Kamis, 28 Agustus 2014

Profil singkat kontingen Indonesia

Selasa, 24 Juli 2012 22:14 WIB | 8.133 Views
London (ANTARA News) - Indonesia mengirimkan 22 atlet dari delapan cabang olahraga pada Olimpiade 2012 yang akan berlangsung di London, Inggris, mulai 27 Juli hingga 12 Agustus.

Taufik Hidayat adalah atlet tertua sekaligus paling berpengalaman. Peraih medali emas Olimpiade Athena 2004 tersebut akan mengikuti Olimpiade keempatnya setelah tidak pernah absen sejak pertama kali berlaga di Sydney Australia pada tahun 2000.

Sementara itu, atlet menembak Diaz Kusumawardhani menjadi atlet termuda dengan usianya yang belum genap 17 tahun saat berlaga pada Olimpiade pertamanya itu.

Atlet judo Putu Wiradamungga menjadi atlet terakhir yang mendapat tempat di Olimpiade setelah dinyatakan lolos hanya sepekan sebelum Olimpiade resmi dibuka.

Berikut ini profil singkat atlet-atlet Indonesia yang akan berlaga di London:

Anggar

Nama: Diah Permatasari
Tempat dan tanggal lahir: Probolinggo, 5 Mei 1990
Nomor: sable

Setelah tercatat pernah mewakili Indonesia pada Olimpiade Melbourne 1956 dan Roma 1960, cabang anggar kembali memperkuat Merah Putih di ajang olahraga terakbar sedunia tersebut.

Adalah peraih medali emas SEA Games 2011 pada nomor begeru, Diah Permatasari yang akan menjadi satu-satunya atlet anggar Indonesia yang akan berlaga di Excel London yang dijadwalkan dimulai 28 Juli.

Diah Permatasari lolos ke Olimpiade setelah meraih tempat ketiga (perunggu) pada babak kualifikasi zona Asia yang berlangsung di Wakayama, Jepang, 19--20 April lalu.

Olimpiade London bagi Diah yang juga berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil itu adalah Olimpiade pertamanya.

Angkat Besi

Nama: Jadi Setiadi
Tempat dan tanggal lahir: Lampung, 2 Februari 1985
Kelas: 56 kg

Pada Olimpiade pertamanya ini, Jadi Setiadi ingin memperbaiki kegagalannya mempertahankan medali emas SEA Games yang diraihnya di Laos pada 2009.

Peraih medali emas pada kelas 56 kg itu hanya berhasil menyumbang medali perak pada SEA Games Palembang 2011 lalu, begitu pula pada Asian Games di Guangzhou setahun sebelumnya.

Bersama empat lifter putra lainnya, Jadi diharapkan dapat menyumbang medali, minimal perungu, bagi kontingen Indonesia yang diperkuat 22 atlet dari delapan cabang olahraga tersebut.

Meski demikian, perjalanannya menuju podium diperkirakan tidak akan mudah karena ia akan menghadapi lawan-lawan berat terutama dari China dan Kazakhstan, yang menurut Ketua Koordinator Cabang Terukur Satlak Prima Hadi Wihardja, banyak diperkuat atlet-atlet asal China.

Keberhasilannya meraih medali perunggu pada kejuaraan Asia di Korea April lalu, diharapkan dapat meningkatkan percaya diri atlet asal Lampung tersebut.

Nama: Deni
Tanggal lahir: 26 Juli 1989
Kelas: 69 kg

Keberhasilannya meraih medali emas pada Universiade di China tahun lalu membuat nama Deni diperhitungkan di ajang angkat besi kelas 69 kg.

Lifter berusia 23 tahun itu berhasil membukukan total angkatan 321 kg untuk menyisihkan lawan-lawannya di China.

Namun, keberhasilannya itu tidak dapat diulangnya saat membela Merah Putih pada pesta olahraga negara-negara Asia Tenggara di Palembang akhir tahun lalu, ketika ia hanya mencatat total angkatan 310 kg dan harus puas dengan medali perak.

