Jakarta  (ANTARA) -Pemandangan alam Iran terlihat gersang dan dikelilingi gunung bebatuan dari atas pesawat yang akan mendarat di Teheran. Namun ternyata ibu kota Iran itu menyimpan kejutan bagi para pendatang.

Teheran merupakan kota dengan peradaban yang sangat tua dan budaya yang kaya. Menurut salah satu versi sejarah, kota ini pertama kali didirikan oleh raja pertama Iran, Houshang, pada tahun 4000 SM.

Di abad modern ini, Teheran dikenal sebagai kota yang memiliki sejumlah museum menarik, taman-taman cantik, dan beberapa makam tokoh Muslim yang dianggap suci. Jalan-jalan di Teheran mengingatkan orang akan kota San Fransisco di AS karena sama-sama naik turun. Teheran memiliki jalan layang dan jalan tol yang sangat luas dan mulus.

Jumlah penduduknya bisa mencapai 12 hingga 13 juta pada jam-jam kerja. Namun, bila pekerja atau pendatang dari kota sekitarnya tidak dihitung, Teheran dihuni oleh sekitar delapan juta orang, yang pada umumnya enak dipandang karena pada umumnya mereka sangat cantik dan ganteng.

Dubes Indonesia untuk Iran Dian Wirengjurit menjelaskan Teheran merupakan kota yang cantik dan memiliki sekitar 800 taman dari yang kecil hingga besar.

"Teheran itu sangat cantik dan punya banyak taman", ujar Dubes Dian kepada wartawati dari ANTARA dan Republika di Teheran baru-baru ini.

Cintai keluarga

Menurut Iman Rappetti, wartawati dari Afrika Selatan, rakyat Iran cinta pada keluarga. Karena itu mereka membangun banyak taman sebagai tempat mereka bercengkerama dan bersantai.

"Mereka mempunyai taman-taman yang indah, karena mereka mencintai keluarga", ujar Iman, yang pernah belajar agama di Qom dan Teheran selama sekitar dua tahun.

Hal itu dibenarkan oleh Ali Rahmani, seorang pegawai negeri Iran, yang mengaku dia dan keluarga berekreasi di taman setiap hari Jum'at, dengan membawa makanan dan minuman.

Taman-taman di Teheran antara lain Saei Park, Gheytarieh Park, Jahan-e Kudak Park, Shatranj Park, Park-e Shahr (Taman Kota), Lavizan Forest Park, dan Varjeen Protected Natural Habitat.

Taman Saei yang dirancang oleh insinyur Karim Saei sekitar 92 tahun lalu adalah sebuah taman yang sangat besar dan indah. Taman ini dilengkapi dengan beberapa jenis binatang seperti burung merak berwarna biru keunguan dan putih, kalkun, kura-kura, penyu,beberapa jenis burung dan ayam.

Di sana-sini tampak beberapa keluarga yang duduk di rumput sambil makan dan minum, sementara anak-anak mereka bermain sambil berlarian.

Di taman yang terletak di jalan Raya Valiasr, tengah kota Teheran itu, cukup banyak pula pasangan sejoli, baik yang sudah berstatus suami isteri, tunangan atau berteman, yang menikmati pepohonan hijau sambil bersantai di taman ini.

Khalil Muhammadian, kakek yang berusia lebih dari 70 tahun, mengatakan dia sering datang bersama cucunya ke taman yang indah ini. Sebagaimana pada umumnya pria Iran lainnya, Khalil cukup ramah dan menawarkan kepada wartawati dari Pakistan dan Indonesia untuk makan dan minum bersama dirinya yang datang berekreasi bersama calon isiterinya dan seorang cucu lelaki.

"Mudah-mudahan kami akan menikah dua atau tiga bulan lagi," ujar kakek yang bersemangat memperkenalkan pasangannya yang usianya jauh lebih muda darinya itu.

Walau tawaran makanan kakek tersebut sudah ditolak dengan halus, kakek ini tetap bersikeras mengutus calon isterinya untuk menyodorkan permen berbumbu khas Iran kepada wartawati Pakistan dan Indonesia.

Di dekat taman tersebut terdapat beberapa hotel berbintang empat yang menjadi langganan tamu pemerintah Iran maupun KBRI karena letaknya memang tak jauh dari KBRI, atau sekitar 20 menit jalan kaki.

Imrani, wartawati dari Pakistan, mengaku bahwa baginya, taman Saei merupakan taman yang paling indah yang pernah dia kunjungi sejauh ini.

"Taman yang terbaik yang pernah saya lihat sejauh ini. Saya suka karena alamnya indah dan ada hewan-hewannya," katanya.

Park-e Shahr atau Taman Kota, merupakan taman tertua di Teheran, dan dikenal pula sebagai taman untuk orang-orang tua atau para pensiunan bersantai.

Memang taman seluas 26 hektare ini banyak dikunjungi oleh orang-orang berusia sangat lanjut, khususnya para kakek, hanya sedikit tampak pasangan kakek-nenek yang terlihat di taman ini, ketika rombongan wartawan asing berkunjung ke Museum Perdamaian yang terletak di bagian depan taman tersebut.

Para kakek ini ada yang duduk sendirian dan ada pula yang bergerombol sambil mengobrol. Taman ini dilengkapi dengan kolam ikan dan beberapa jenis burung.

Tempat hijau dan sejuk lainnya yang juga menjadi favorit keluarga Iran untuk berekreasi adalah Komplek Kebudayaan dan Sejarah Saadabad, yang dulu merupakan komplek istana Reza Shah Pahlevi mau pun dinasti sebelumnya.

Komplek istana ini luasnya 110 hektare dan terletak di kaki bukit Tochal dan Darband yang selalu asri, hijau dan sejuk termasuk di musim panas dengan suhu yang mencapai lebih dari 45 derajat C pada awal Juli ini.

Pada zaman dinasti Qajar (1794-1925), tempat ini digunakan sebagai istana musim panas bagi keluarga kerajaan. Dan setelah kudeta pada 1921 oleh Pahlevi, tempat ini diperluas dengan tambahan beberapa taman baru, dan menjadi tempat tinggal musim panas bagi raja-raja dinasi Pahlevi (1925-1979), Shah Reza, Mohammad Reza Shah, dan keluarga mereka.

Setidaknya 18 istana, baik yang kecil maupun yang besar, dibangun pada era Pahlevi. Sejak Revolusi 1979, komplek istana ini diubah menjadi museum, antara lain Museum Taman, Museum Istana Mellat, Museum Istana Hijau dan Museum Seni.

Dengan kerja keras, tekad dan kecintaan pada keluarga dan warga Teheran pada umumnya, pemerintah Iran berhasil menyulap tanah gersang dan gunung bebatuan menjadi kota yang maju dan memiliki banyak taman indah, sehingga menjadikan kota Teheran ramah pada penduduk dan lingkungannya. *
 (T. F001/ b/a011 )