Sidoarjo (ANTARA News) - Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, Sharif Cicip Sutardjo mengajak para taruna perikanan dan juga masyarakat untuk mempraktikkan "blue economy" demi menjaga lingkungan di dalam laut.

"Industrialisasi kelautan dan perikanan dilandasi `blue economy` dengan meninggalkan praktik ekonomi yang mementingkan keuntungan jangka pendek dan telah mewariskan berbagai permasalahan yang mendesak untuk ditangani," katanya saat melakukan kuliah terbuka di Akademi Perikanan Kabupaten Sidoarjo, Rabu.

Ia mengatakan, Indonesia negara pulau terbesar dan garis pantai terpanjang kedua setelah Kanada. Atas kelebihan itulah, bangsa Indonesia bisa melihat potensi yang besar mandiri dan maju dalam bidang perekonomian.

Ia mengatakan, dengan adanya potensi kelautan yang ada diharapkan bisa meningkatkan potensi ekonomi kepada masyarakat.

"Saat ini telah menjadi tumpuan karena di laut yang pertama bisa digunakan sebagai sarana transportasi dan yang kedua bisa dimanfaatkan terumbu karang dan juga manfaat laut yang lain bisa digunakan sebagai bahan farmasi, pengobatan dan juga untuk kosmetik," katanya.

Menurutnya, atas peran strategis tersebut diharapkan sektor laut akan memberikan kontrubusi pendapatan kepada negara sebesar Rp68 triliun pada 2014 atau meningkat dari tahun 2010 sekitar Rp50 triliun.

Ia berharap, industrialisasi kelautan dan perikanan merupakan proses perubahan sistem produksi hulu hilir untuk meningkatkan nilai tambah, produktivitas dan skala produksi sumberdaya kelautan dan perikanan yang disinergikan.

"Program seperti ini pada hakikatnya bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah produk kelautan dan perikanan sekaligus meningkatkan daya saing yang berbasis pada ilmu pengetahuan dan teknologi," katanya.

(KR-MSW)