Meski demikian, pada seleksi nasional untuk menentukan lifter yang akan berangkat ke London, Deni mencatat hasil terbaiknya dengan total angkatan 322 kg sehingga ia berhak mendampingi Triyatno, peraih medali perunggu Olimpiade Beijing 2008.

Bersama Triyatno, Deni akan turun di kelas 69 kg, yang diharapkan dapat menyumbang setidaknya satu medali perunggu saat berlaga di London pada tanggal 31 Juli mendatang.

Nama: Triyatno
Tempat dan tanggal lahir: Lampung, 20 Desember 1987
Kelas: 69 kg

Bagi Triyatno, ajang Olimpiade mempunyai kesan tersendiri karena dia berhasil menyumbang satu medali pada penampilan perdananya di pesta olahraga empat tahunan tersebut di Beijing empat tahun lalu.

Pria asal Lampung tersebut menyumbang satu dari tiga medali perunggu yang diperoleh Indonesia pada Olimpiade Beijing, melalui kelas 62 kg yang diikutinya, sehingga Indonesia membawa pulang satu emas, satu perak dan tiga perunggu.

Di London, peraih emas PON XVII Kalimantan Timur (Kaltim) yang pernah memecahkan tiga rekor nasional itu juga diharapkan sebagai pendulang medali bagi kontingen Merah Putih yang terdiri atas 21 atlet.

Namun, selain bersaing dengan peserta dari negara lain, pria yang akrab disapa Tri, peraih medali emas SEA Games 2007 itu, juga akan berkompetisi dengan rekan senegaranya sendiri, Deni, yang akan turun pada kelas yang sama 69 kg.

Untuk memenuhi harapan tersebut, Tri bersama sejumlah lifter lainnya yang akan berlaga di London pada 31 Juli itu berlatih di Korea menjelang keberangkatannya ke ibukota Inggris Raya tersebut.

Nama: Eko Yuli Irawan
Tempat dan tanggal lahir: Lampung, 24 Juli 1989
Kelas: 62 kg

Karir cemerlang Eko Yuli Irawan dimulai ketika ia berhasil meraih medali perak pada Kejuaraan Dunia Junior 2006 yang ditingkatkan menjadi medali emas dan dinobatkan sebagai lifter terbaik pada Kejuaraan Dunia Junior di Praha, Ceko setahun kemudian.

Namun pada Kejuaraan Dunia pada tahun yang sama, atlet kelahiran 24 Juli 1989 itu menempati peringkat delapan (2006) dan meraih medali perunggu pada tahun berikutnya.

Keberhasilan itu berlanjut dengan menyumbang medali emas SEA Games Thailand 2007, dan merebut medali perak pada Kejuaraan Dunia 2009.

Olimpiade London 2012, akan menjadi Olimpiade kedua bagi Eko, setelah berhasil menyumbang medali perunggu bagi Indonesia pada Olimpiade pertamanya di Beijing empat tahun lalu.

Di London, dia juga diharapkan dapat menyumbang medali bagi Merah Putih, setidaknya mengulang raihannya di Beijing.

Nama: Muhammad Hasbi
Tempat tanggal lahir: Jakarta, 12 Juli 1992
Nomor: 62 kg

Atlet angkat besi berusia 20 tahun ini mulai mencuri perhatian publik pada SEA Games 2011 ketika ia meraih medali perak di kelas 62 kg putra. Saat itu, Hasbi yang membuat total angkatan 283 kg, kalah dari seniornya Eko Yuli Irawan yang menghasilkan total angkatan 302 kg.

Pada Kejuaraan Asia yang digelar di Pyeongtaek, Korea, April lalu, Hasbi kembali naik podium dengan membukukan angkatan 297 kg dan merebut posisi kedua di bawah lifter Cina, Chen Hongqing.

Pada seleksi nasional baru-baru ini, Hasbi kembali memperbaiki rekornya dengan total angkatan 306 kg yang akhirnya meloloskannya ke Olimpiade London mendampingi Eko.

