantikan sejumlah mahasiswi yang diminta untuk "menemani" tentara Jepang.

"Saya sangat menyukai novel itu karena merupakan cerita kemanusiaan, suatu cerita yang dilihat dari sudut pandang perempuan, itulah keunikannya. Dan saya sangat ingin menerjemahkannya ke dalam film," ungkap Yimou.


Pengorbanan

Cerita dimulai saat seorang pria asal Amerika Serikat bernama John Miller, yang diperankan oleh Christian Bale (pemenang Academy Award dalam film "The Fighter"), datang ke Nanjing untuk memakamkan seorang pastor Katolik di suatu gereja.

Awalnya ia datang hanya untuk mencari uang dari keahliannya mendandani mayat, namun ia malah menemukan 14 siswi biara yang bersembunyi dalam gereja bersama George (Huang Tianyuan), seorang remaja yang menjadi asisten pendeta dan diminta menjaga para siswi.

Para siswi remaja itu ketakutan bila suatu saat tentara Jepang menyerbu masuk ke gereja dan akan memperkosa mereka, karena saat itu kota Nanjing sedang dibumihanguskan oleh Jepang dan tentara Jepang mencari perempuan atau anak-anak untuk melampiaskan nafsu mereka.

John yang suka mabuk itu kemudian menyamar sebagai pastor di hadapan para siswi.

Namun ia jadi bingung karena 15 perempuan penghibur dari rumah bordil di "distrik merah" Nanjing datang ke gereja untuk mencari perlindungan, bahkan meminta John mengantar mereka keluar dari Nanjing dengan imbalan yang menarik.

Para siswi yang dipimpin oleh Shu (Zhang Xinyi) tidak menyukai kehadiran para perempuan penghibur yang menurut mereka membuat gereja kotor. Tapi pemimpin perempuan penghibur itu, Yu Mo (Ni Ni), berupaya agar teman-temannya menjaga sikap selama menumpang di gereja.

Sayang saat mereka mengira gereja sebagai tempat yang aman, tentara Jepang malah mendobrak masuk dan mengejar-ngejar para siswi untuk melampiaskan nafsu mereka, apalagi karena mereka dianggap masih perawan.

Di luar dugaan Shu mau mengalihkan perhatian tentara Jepang dari ruang bawah tanah yang menjadi tempat persembunyian sementara para perempuan penghibur akhirnya berlarian di dalam gereja untuk menghindari kejaran tentara Jepang.

John yang tadinya hanya bersembunyi di kamar berhasil mengumpulkan keberanian dan membawa bendera palang merah besar serta meneriakkan bahwa gereja adalah rumah Tuhan dan tidak pantas tentara Jepang menyerbu ke sana, namun tidak diindahkan oleh tentara Jepang.

Untungnya John mendapat bantuan dari seorang penembak jitu China, Mayor Li, yang diperankan oleh Tong Dawei, aktor yang pernah bermain di film "Red Cliff".

Mereka berdua berusaha menjebak tentara-tentara Jepang itu di luar gereja sehingga para siswi dan perempuan penghibur bisa selamat, meski dua siswi akhirnya tewas.

Ternyata usaha itu pun tak membuat gereja aman, karena seorang perwira Jepang, Kolonel Hasegawa (Atsuro Watabe) mendatangi gereja dan meminta para siswi untuk bernyanyi.

Awalnya Hasegawa berbaik hati memberikan cadangan makanan namun kemudian ia meminta para siswi datang ke markas Jepang untuk merayakan kemenangan mereka di Nanjing.

John menolak dengan alasan keselamatan para siswi, tapi Hasegawa berkeras bahwa permintaan itu adalah perintah atasannya, yang bahkan menempatkan tentara menjaga kompleks biara agar para siswi tidak kabur.

John berupaya untuk mencari cara agar mereka dapat kabur dengan bantuan ayah Shu, Mr. Meng (Cao Kefan), yang menjadi antek tentara Jepang demi menyelamatkan anaknya guna mendapatkan surat izin keluar kota sambil memperbaiki truk yang ada di gereja.

Para siswi yang dipimpin oleh Shu sudah pesimistis dan ingin bunuh diri walau akhirnya berhasil dicegah oleh John, Yu Mo dan perempuan penghibur lainnya.

Yu Mo berhasil meyakinkan Shu dan kawan-kawan bahwa Yu dan perempuan penghibur lain bersedia bertukar peran untuk datang ke markas Jepang, meski ide itu mendapat tantangan dari rekan-rekan Yu.


Tak hanya kemuraman

Meski berkisah tentang perang dan pengorbanan namun film drama itu tak hanya menampilkan kemuraman.

Nuansa indah juga hadir dari pesona para perempuan penghibur yang tetap tampak cantik meski dalam suasana perang.

Meski lontaran pedas sering keluar dari mulut para perempuan penghibur, namun wajah mereka tetap disapu bedak dan dipoles gincu merah lengkap dengan rambut yang ditata menarik serta pakaian indah dengan asesoris serasi.

Nuansa indah juga hadir dari keberhasilan para pelakon yang berhasil memainkan karakter-karakter yang bersedia berkorban demi sesama dalam keadaan sangat sulit.

Seperti film Zhang Yimou lainnya, gambar dalam film ini juga indah dengan dukungan kerja Zhao Xiaoding sebagai Director of Photography. Zhao Xiaoding juga bekerja bersama Zhang Yimou dalam film "Hero", "Curse of the Golden Flower" maupun "House of Flying Daggers."

Dan mungkin keindahan film dengan tiga bahasa (Inggris, China, dan Jepang) itu ikut membawanya masuk nominasi berbagai ajang penghargaan.

Film produksi studio Beijing New Picture Film Co. Limited itu masuk nominasi untuk Best Foreign Language Film dalam Academy Award ke-84 serta Golden Globe Award.

(D017)

Editor: Maryati

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga