Jakarta (ANTARA News) - Data terakhir Kementerian Kesehatan menunjukkan sebanyak 16 juta atau 4,6 persen dari penduduk Indonesia mengalami ketulian.

Data tersebut disampaikan oleh Dokter spesialis telinga hidung dan tenggorokan dari Komisi Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (PGPKT), Dr. Damayanti Soetjipto, SpTHT (K), di Jakarta, Jumat.

Ia juga menyebutkan, berdasarkan data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia berada di posisi ke empat sebagai negara dengan penderita ketulian terbanyak di Asia.

"Kita adalah negara yang berada di posisi keempat setelah Srilanka, Myanmar dan India," ujarnya.

Ia menjelaskan masalah ketulian terjadi pada negara-negara yang sudah mengalami kemajuan pada bidang teknologi.

"Mendengarkan musik keras-keras, polusi suara, serta bisingnya suara tempat permainan anak di mal, dapat berpotensi menyebabkan ketulian," katanya.

Ia menjelaskan besaran bising yang terdapat di tempat permainan anak di mal mencapai 97 desibel, sedangkan pada konser musik mencapai lebih dari 100 desibel.

"Sementara itu, batas bising yang dapat diterima telinga selama 24 jam adalah 80 desibel, itu pun biasanya seseorang dianjurkan untuk menggunakan alat pelindung telinga," ujar Damayanti.

 (M048)