Bersama Eko, Hasbi juga menjadi salah satu lifter yang diharapkan dapat menyumbang medali bagi kontingen Indonesia, selain lifter putra lainnya yang turun di kelas 56 kg dan 69 kg.

Nama: Citra Febrianti
Tanggal lahir : 22 Februari 1988
Kelas:53kg

Citra adalah satu-satunya lifter putri Indonesia yang akan tampil di Olimpiade London, setelah menyisihkan rekannya Sinta Darmariani yang berada di kelas 69 kg.

Citra terpilih setelah unggul dari Sinta pada seleksi nasional yang diadakan PB PABBSI pada awal bulan ini dengan membukukan total angkatan 203 kg, yaitu 91 kg di snatch dan 112 kg di clean and jerk, sedangkan Sinta hanya mampu melakukan angkatan snatch namun gagal dalam clean and jerk.

Hasil angkatan pada seleksi tersebut (203kg) sama dengan angka yang dihasilkannya saat meraih medali perak SEA Games tahun lalu di Palembang, Sumatera Selatan, padahal sebelumnya, pada Kejuaraan Asia di Pyeongtaek, ia hanya membukukan total angkatan 197 kg.

Atlet angkat besi berusia 24 tahun, peraih medali perak SEA Games 2011 pada kelas 53 kg itu akan turun pada kelas yang sama di Excel London.

Di bawah bayang-bayang keberhasilan lifter putri Raema Lisa Rumbewas yang berhasil mempersembahkan medali perak pada Olimpiade Athena 2004 pada kelas yang sama, Olimpiade London tidak akan mudah bagi Citra.

Atletik

Nama: Fernando Lumain
Tanggal lahir: 18 Oktober 1989
Nomor: 100 meter putra

Fernando Lumain adalah satu dari dua wakil Indonesia pada cabang atletik Olimpiade London 2012 yang memperoleh tempat melalui fasilitas wildcard.

Atlet berusia 22 tahun yang pernah mendapat beasiswa Olympic Solidarity tersebut akan turun pada nomor bergengsi sprint 100m putra.

Ia menyisihkan lima sprinter lainnya yang dipersiapkan untuk mencapai limit B Olimpiade (10,24 detik), yakni Fadlin, Suryo Agung, Iswandi, Farrel Octaviandi dan Safwaturrahman, yang semuanya gagal.

Namun, menyadari bahwa ia akan bersaing dengan atlet-atlet kelas dunia, peraih medali emas 4x100m SEA Games 2011 yang mempunyai catatan terbaik 10,57 detik saat mengikuti India GP di Bangalore pada 2010 lalu, hanya menargetkan memperbaiki catatan waktu terbaiknya.

Nama: Triyaningsih
Tanggal lahir: 15 Mei 1987
Nomor: Maraton

Triyaningsih, akan tampil dalam Olimpiade 2012 melalui jatah wild card yang diperoleh Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI).

Pelari jarak jauh yang meraih tiga emas SEA Games 2011 melalui nomor 5.000 m, 10.000 m dan maraton itu terpilih, setelah memenangi persaingan dengan atlet lari gawang Dedeh Erawati dan pelompat jauh Maria Londa.

Atlet asal Jawa Tengah itu dinilai paling berpeluang di Olimpiade dibanding kedua rekannya itu karena mempunyai catatan waktu terbaik pada nomor maraton 2 jam 31 menit yang melebihi limit Olimpiade (2 jam 43 detik).

Catatan waktu tersebut diperolehnya saat ia berlaga pada Asian Games 2010 di Guangzhou, China.

Atlet yang sempat terganggu beberapa cedera usai mengikuti SEA Games tahun lalu itu, memasang target dapat memperbaiki catatan waktu terbaiknya tersebut saat berlaga di London pada nomor maraton putri, 5 Agustus mendatang.

Bulu Tangkis

Nama: Simon Santoso
Tanggal lahir: 29 Juli 1985
Nomor: tunggal putra

Berhasil meraih gelar pada Indonesia Terbuka Super Series Premier Juni lalu, akan meningkatkan percaya diri pemain peringkat enam dunia, Simon Santoso saat ia berlaga di Wembley Arena, London, pada tanggal 28 Juli--5 Agustus mendatang.

Apalagi pada Olimpiade pertamanya itu, ia akan menjadi salah satu tumpuan harapan kontingen Merah Putih untuk mempertahankan tradisi medali emas Olimpiade.

Meski tidak menjanjikan medali emas, Simon yang akan tampil pada nomor tunggal putra bersama peraih medali emas Olimpiade Athena, Taufik Hidayat, bertekad akan berusaha menyumbang medali bagi Indonesia.

Nama: Taufik Hidayat
Tanggal lahir: Bandung, 10 Agustus 1981
Nomor: tunggal putra

Olimpiade London akan menjadi Olimpiade terakhir bagi pebulutangkis peraih dua gelar Asian Games dan enam kali juara Indonesia Terbuka, Taufik Hidayat, yang tidak pernah absen sejak Olimpiade Sydney 2000.

Untuk keempat kalinya Taufik akan berlaga di ajang olahraga paling bergengsi sejagat raya itu, setelah berhasil mempertahankan tradisi medali emas di Olimpiade Athena 2004 dengan mengalahkan Shon Seung-Mo asal Korea dengan skor 15-8, 15-7.

Juara dunia 2005 ini juga tampil di Olimpiade Beijing 2008 meskipun tidak membuahkan hasil yang memuaskan setelah tersisih di babak awal.

Taufik kembali menjadi andalan Indonesia di Olimpiade London bersama pemain peringkat enam dunia Simon Santoso setelah dinyatakan lolos oleh Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) dengan menempati peringkat ke-12 dunia.

Dalam kontingen Indonesia yang terdiri atas 21 atlet, Taufik akan menjadi atlet paling senior sekaligun paling berpengalaman dalam Olimpiade.

Nama: Adrianti Firdasari
Tempat tanggal lahir: Jakarta, 16 Desember 1986
Nomor: tunggal putri

Dipilihnya Firdasari, saat ini peringkat 64 dunia, untuk mewakili Indonesia di Olilmpiade sempat menimbulkan kekecewaan bagi rekannya di Pelatnas Maria Febe Kusumastuti yang kala itu peringkatnya lebih tinggi, karena dinilai tidak adil.

Apalagi setelah dia menderita cedera kaki saat bertanding di depan publik sendiri di Indonesia Terbuka Super Series Premier bulan lalu, Firdasari semakin diragukan dapat tampil dengan baik di Olimpiade London.

Namun, semua itu tidak mempengaruhi mental atlet yang menghuni Pelatnas sejak sepuluh tahun lalu. Ia terus melakukan persiapan agar dapat tampil maksimal di Wembley Arena.

Pada Olimpiade pertamanya itu, Firdasari ingin mempersembahkan medali, seperti yang dihasilkan pendahulunya Maria Kristin Yulianti yang meraih perunggu di Beijing 2008.

Nomor: ganda putra

Nama: Bona Septano dan Mohammad Ahsan
Tempat tanggal lahir Bona : Medan, 22 September 1987
Tempat tanggal lahir Ahsan : Palembang, 9 Juli 1987

Bagi pasangan juara SEA Games 2011 yang menempati peringkat enam dunia ini, London akan menjadi Olimpiade pertama mereka.

Menjadi satu-satunya wakil ganda putra Indonesia, perjuangan mereka di London tidak lah mudah, apalagi sektor ganda putra dihuni pasangan-pasangan yang mempunyai kekuatan relatif merata.

Meski demikian, pasangan juara Indonesia Terbuka GP Gold dan runner-up Jepang Super Series 2011 tersebut bertekad menorehkan prestasi terbaik di London, apalagi sektor ganda mempunyai sejarah paling sering menyumbangkan medali emas Olimpiade.

Ganda putra Indonesia tercatat menyumbang tiga dari total enam medali emas Olimpiade yang diraih Indonesia, sejak pasangan Ricky Subagja-Rexy Mainaky di Atlanta 1996, diikuti pasangan Tony Gunawan-Candra Wijaya di Sydney 2000 dan terakhir Markis Kido-Hendra Setiawan di Beijing empat tahun lalu.

Pelatih mereka pun, Herry Iman Pierngadi mengatakan, pasangan tersebut sedang dalam kondisi prima dan diharapkan dapat membuat kejutan saat berlaga di Wembley Arena pada 28 Agustus hingga 5 Agustus.

Nomor: ganda putri

Nama: Meiliana Jauhari dan Greysia Polii
Tempat tanggal lahir Meiliana : Jakarta, 7 Mei 1984
Tempat tanggal lahir Greysia : Jakarta, 11 Agustus 1987

Olimpiade London akan menjadi penampilan perdana pasangan ganda putri Meiliana Jauhari dan Greysia Polii di ajang tertinggi olahraga dunia itu.

Pasangan peringkat 12 dunia tersebut menjadi satu-satunya wakil Indonesia pada nomor ganda putri.

Keberhasilan mencapai semifinal pada dua turnamen berturut-turut, Indonesia Terbuka Super Series Premier dan Singapura Super Series, menjadi bekal pasangan yang berduet sejak 2010 tersebut untuk berkompetisi di London.

Greysia yang sempat menderita cedera bahu juga dipastikan sudah tidak terganggu oleh cederanya. Menurut pelatihnya paulus Firman, cedera yang diderita Greysia sudah sembuh total.

Pasangan yang menurut Paulus sudah siap menghadapi kompetisi di London itu, diharapkan dapat merebut medali "apa saja di Wembley Arena.

Nomor: ganda campuran

Nama: Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir
Tempat tanggal lahir Tontowi: Banyumas, 18 Juli 1987
Tempat tanggal lahir Liliyana: Manado, 9 September 1985

Olimpiade London akan menjadi Olimpiade kedua bagi Liliyana Natsir yang di Beijing 2008 berhasil mempersembahkan medali perak bagi Indonesia bersama pasangannya terdahulu Nova Widianto.

Kali ini, bersama pasangan barunya yang ia gandeng sejak menjelang Asian Games 2010, Tontowi Ahmad, Liliyana bertekad memperbaiki hasil yang diraihnya tersebut sekaligus berusaha mempertahankan tradisi medali emas.

Meskipun bagi Tontowi, kali ini adalah Olimpiade pertamanya, namun keberhasilan meraih juara All England bersama Liliyana akan meningkatkan percaya dirinya untuk meraih prestasi terbaik di London.

Tidak lama setelah dipasangkan, Tontowi-Liliyana langsung menggebrak di sektor ganda campuran dengan merebut gelar Makau Terbuka, runner-up di Taiwan dan juara di Indonesia Terbuka, yang ketiganya kelas GP Gold. Mereka semakin diperhitungkan setelah berhasil meraih gelar bergengsi All England pada Maret lalu.

Berbekal prestasi gemilang dengan meraih tiga gelar beruntun di All England, Swiss dan India Terbuka pada tahun ini, pasangan peringkat empat dunia tersebut menjadi tumpuan harapan untuk mengibarkan Merah Putih dan mengumandangkan Indonesia Raya di Wembley Arena.

Judo

I Putu Wiradamungga Adesta
Tempat tanggal lahir: Bagli, 2 Desember 1991
Kelas: -81 kg

Bisa tampil di Olimpiade London merupakan keberuntungan bagi atlet asal Bali ini, karena semula sudah dinyatakan tidak lolos kualifikasi saat kalah oleh pejudo Iran.

Dan karena pejudo Iran mengundurkan diri pula, Putu yang belum banyak mencatat prestasi bisa berangkat ke London setelah dinyatakan mendapat tempat hanya sepekan sebelum Olimpiade resmi dibuka pada 27 Juli.

Atlet berusia 20 tahun itu pernah membela Indonesia pada kejuaraan Asia di Abu Dhabi dan SEA Games 2011, namun ia belum menghasilkan prestasi yang memuaskan.

Karenanya ia tidak memasang target muluk-muluk di London. Atlet yang sedang menyiapkan diri menghadapi PON di Riau itu, justru memasang target berprestasi di PON dan SEA Games Myanmar tahun depan.

Menembak


Diaz Kusumawardhani
Tempat dan tanggal lahir: Surabaya, 2 November 1995
Nomor: 10 meter air rifle

Diaz adalah atlet termuda dalam kontingen Indonesia yang terdiri atas 22 atlet tersebut, saat ini usianya belum genap 17 tahun.

Gadis pelajar SMA itu mendapat kesempatan untuk mengikuti Olimpiade London setelah Federasi Olahraga Menembak Internasional (ISSF) memberi Indonesia satu "unused quota place" untuk nomor 10 meter air rifle putri.

Kesempatan itu diberikan kepada atlet yang masih dalam kategori pratama tersebut setelah ia mencatat hasil yang cukup baik, masuk 20 peringkat teratas ketika mengikuti Kejuaraan Asia di Qatar awal tahun ini dengan menorehkan skor 388 poin yang diulanginya saat mengikuti kejuaraan nasional.

Menyadari usianya yang sangat belia dan masih perlu menimba pengalaman, Perbakin tidak membebaninya dengan target muluk-muluk. Pelajar SMA 2 Sidoarjo itu diharapkan dapat tampil tanpa beban dan memperoleh hasil bagus yang dapat menjadi modal untuk Olimpiade Brazil 2016.

Soal itu, Diaz mempunyai target pribadi, ingin memperbaiki skor yang dihasilkannya di Qatar.

Panahan

Nama: Ika Yuliana
Tanggal lahir: 2 Juli 1989
Kelas: recurve individual

Cabang panahan mempunyai sejarah panjang dalam kiprahnya pada pesta olahraga terbesar sedunia, Olimpiade.

Setidaknya sejak 1972 panahan tidak pernah absen memperkuat kontingen Indonesia hingga berhasil menyumbang medali pertama di Olimpiade Seoul 1988 yang diraih tiga srikandi Lilis Handayani, Nurfitriyana dan Kusuma Wardhani.

Pada Olimpiade London 2012 ini, panahan kembali memperkuat Merah Putih dengan meloloskan satu atlet putri Ika Yuliana Rochmawati yang akan turun pada nomor recurve individual.

Atlet asal Jawa Timur itu memperoleh tiket ke London setelah meraih gelar juara pada Kejuaraan Asia yang berlangsung di Teheran, Iran, pada tanggal 18--25 oktober 2011.

London akan menjadi Olimpiade kedua bagi Ika setelah empat tahun lalu ia juga berlaga di Beijing

Renang

Nama: I Gede Siman Sudartawa
Tempat tanggal lahir : Bali, 8 September 1994
Nomor: 100m gaya punggung

Bermodalkan empat medali emas yang diperolehnya pada SEA Games 2011 di Palembang Sumatera Selatan, perenang berusia 17 tahun ini akan mengikuti Olimpiade pertamanya di London 2012.

Perenang spesialis gaya punggung yang memecahkan rekor SEA Games untuk nomor 100 m gaya punggung putra dengan catatan waktu 55,59 detik (sebelumnya dipegang atlet Malaysia Lim Keng Liat sejak SEA Games Kuala Lumpur 2001 dengan waktu 56,16 detik), itu akan tampil pada nomor andalanya tersebut.

Ia dinyatakan berhak mewakili Indonesia di Olimpiade London setelah lolos Olympic selection test oleh federasi internasional renang (FINA). Dia menjadi salah satu dari lima wakil Asia Tenggara yang akan tampil di London.

Penampilan terbaik atlet yang memecahkan rekor SEA Games 100 m gaya punggung putra dan 4x100 m gaya ganti beregu putra itu, kembali diulangi di ASEAN School Games di Surabaya Juni lalu yang menjadi ajang pemanasannya sebelum London.

(F005/D007)

Editor: Suryanto

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga